Chuunibyou: Malu Membayangkan Jurus Pamungkas di Kepala? Sebenarnya Tidak Seburuk Itu

Banyak orang pernah begini waktu SMP. Habis nonton anime atau baca manga, kita membayangkan diri sendiri sebagai tokoh tertentu atau punya kekuatan khusus.

Cari anomalinya
Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar. Game pecah bata mengubah kata-kata artikel menjadi bata yang bisa Anda hancurkan.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Chuunibyou: Malu Membayangkan Jurus Pamungkas di Kepala? Sebenarnya Tidak Seburuk Itu
Gambar buatan AI
Iklan
Iklan

Kenapa adegan jurus pamungkas di kepala bisa bikin hidup lebih seru

Banyak orang pernah begini waktu SMP. Habis nonton anime atau baca manga, kita membayangkan diri sendiri sebagai tokoh tertentu atau punya kekuatan khusus.

"Aku ini Hachiman Hikigaya." "Aku ini Kirito." "Kalau serius, aku bisa pakai Gear Second." "Waktu kesal, kata 'Dismantle' terdengar di kepala." "Jalan ke sekolah itu capek, jadi aku membayangkan bisa teleportasi sekejap." "Di kepala, nama jurus seperti Infinite Void dan Domain Expansion muncul begitu saja."

Belakangan, hal seperti ini sering ditertawakan dan disebut "chuunibyou" (istilah Jepang untuk kebiasaan bertingkah atau berpikir seperti pahlawan anime waktu remaja).

Memang, dari luar bisa terlihat memalukan. Kalau diucapkan keras-keras, rasanya malu. Kadang malah jadi kenangan yang ingin dikubur.

Tapi menyebut semuanya "norak" itu sayang.

Karena adegan-adegan ala chuunibyou di kepala juga bisa membuat hari-hari biasa terasa sedikit lebih seru.

Kalau kamu masih bisa membedakan khayalan dari kenyataan, hidupmu tidak terganggu, dan khayalan itu malah membantu harimu terasa lebih menarik, itu mungkin bukan masa lalu yang memalukan. Itu mungkin pertunjukan jurus pamungkas di kepalamu sendiri.


Chuunibyou juga bisa jadi cara "mencoba menjadi diri sendiri"

Waktu SMP, kita masih mencari tahu siapa diri kita.

Ingin sama seperti teman-teman, tapi juga ingin jadi istimewa. Ingin dimengerti, tapi diam-diam senang merasa tidak ada yang paham. Ingin melihat orang dewasa dengan dingin, tapi di dalam hati ingin jadi kuat.

Di usia itu, wajar sekali kalau kita membayangkan diri seperti tokoh yang kuat, kesepian, atau tampak sudah paham segalanya.

Seperti Hachiman, kita merasa hanya kita yang melihat kebenaran. Seperti Kirito, kita membayangkan diri kuat, menyendiri, dan tidak dimengerti. Seperti Luffy, Gojo, atau Sukuna, kita membayangkan punya kekuatan yang luar biasa.

Ini bukan berarti tidak bisa membedakan kenyataan. Lebih mirip mencoba pakaian.

Seperti mencoba baju, kita memakai dulu nilai-nilai, kekuatan, dan posisi seorang tokoh.

Dari situ kita jadi tahu mana yang cocok, mana yang tidak, mana yang kita kagumi, dan mana yang nanti terasa memalukan.

Jadi chuunibyou bukan hanya soal malu. Itu juga bagian dari proses tumbuh dan membentuk jati diri di masa remaja.


Apa itu "jurus pamungkas di kepala"?

Maksudnya, perasaan mengolah emosi dan situasi sehari-hari dengan nama kekuatan, nama jurus, dan efek dari anime atau manga.

Waktu kesal, ada kata yang terdengar di kepala. Waktu capek sekali, kita berharap bisa teleportasi. Di jalan ke sekolah yang membosankan, kita membayangkan langsung sampai ke sekolah. Waktu olahraga, rasanya seperti masuk Gear Second. Waktu situasi berat, kita membayangkan "Domain Expansion" dan jadi fokus.

Bukan berarti kita sungguh-sungguh percaya bisa memakai jurus itu.

Kita hanya menaruh efek dari cerita di atas perasaan dan rasa bosan yang nyata.

Marah. Bosan. Malas. Lelah. Fokus. Kagum. Ingin kabur dari kenyataan. Menyemangati diri.

Semua perasaan ini diubah di kepala menjadi adegan jurus pamungkas.

Bisa dibilang, kita menaruh lapisan efek manga shonen di atas hidup kita.


Membuat hari yang membosankan jadi sedikit lebih seru

Misalnya, kamu harus jalan kaki 40 menit ke sekolah.

Pada umumnya, itu bikin malas.

Jalannya menanjak. Tempatnya tinggi. Masih pagi. Ngantuk. Tidak mau ke sekolah. Jaraknya jauh.

Lalu di kepala, kamu membayangkan teleportasi.

"Kalau bisa pindah sekejap dari sini, aku sudah sampai di sekolah."

Kenyataannya tidak berubah.

Kamu tetap harus berjalan dengan kaki. Kamu tidak bisa teleportasi. Jaraknya tidak jadi lebih pendek.

Tapi di dalam kepala, suasananya jadi sedikit lebih seru.

Empat puluh menit yang sama tidak lagi hanya perjalanan biasa. Ada khayalan teleportasi di atasnya.

Ini kecil, tapi menurutku penting.

Manusia tidak hanya menerima rasa bosan apa adanya. Kita bisa mengolahnya dengan menambahkan cerita dan tontonan.

Khayalan ala chuunibyou membuat hari yang membosankan jadi sedikit lebih mudah dijalani.


Kenapa nama jurus muncul waktu kita kesal

Saat kesal, kata seperti "Dismantle" atau "Infinite Void" kadang muncul di kepala.

Menurutku ini bukan berarti kita ingin menyerang orang. Lebih seperti mengubah amarah menjadi bentuk cerita.

Di dunia nyata, kamu tidak berteriak. Tidak menggebrak meja. Tidak melampiaskan ke barang. Tidak menakut-nakuti orang.

Tapi amarah itu tetap ada di dalam.

Daripada dilempar ke orang lain, amarah itu diubah di kepala menjadi nama jurus dan adegan.

Ini seperti salah satu lubang pembuangan untuk amarah.

Tentu saja, kalau sampai berubah jadi kekerasan sungguhan, itu masalah.

Tapi kalau hanya "Domain Expansion" yang terdengar di kepala, itu lebih mirip cara mengolah perasaan.

Perasaan kesal diubah menjadi animasi di kepala, bukan serangan nyata.

Menurutku ini jenis chuunibyou yang cukup aman.


Apakah lebih banyak pada laki-laki, atau semua orang punya?

Jurus pamungkas di kepala seperti ini kadang terlihat lebih sering pada anak laki-laki.

Manga shonen. Pertarungan. Jurus andalan. Transformasi. Tokoh terkuat. Rival. Kebangkitan kekuatan. Domain Expansion.

Hal-hal ini memang mudah menarik minat anak laki-laki.

Jadi mudah dimengerti kalau anak SMP laki-laki bilang "Aku Kirito", "Aku Hachiman", atau "Gear Second".

Tapi menurutku, perempuan juga bukan tidak punya.

Gadis penyihir. Idola. Game romansa untuk perempuan (otome game). Fantasi. Idola atau tokoh favorit. Putri. Penyanyi. Terlahir kembali di dunia lain. Tokoh perempuan yang kuat.

Pasti ada bentuk lain dari pertunjukan di kepala.

Jadi mungkin ini bukan soal beda jenis kelamin, tapi soal jenis cerita mana yang dibawa masuk ke dalam diri.

Anak laki-laki sering memilih nama jurus pertarungan. Anak perempuan sering memilih sihir, transformasi, idola favorit, atau dunia cerita. Tentu saja perbedaan antarorang juga besar.


Kalau kamu sadar itu khayalan, itu khayalan yang cukup biasa

Yang penting adalah apakah kamu bisa membedakan kenyataan dari khayalan.

Kamu berpikir, "Enak ya kalau bisa teleportasi." Di kepala, kamu merasa seperti memakai Gear Second. Waktu marah, ada kata yang terdengar di kepala.

Kamu tahu itu semua khayalan.

Kamu tidak benar-benar percaya bisa teleportasi. Kamu tidak benar-benar percaya bisa memakai ilmu kutukan. Kamu tidak yakin bahwa kamu adalah tokoh itu.

Kalau begitu, itu khayalan yang cukup biasa, dan tanda otak yang kreatif.

Yang berbahaya adalah saat batas antara kenyataan dan khayalan hilang.

Kamu yakin sungguh punya kekuatan khusus. Kamu menganggap suara atau perintah yang tidak ada sebagai hal nyata. Orang di sekitarmu menyangkal, tapi kamu terus percaya khayalan itu fakta. Kamu tidak bisa berhenti berkhayal, sehingga pekerjaan, sekolah, atau hubunganmu sangat terganggu.

Itu sudah masalah yang berbeda.

Tapi kalau hanya ada tayangan ala anime di kepala, itu masih dalam batas imajinasi yang wajar.

Yang dibahas di sini adalah permainan sehari-hari yang kita nikmati sambil sadar bahwa itu hanya khayalan.


Orang yang imajinasinya kuat cocok untuk berkarya dan melawak

Orang yang punya pertunjukan jurus di kepala tidak menerima kenyataan apa adanya.

Mereka menaruh cara pandang lain di atas kenyataan.

Kejadian sehari-hari. Hal yang terasa janggal di tempat kerja. Pengaturan cerita anime. Hubungan antarmanusia. Belanja. Kondisi badan. Label gizi. Pertarungan dalam karya.

Di atas semua itu, mereka menaruh nama jurus, perumpamaan, struktur, dan label dari karya.

Ini cocok untuk berkarya.

Karena bisa dijadikan bahan lawakan.

"Kalau pengaturan ini ada di dunia nyata, jadinya bagaimana?" "Kalau tokoh ini kerja di kantor, dia di divisi apa?" "Bagaimana klan ini mewariskan keahliannya?" "Sistem penilaian sekolah ini bermasalah, nggak sih?" "Orang baik ini jangan-jangan cuma dimanfaatkan sebagai tukang suruh?"

Kita bisa menggeser sudut pandang seperti ini.

Kalau dipakai dengan baik, energi chuunibyou bisa jadi lawakan yang tersusun rapi.

Itu bukan sekadar khayalan, tapi alat untuk mengubah cara kita memandang kenyataan.


Chuunibyou tidak berhenti di rasa malu

Kalau dilihat belakangan, chuunibyou memang memalukan.

Kita ingat kata-kata lama dan jadi sesak. Kita ingat "Aku Kirito" dan jadi ingin menghilang. Pengaturan dan nama jurus di buku catatan terlalu memalukan. Kita ingat masa merasa hanya diri sendiri yang istimewa, dan itu berat.

Aku paham.

Tapi kita tidak perlu membuang semuanya.

Di dalamnya ada hal yang masih berguna sampai sekarang.

Kemampuan tenggelam dalam cerita. Kemampuan membaca struktur tokoh. Kepekaan terhadap nama jurus dan konsep. Kemampuan membuat kenyataan terasa lebih seru. Kemampuan membuat kata-kata yang kuat. Rasa untuk menggeser sudut pandang ala komedi. Kemampuan mengubah amarah dan rasa malas menjadi pertunjukan, bukan melampiaskannya langsung.

Semua ini bahan yang bagus untuk berkarya.

Lulus dari chuunibyou bukan berarti membuang semuanya.

Menurutku itu berarti tetap bisa membedakan kenyataan dari khayalan, lalu mengubah bagian yang berguna menjadi alat orang dewasa.


Anak SMP yang dulu ber-Gear Second kini menulis artikel komedi terstruktur dengan cepat

Dulu aku suka One Piece dan merasa seperti memakai Gear Second. Di jalan ke sekolah yang membosankan, aku membayangkan teleportasi. Kalau kesal, nama jurus mengalir di kepala.

Kalau dilihat sepotong itu saja, memang terdengar seperti chuunibyou.

Tapi kekuatan itu sekarang dipakai dengan cara lain.

Aku menonton anime sambil menangkap hal yang janggal. Aku merekam komentar lewat input suara. Aku minta alat bantu menulis merapikan alur ceritanya. Lalu jadi artikel. Aku membacanya lagi dan tertawa terbahak-bahak. Artikelnya juga bisa ditemukan orang lewat pencarian.

Menurutku ini perkembangan yang seru.

Anak SMP yang dulu ber-Gear Second kini menulis artikel komedi terstruktur dengan cepat.

Energi chuunibyou langsung menjadi mesin untuk berkarya.

Yang dulu hanya pertunjukan di kepala, sekarang menjadi artikel, blog, tawa, dan tulisan yang bisa dibaca orang lewat pencarian.

Ini kuat sekali.


Jangan buang chuunibyou, ubah jadi tulisan orang dewasa

Setelah dewasa, kita sering ingin menyembunyikan sisi chuunibyou.

Tapi tidak perlu dibuang sepenuhnya.

Kalau diterjemahkan dengan baik, ia jadi kekuatan.

Nama jurus → kemampuan memberi label pada sesuatu

Kagum pada tokoh → memahami nilai-nilai diri sendiri

Khayalan teleportasi → pertunjukan di kepala yang membuat rasa malas jadi seru

Nama jurus saat marah → pertunjukan di kepala yang mengolah perasaan tanpa memukul orang

Khayalan bertarung → kepekaan terhadap struktur cerita, taktik, dan pertarungan beraturan

Bisa diubah seperti ini.

Kalau chuunibyou ditunjukkan apa adanya ke dunia luar, bisa terlihat memalukan. Tapi kalau disusun jadi tulisan, ia jadi sangat lucu.

Pembaca juga akan berpikir:

"Aku paham." "Aku juga pernah begitu." "Sekarang pun kadang masih." "Oh, bisa dijelaskan seperti itu ya."

Jadi daripada menutup chuunibyou sebagai masa lalu kelam, lebih baik diterjemahkan.


Ringkasan: chuunibyou adalah efek di kepala yang membuat kenyataan lebih seru

Chuunibyou bukan hanya memalukan.

Ia adalah cara mencoba menjadi diri sendiri saat remaja, pertunjukan di kepala yang membuat kenyataan lebih seru, adegan jurus pamungkas yang mengolah rasa malas dan marah, dan juga bahan baku untuk berkarya dan melawak.

Tentu saja, kalau kamu tidak bisa membedakan kenyataan dari khayalan, atau khayalan itu mengganggu hidup sehari-hari, itu masalah yang berbeda.

Tapi kalau kamu bisa membedakannya, bisa menertawakan diri sendiri, dan bisa mengubahnya menjadi karya atau tulisan, itu sumber daya yang sangat kuat.

Waktu kesal, "Dismantle" terdengar di kepala. Waktu malas, kamu membayangkan teleportasi. Kamu menggerakkan diri dengan rasa Gear Second. Kamu menyorot hal janggal di anime dengan logika dunia nyata.

Itu seperti menaruh lapisan efek manga shonen di atas hidup.

Dan kalau efek itu ditulis jadi artikel, hasilnya sangat lucu.

Chuunibyou bukan masa lalu kelam. Tergantung cara memakainya, ia bisa jadi mesin untuk berkarya.

Anak SMP yang dulu ber-Gear Second pasti bisa tumbuh dengan baik.

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikel

Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Kukira Waktunya Masih Banyak, Ternyata Tinggal 10 Menit untuk Mengejar Pesawat
  2. Minecraft Masuk Elden Ring?Gabungan Game Pakai AI Ini Benar-Benar Bisa Dimainkan?
  3. Orang Tua Menyita HP Anak DewasaBentuk Perhatian atau Kontrol?
  4. Kenapa Semua Artikel Belum Masuk Peringkat Atas Google?Perbaiki Masalahnya Sesuai Urutan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.