Kenapa Seluruh Pemandangan Kagoshima Itu Hasil Gunung Api: Sakurajima, Kaldera Aira, dan Dataran Tinggi Shirasu

Naik kereta menuju Kagoshima, di ujung selatan Jepang. Dari jendela kelihatan tebing-tebing berwarna pucat, dataran tinggi yang anehnya rata, Teluk Kinko.

Cari anomalinya
Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar. Game pecah bata mengubah kata-kata artikel menjadi bata yang bisa Anda hancurkan.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

0. Begitu Sakurajima muncul di jendela kereta, semuanya langsung nyambung

Naik kereta menuju Kagoshima, di ujung selatan Jepang. Dari jendela kelihatan tebing-tebing berwarna pucat, dataran tinggi yang anehnya rata, Teluk Kinko. Lalu, akhirnya, Sakurajima.

"Wooow, itu dia Sakurajima!"

Tapi di Kagoshima, ceritanya tidak berhenti di "wah, gunung terkenal". Makin dicari tahu, makin kelihatan bahwa pemandangan yang tadinya terasa terpisah-pisah ternyata berasal dari sejarah gunung api yang sama.

Sakurajima adalah gunung api aktif. Di bagian dalam teluk ada Kaldera Aira, cekungan raksasa sisa letusan dahsyat. Kalau di Indonesia, bayangkan sesuatu seperti Danau Toba. Lalu dataran tinggi berwarna pucat yang tersebar di Kyushu selatan, yang disebut Shirasu, sebagian besar terbentuk dari endapan awan panas raksasa.

Jadi pemandangan dari jendela kereta itu kurang lebih seperti "pameran hasil karya gunung api".

Satu hal perlu diluruskan dulu: tidak seluruh Teluk Kagoshima itu kaldera. Kaldera Aira ada di bagian dalam, sisi utara teluk. Badan Meteorologi Jepang menyebut ukurannya sekitar 17 km dari utara ke selatan dan 23 km dari timur ke barat, dan Sakurajima tumbuh di tepi selatannya.[1]

1. Sakurajima kelihatan seperti tokoh utama, padahal panggungnya jauh lebih besar

Wajar kalau Sakurajima yang paling mencolok: gunung api yang menjulang di tengah air.

Tapi dalam hitungan waktu geologi, Sakurajima itu pendatang baru. Ia tumbuh belakangan, di tepi kaldera raksasa yang sudah ada lebih dulu.

Menurut peta geologi Sakurajima dari Badan Survei Geologi Jepang, letusan besar terakhir Aira terjadi sekitar 29.000 tahun lalu. Sakurajima mulai tumbuh sekitar 26.000 tahun lalu.[4]

Urutannya kira-kira begini:

letusan raksasa → kaldera terbentuk → waktu berlalu → Sakurajima tumbuh.

Jadi anggapan "Sakurajima meletus lalu membentuk teluk" itu justru terbalik. Sakurajima muncul belakangan, di ujung selatan sistem gunung api yang jauh lebih besar.

Dari tampilannya, Sakurajima seperti bos terakhir. Tapi kalau membaca bentang alamnya, "latar panggungnya" yang jauh lebih besar.

2. Letusan 29.000 tahun lalu: angkanya bikin geleng-geleng kepala

Dalam letusan Aira-Ito sekitar 29.000 tahun lalu, pertama-tama turun hujan batu apung dalam jumlah luar biasa. Setelah itu, awan panas menyebar ke mana-mana.

Awan panas bukan sekadar "asap". Itu campuran abu, batu apung, pecahan batu, dan gas yang sangat panas, meluncur dekat permukaan tanah dengan kecepatan mengerikan. Orang Indonesia yang tinggal dekat Merapi pasti tahu istilah ini.

Dari endapan yang masih tersisa, Badan Survei Geologi Jepang memperkirakan awan panas Ito mencapai wilayah sekitar 100 km dari kaldera. Kalau digabung dengan abu yang terbang jauh, total material yang dimuntahkan sekitar 800–900 km³, setara kira-kira 320–360 km³ magma.[3]

Ini sudah bukan lagi "gunungnya meletus". Lebih tepat disebut peta Kyushu selatan digambar ulang.

Karena begitu banyak magma keluar dari bawah tanah, permukaan tanah ambles di area yang sangat luas, dan terbentuklah kaldera. Endapan tebal pun menutupi Kyushu selatan.

Pemandangan indah yang kita nikmati sekarang, awalnya adalah sisa-sisa bencana besar dalam sejarah bumi.

3. Shirasu itu bukan ikan, tapi "oleh-oleh" letusan raksasa

Di sini namanya bikin bingung.

Shirasu.

Dalam bahasa Jepang, "shirasu" juga nama ikan teri putih kecil yang biasa dimakan di atas nasi.

Bukan itu yang dimaksud di sini.

Di Kagoshima, Shirasu adalah tanah vulkanik berpasir yang warnanya pucat. Namanya diduga berasal dari makna "pasir putih". Dalam ilmu geologi, istilah ini terutama dipakai untuk bagian endapan awan panas besar yang tidak mengeras menjadi batu. Di Kagoshima, sebagian besar berasal dari awan panas Ito.[5]

Bagaimana bisa jadi dataran tinggi? Versi sangat sederhananya:

awan panas menumpuk dalam jumlah besar
→ terbentuk permukaan yang luas dan rata
→ hujan dan sungai mengikisnya dalam waktu sangat lama
→ lembah-lembah terbentuk
→ tersisa dataran tinggi yang rata di atas dan curam di sisinya.

Itulah kenapa tadi kelihatan bukit yang "atasnya rata tapi sampingnya curam".

Oh ya, bilang "Shirasu larut kena hujan" itu berlebihan. Yang benar, tanah yang rapuh ini gampang terkikis: air memotongnya, tanahnya longsor, lalu terbawa arus.[5]

Kalau dibuat seperti evolusi Pokémon, mulai dari ikan teri:

shirasu → awan panas → dataran tinggi Shirasu → dipahat hujan → Naga Gunung Api.

Pohon evolusinya benar-benar kacau.

4. "Mirip Gunung Fuji dan Danau Motosu" itu perbandingan bagus, tapi caranya beda

Di sekitar Gunung Fuji, aktivitas gunung api juga mengubah bentuk danau.

Menurut panduan resmi Prefektur Yamanashi, lava Gunung Fuji mengalir ke sebuah danau besar purba. Danau Motosu yang lebih dulu terpisah. Kemudian, saat letusan Jogan tahun 864, aliran lava Aokigahara memotong sisanya sehingga terbentuk Danau Sai dan Danau Shoji.[6]

Jadi rasanya memang mirip: "melihat gunung api sekaligus melihat perairan yang dibentuk ulang olehnya".

Tapi cara terjadinya berbeda.

Di Fuji, ceritanya terutama soal lava yang membendung dan memotong danau serta sungai.

Di Kagoshima, dalam satu pemandangan ada letusan raksasa, kaldera, endapan awan panas, dan Sakurajima yang tumbuh belakangan.

Kalau Fuji itu "pemandangan yang danau-danaunya diedit gunung api", bagian dalam Teluk Kagoshima itu "riwayat lengkap sistem gunung api raksasa yang bisa dibaca langsung dari jendela kereta".

5. "Tanahnya masih ambles?" Justru pengukuran sekarang menunjukkan tanahnya menggembung

Dengar kata "kaldera", rasanya seperti lubang raksasa yang terus turun.

Tapi pengukuran sekarang bilang lain.

Menurut pengumuman Badan Meteorologi Jepang tanggal 2 Oktober 2026, jarak antara titik-titik pengukuran satelit di kedua sisi Kaldera Aira bertambah pelan-pelan sejak lama, tanda bahwa bagian dalam bumi di bawahnya sedang menggembung. Di Pulau Sakurajima sendiri, sejak sekitar Mei 2026 juga terukur sedikit pemanjangan yang diduga karena tubuh gunungnya menggembung.[2]

Ini diartikan sebagai magma yang menumpuk di bawah tanah dalam jangka panjang.

Tapi jangan langsung loncat ke kesimpulan "letusan raksasa sudah dekat".

Per 2 Oktober 2026 yang sama, Sakurajima berada di level siaga 3. Dari 28 September sampai pukul 15.00 tanggal 2 Oktober, tercatat 12 letusan di kawah puncak Minamidake. Peringatan dari Badan Meteorologi itu soal aktivitas Sakurajima saat ini, bukan pengumuman bahwa letusan sebesar 29.000 tahun lalu akan segera terjadi.[2]

Singkatnya:

"Di bawah sana masih penuh magma"
itu lumayan benar.
"Jadi besok letusan raksasa datang"
itu cerita yang sama sekali lain.

6. Bagaimana kalau letusan sebesar 29.000 tahun lalu terjadi zaman sekarang?

Bagian ini bukan ramalan. Ini skenario khayalan: catatan geologi 29.000 tahun lalu ditempelkan ke kota, transportasi, dan infrastruktur zaman sekarang.

Tahap awal. Sebelum letusan raksasa, mungkin muncul tanda seperti gempa, perubahan bentuk tanah, atau perubahan gas. Tapi tidak ada yang bisa menjamin "pasti ketahuan sekian hari sebelumnya".

Dalam hitungan jam. Hujan batu apung dan abu yang deras akan sangat mengganggu jalan, kereta, dan penerbangan. Pesawat sangat rentan terhadap abu vulkanik.

Makin meluas. Kalau tiang asap letusan runtuh, awan panas bisa terbentuk. Karena awan panas Ito dulu mencapai sekitar 100 km, kejadian sebesar itu bisa menempatkan sebagian besar Kyushu selatan di zona kerusakan langsung yang sangat parah.[3]

Puncaknya. Kalau magma keluar dalam jumlah raksasa dan tanah ambles membentuk kaldera, ini bukan lagi "bencana satu gunung", tapi perubahan bentuk alam satu wilayah.

Beberapa hari kemudian. Abu halus terbawa angin. Badan Survei Geologi Jepang menyebut letusan besar yang membentuk kaldera bisa menimbulkan kerusakan sampai beberapa ribu km jauhnya dari gunung api.[9]

Berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Walau letusan sudah selesai, masih ada urusan membersihkan abu, banjir lahar setiap hujan, sungai yang penuh lumpur, serta dampak ke pertanian dan pengiriman barang.

Lalu dalam ribuan sampai puluhan ribu tahun, pengikisan akan membentuk lagi dataran tinggi dan lembah baru.

Jadi tempat wisata hari ini, dalam arti tertentu, adalah "ruang pamer bencana yang bentang alamnya sudah jadi".

Keinginan "menonton daerah sekitarnya hancur lewat simulasi dari tempat aman" memang bisa dimengerti. Tapi kalau benar-benar terjadi, tidak akan ada yang sempat jadi penonton.

7. Semua orang menoleh ke Sakurajima, entah warga lokal atau turis

Saat Sakurajima kelihatan, banyak penumpang menoleh ke jendela.

Tapi dari situ kita tidak bisa bilang, seolah-olah ada statistiknya, bahwa "warga Kagoshima selalu melihat Sakurajima". Di gerbong, kita tidak tahu siapa warga lokal dan siapa pelancong.

Meski begitu, rasanya mirip dengan Gunung Fuji.

Gunung yang sudah sering dilihat pun tetap menarik mata saat tiba-tiba memenuhi pandangan.

Cuaca, awan, asap letusan, cahaya, sudut pandang: selalu berbeda. Lebih dari sekadar ikon, ia seperti raksasa yang ingin kita cek "hari ini lagi bagaimana".

Kita mungkin berpikir "orang lokal pasti sudah bosan", tapi orang yang selalu melirik Fuji setiap lewat, ya tetap melirik.

Kelihatan, ya dilihat. Tidak apa-apa.

8. Lalu sampai di Stasiun Kagoshima: kecil banget untuk nama sebesar itu ♥

Kaldera raksasa, awan panas, Sakurajima, skalanya terus membesar. Lalu kita tiba di Stasiun Kagoshima.

"Stasiunnya kecil banget ♥"

Bedanya jauh sekali.

Dalam daftar "stasiun utama" perusahaan kereta JR Kyushu, yang masuk bukan Stasiun Kagoshima, melainkan Stasiun Kagoshima-Chuo. Halaman resmi Stasiun Kagoshima menunjukkan ada loker koin, tapi tidak ada minimarket, tidak ada Kiosk, dan tidak ada toko lain.[7]

Dari namanya, kita membayangkan stasiun besar utama kota. Padahal terminal besar yang sebenarnya adalah Kagoshima-Chuo.

Tepat setelah Kaldera Aira yang begitu raksasa, kecilnya stasiun ini terasa banget.

Alam: "800–900 km³."
Stasiun Kagoshima: "Tidak ada toko."

Lompatan skalanya sampai bikin telinga berdenging.

9. Akainu, ikan teri, dan Naga Gunung Api: semua candaan akhirnya tersedot ke magma

Melihat Sakurajima, rasanya pengin bilang "ini kampung halaman Akainu, ya?". Visualnya terlalu cocok.

Yang dikonfirmasi situs resmi ONE PIECE adalah Sakazuki punya julukan Akainu dan memakan Magu Magu no Mi, buah magma.[8]

Sakurajima bukan kampung halaman resmi Akainu. Candaan ini murni karena pemandangannya.

Lalu ada "shirasu".

Kata yang sama dengan ikan teri, tapi di Kagoshima berubah arti jadi tanah dari abu dan batu apung.

Dari situ berlanjut:

shirasu
→ dataran tinggi Shirasu
→ bentang alam gunung api
→ Naga Gunung Api.

Akhirnya, cuma dari bunyi katanya, muncul kalimat absurd dengan irama lagu: "Shirasu, shirasu… tiba-tiba volcano."

Kalau sudah begini, ini bukan King Gnu lagi.

Ini King Magma.

Tapi kalau semua candaan dibuang, intinya tetap serius.

Yang bikin Kagoshima menarik bukan cuma bisa melihat satu gunung api terkenal.

Kaldera hasil letusan raksasa, Shirasu sisa awan panas, dataran tinggi yang dipahat hujan, dan Sakurajima yang tumbuh belakangan, semuanya bisa dilihat sekaligus dari kereta biasa zaman sekarang.

Makanya, "tempat ini benar-benar beda" mungkin reaksi yang paling tepat.


Lebih dalam lagi: Apa yang bisa dilakukan di love hotel Jepang? Kamar unik di Yokkaichi punya game, sauna, dan bak mandi terbuka

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Perjalanan

Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaKukira Waktunya Masih Banyak, Ternyata Tinggal 10 Menit untuk Mengejar Pesawat
  2. Kenapa Akuarium Belut Moray di Pipa Beton Ini Seru Banget?
  3. Beda sama sekali, tapi seruSaya Tidur 18 Jam dalam SehariTidur Pemulihan atau Tanda yang Perlu Diwaspadai?
  4. Menang board tapi tetap kalah?Panduan Shadowverse: Worlds Beyond
  5. Demon Slayer di JoyfullKenapa Jurus Air Giyu Malah Jadi Daging?
  6. Kenapa Pelukan dari Orang Tertentu Terasa Nyaman, tapi dari Orang Lain Tidak?

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.