Ada orang yang dulu baru setengah hari di luar sudah kehilangan ekspresi. Begitu urusan utama selesai, tidak ada mampir-mampir: langsung pulang.
Lalu pola itu bisa berubah. Seharian di luar tidak lagi menguras mental. Berjalan 10 km tetap membuat kaki lelah, tentu saja, tetapi dalam perjalanan pulang masih sempat membuka peta dan berpikir, “Ada hal menarik di sekitar sini tidak?” lalu mampir sekali lagi.
Menyebut semua perubahan itu sebagai “lebih bugar” terlalu sederhana.
Riset kelelahan membedakan apa yang masih bisa kita lakukan dari seberapa lelah kita merasa. Riset tentang kelelahan Jadi “kaki capek, tetapi masih ingin lihat satu toko lagi” tidak perlu dijadikan satu jawaban saja.
Keluar rumah bukan cuma berjalan
Di luar rumah kita terus mengerjakan hal-hal kecil: belok ke mana, jangan sampai ketinggalan kereta, tempat berikutnya di mana, teman senang atau tidak, boleh pulang atau tidak, boleh ganti rencana atau tidak.
Kalau setiap keputusan terasa berat, kaki masih bisa berjalan tetapi kita sudah tidak ingin memilih apa-apa. Setengah hari berlalu, wajah pun tanpa ekspresi.
Pengalaman berulang dapat membuat kereta yang terlewat atau toko yang tutup terasa bukan lagi keadaan darurat.
Ada tempat yang kamu inginkan dalam rencana itu?
Mengikuti orang lain terdengar mudah: mereka memilih jalan dan toko. Tetapi seharian di tempat yang tidak menarik buat kita tetap bisa membuat kita ingin pulang.
Berdua pun bisa berkata “hari ini aku ingin ke sini” atau “capek, tempat berikutnya kita lewati saja” dan memilih bersama. Sebaliknya, sendirian dengan pikiran “harus mendatangi semuanya” bisa membuat jalan-jalan terasa seperti kewajiban.
Mungkin yang penting adalah apakah minat kita ikut masuk ke rencana, bukan berapa orang yang pergi.
Kalau ingin mencoba cara lain, cukup lihat satu stasiun di jalan pulang atau cari satu tempat di dekatnya. Walau bersama orang lain, pilih sendiri satu kafe atau tempat mampir. Sisakan pilihan untuk pulang saat lelah. Satu hari setelah kurang tidur tidak harus menentukan apakah kamu cocok jalan-jalan.
Namun, jika rasa lelah tiba-tiba berubah atau tetap berat meski sudah beristirahat, konsultasikan dengan tenaga medis, bukan hanya menganggapnya soal suka atau tidak suka bepergian.
Suka sendirian, atau suka memilih sendiri?
Kesenangannya mungkin bukan kesendirian, melainkan proses membuat pilihan, mencoba satu, membuang jika membosankan, mengubah rencana di tempat, dan memperbaiki pilihan buruk dengan pilihan berikutnya.
Maka “aku tidak punya stamina untuk keluar” kadang bisa diperbaiki menjadi kalimat yang lebih pas: “aku dulu punya sedikit stamina untuk gaya keluar yang tidak cocok denganku.”
Jika wajah datar setelah setengah hari berubah menjadi seharian di luar dan masih berakhir dengan “ada yang menarik di sekitar sini?”, yang berubah bukan hanya kaki.
Keluar rumah berubah dari sesuatu yang harus ditahan menjadi kesempatan untuk mencari tempat menarik sendiri.
Dan setelah 10 km, kaki diam-diam menaruh tagihan di meja.

