“Nanti kalau jadwal sudah jelas, aku kabari.”
“Kira-kira kapan jelasnya?”
“Belum tahu.”
Beberapa hari kemudian, pesannya masuk: “Besok pagi aku bisa.” Persis seperti dugaanmu.
Wah, jadi cenayang? Jangan buru-buru buka jasa ramalan. Bisa jadi kamu cuma menangkap cara dia mengatur jadwal.
Balasan mepet bukan bukti perasaan
Ada orang yang berani mengunci tanggal jauh-jauh hari. Ada yang baru bisa menjawab setelah tahu jadwal kerja, urusan keluarga, atau waktu luangnya. Dua-duanya mungkin terjadi tanpa maksud tersembunyi.
Dari percakapan itu, kamu boleh menduga dia akan mengabari mendadak. Tapi menyimpulkan “dia nggak peduli” atau “dia pasti sengaja” adalah tebakan lain yang belum punya bukti.
Kalender bukan alat pendeteksi isi hati.
Satu tebakan tepat belum jadi pola
Coba lihat kejadian serupa beberapa kali. Biasanya dia memastikan rencana berapa hari sebelumnya? Kalau batal, apakah menawarkan tanggal lain? Kalau ada perubahan, apakah langsung memberi kabar?
Penelitian psikologi menunjukkan pengamatan singkat kadang memberi petunjuk, terutama jika perilakunya berulang dalam situasi mirip. Namun angka r = .39 dari sebuah tinjauan penelitian bukan berarti prediksi selalu benar 39%. Angka itu juga tidak bisa dipakai untuk menebak kapan seseorang akan membalas chat.
Catat juga prediksi yang meleset. Kalau cuma menyimpan yang berhasil, semua orang bisa kelihatan punya kekuatan gaib.
Gunakan dugaan untuk menjaga waktumu
Daripada menunggu tanpa kepastian, bilang saja:
“Kalau sudah tahu sebelum Kamis malam, kabari ya. Kalau belum, aku bikin rencana lain dulu.”
Dia tetap boleh menyusun jadwal sesuai kebutuhannya. Kamu juga berhak tidak mengosongkan akhir pekan selamanya.
Membaca pikiran orang sulit. Memasang batas waktu di kalender sendiri jauh lebih masuk akal.
- Ambady & Rosenthal (1992): https://doi.org/10.1037/0033-2909.111.2.256
- Ouellette & Wood (1998): https://doi.org/10.1037/0033-2909.124.1.54
- Kahneman & Klein (2009): https://doi.org/10.1037/a0016755

