Otak Lalat Buah Sudah Dipetakan Lengkap, Kenapa Belum Bisa "Dinyalakan"? Alam Jalan Terus Tanpa Ada yang Memimpin

Biar nggak salah paham dari awal: nggak ada yang menyambungkan otak lalat hidup ke avatar 3D bergaya anime lalu mengubah lalatnya jadi cewek siber.

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar. Game pecah bata mengubah kata-kata artikel menjadi bata yang bisa Anda hancurkan.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Otak Lalat Buah Sudah Dipetakan Lengkap, Kenapa Belum Bisa "Dinyalakan"? Alam Jalan Terus Tanpa Ada yang Memimpin
Gambar buatan AI
Iklan
Iklan

Susahnya meniru otak lalat bikin kita sadar betapa anehnya makhluk hidup

Biar nggak salah paham dari awal: nggak ada yang menyambungkan otak lalat hidup ke avatar 3D bergaya anime lalu mengubah lalatnya jadi cewek siber. Kalau itu sampai terjadi, ini bukan berita sains lagi, tapi berita kriminal.

1. Awal ceritanya: “Avatar buatanku jadi lalat”

Seorang pembuat avatar 3D menemukan bahwa salah satu modelnya dipakai sebagai tubuh virtual dalam eksperimen yang memakai model sistem saraf lalat buah. Reaksinya kira-kira begini: “Nggak pernah kepikiran bakal dipakai kayak gini, wkwk.” Orang yang menjalankan eksperimen membalas, “Maaf ya, dipakainya aneh banget,” dan si pembuat avatar langsung ngakak.

Wajar sih. Kalau kamu bikin avatar 3D, yang kebayang biasanya dipakai di VR, difoto, muncul di live streaming, atau dimodifikasi orang lain. “Tubuh virtual untuk model saraf lalat” jelas nggak ada di daftar itu. Tiba-tiba saja perjalanan si avatar belok ke laboratorium.

Yang seru, sekadar dipakai saja sudah terasa seperti hadiah. Bukan cuma soal laku atau dapat banyak like. Ini bukti nyata bahwa karyamu benar-benar berguna di proyek orang lain. Kalau pemakaiannya benar-benar tak terduga, kamu juga dapat bonus: lanjutan cerita yang nggak mungkin kamu tulis sendiri.

“Avatar buatanku jadi lalat” itu momen yang nggak sering dialami seorang kreator.

Tentu nggak semua pemakaian tak terduga itu menyenangkan. Kalau melanggar hak cipta, menipu, merusak nama baik pembuat, atau dipakai untuk bisnis tanpa izin, reaksinya bakal langsung berbalik. Tapi kalau pemakaiannya nggak merugikan, sopan, dan menarik secara teknis, karya itu bisa dapat kehidupan kedua.

2. Tidak, lalat hidup tidak sedang mengendalikan avatar

Mungkin kamu sering lihat berita semacam “otak lalat disambungkan ke ini-itu” dan bertanya-tanya apakah ada yang mengutak-atik otak sungguhan. Intinya: nggak ada otak lalat hidup yang disambungkan langsung ke avatar secara real time.

Pada September 2026, peneliti dari Google Research, HHMI Janelia, dan tim lainnya merilis peta lengkap sistem saraf pusat lalat buah jantan, termasuk otak dan jalur saraf yang memanjang di tubuhnya, sampai ke setiap titik sambungan antar-sel saraf. Peta ini mencakup 166.691 sel saraf.

Cara membuatnya juga kerja keras banget. Jaringan asli diawetkan, diiris sangat tipis, difoto pakai mikroskop elektron, lalu komputer menyusun ulang sel-sel saraf dan sambungannya dari tumpukan gambar yang luar biasa banyak.

Jadi titik awalnya memang hewan sungguhan, tapi hasilnya adalah peta digital raksasa tentang “siapa tersambung dengan siapa”.

Lalat aslinya nggak tiba-tiba bangun di dalam komputer sambil nanya, “Aku di mana?”

3. Punya peta kabel belum berarti punya otak yang bekerja

Bagian ini yang paling seru.

Kalau semua sambungan sudah terbaca, bukannya tinggal disusun ulang lalu jadi lalat? Sayangnya, nggak sesederhana itu.

Peta itu penting banget, tapi pada dasarnya hanya menunjukkan susunannya. Sistem saraf sungguhan juga bergantung pada seberapa kuat tiap sambungan, zat kimia pembawa pesan antar-sel saraf dan “colokan” yang menerimanya, sifat listrik di permukaan sel, zat yang menaikkan atau menurunkan aktivitas seluruh bagian otak, gen mana yang sedang aktif, kemampuan otak untuk mengubah dirinya, sel-sel pendukung, sinyal yang sedang menyala saat itu, dan aliran informasi yang terus datang dari indra dan tubuh.

Karena itu, model otak digital sekarang memang memakai sambungan yang asli, tapi biasanya menggambarkan cara sel saraf menyala dengan rumus matematika yang disederhanakan.

Manusia: “Peta kabelnya sudah dapat!”

Manusia: “Oke, ayo kita jalankan!”

Manusia: “...Kok nggak bergerak kayak yang asli?”

Alam: “Aku sih tiap kali bikin baru aja dari telur.”

Kontrasnya brutal banget.

Masalahnya bukan karena pemetaannya asal-asalan. Penyusunan ulang sambungan sekarang sudah sangat detail. Persoalannya, ada jurang besar antara bisa membaca susunannya dan bisa memutar ulang seluruh kerjanya.

4. Apakah manusia kelak bisa didigitalkan juga?

Pertanyaan berikutnya jelas: “Kalau gitu, suatu hari bisa dong dilakukan ke manusia?”

Sebenarnya, kita sudah berdiri di garis start.

Pada 2024, tim dari Google Research dan Harvard menyusun ulang sekitar 1 mm³ (satu milimeter kubik) jaringan otak manusia dari bagian samping otak dengan tingkat detail super halus. Potongan sekecil itu saja berisi sekitar 57.000 sel dan sekitar 150 juta titik sambungan, dengan ukuran data sekitar 1,4 petabyte.

1 mm³ = 1,4 PB.

Otak: “Cuma sampel kecil kok.”

Penyimpanan: “Kecil dari mana?”

Mengerjakan seluruh otak manusia dengan detail yang sama butuh pengambilan gambar, penyimpanan, perhitungan, dan pengecekan dalam skala yang jauh di atas kemampuan sekarang. Dan meskipun peta kabelnya sempurna, belum ada yang tahu apakah itu cukup untuk mengembalikan kepribadian, ingatan, atau kesadaran seseorang.

Membaca sambungan otak manusia secara detail, mensimulasikan cara kerja otak manusia secara detail, menghidupkan kembali ingatan dan kepribadian orang tertentu, dan bisa bilang bahwa “kesadaran orang itu sendiri” tetap berlanjut, semuanya adalah masalah yang berbeda.

Fiksi ilmiah melompati keempatnya dalam satu kalimat. Peneliti harus menutup tiap celahnya satu per satu.

5. Semakin kita mencoba meniru otak, semakin gila otak terlihat

Makin keras kita mencoba membangun ulang sirkuit saraf, makin kelihatan betapa gilanya biologi.

Untuk membangun ulang satu sirkuit saja, manusia mengerahkan segalanya: mikroskop elektron, penyimpanan raksasa, pembelajaran mesin, pengecekan, sampai orang yang memeriksa hasilnya satu per satu. Sementara itu, makhluk hidup merakit sistem sarafnya sendiri dari satu sel telur yang sudah dibuahi.

Dan DNA tidak berisi daftar kabel baris per baris seperti “sambungkan sel saraf 12.847 ke sel saraf 14.201”. Sirkuit terbentuk sendiri dari gabungan aturan-aturan lokal: gen yang menyala dan mati, jejak zat kimia, sel yang saling dorong, serabut saraf yang dipandu ke tujuannya, dan penyesuaian berdasarkan aktivitas.

Alam tidak cuma membuat otak jadi. Alam juga membuat sistem yang membangun otak, dan sistem yang mengubah otak itu lewat pengalaman.

Di titik ini, rasa kagumnya berbalik arah. Bukan lagi “AI makin mendekati otak”, tapi “tunggu, selama ini otak santai-santai saja melakukan apa?”

6. Evolusi tampak seperti pencarian raksasa yang dinilai langsung oleh kenyataan

Kalau dipikir betapa rumitnya makhluk hidup, evolusi jadi terlihat seperti simulator raksasa yang terus mencari solusi terbaik.

Mutasi muncul. Makhluk hidup bertahan di lingkungannya. Keturunan yang berhasil berkembang biak meninggalkan lebih banyak anak. Mutasi muncul lagi. Dan ini terulang dalam waktu dan jumlah individu yang tak terbayangkan.

Dalam pencarian buatan manusia, manusialah yang menentukan cara menilai hasilnya. Dalam evolusi, dunia nyata sendiri yang jadi penyaringnya: suhu, pemangsa, makanan, penyakit, saingan, pasangan, bentuk lahan, dan keberuntungan. Semuanya jadi satu ruang ujian raksasa.

Tapi menyebut evolusi sebagai “AI pengoptimal yang sempurna” itu keliru. Evolusi nggak bisa melihat masa depan. Tujuannya juga nggak tetap. Lingkungan berubah, dan sejarah masa lalu, kebetulan, serta perubahan acak pada gen ikut berpengaruh.

Yang dihasilkan evolusi bukan “desain terbaik di alam semesta”, melainkan biasanya sesuatu yang cukup bagus untuk meninggalkan keturunan dalam kondisi saat itu.

Makanya tubuh penuh tambalan dan jalan memutar yang aneh. Tapi kalau solusi darurat itu terus menumpuk selama ratusan juta tahun, muncullah sistem saraf, sistem kekebalan, mata, kemampuan terbang, dan otak yang bisa berbahasa.

Jumlah percobaannya benar-benar nggak masuk akal.

7. Yang lebih gila: ini bukan cuma soal makhluk hidup

Kalau kita mundur sedikit dari soal otak, semuanya jadi makin bikin merinding.

Membran sel menyusun dirinya sendiri karena sifat molekulnya. Tanaman menumbuhkan cabang mengikuti aturan tumbuh lokal, hormon, serta responsnya terhadap cahaya dan gravitasi. Sungai membentuk jaringan seperti pohon lewat efek berantai: air mengalir ke tempat yang sedikit lebih rendah, mengikisnya, lalu tempat itu makin mudah mengumpulkan air. Dan nggak ada yang menggambar desain awan atau topan di komputer.

Semua ini nggak bisa dijelaskan dengan seleksi alam. Bentuk lahan dan evolusi punya mekanisme yang berbeda.

Tapi ada satu pola yang sama: kalau aturan dan interaksi lokal terus dijalankan, struktur raksasa muncul tanpa pusat komando.

Fenomena ini kadang disebut pengorganisasian diri: keteraturan besar yang muncul dari banyak bagian kecil.

Seru juga melihat pembuluh darah, cabang pohon, jaringan sungai, dan benang jamur kadang bercabang dengan pola yang mirip. Mereka nggak terbentuk lewat proses yang persis sama, tapi batasan yang sama, seperti “menyebar, mengumpulkan, dan mengangkut di ruang yang terbatas”, terus menghasilkan bentuk yang mirip.

Alam nggak pernah rapat desain, tapi desainnya juara.

8. Bahkan jutaan dewa bakal kewalahan kalau semuanya diurus manual

Sampai sini, gambaran ada seseorang yang mengatur setiap detail malah terdengar jauh lebih repot.

Di dalam satu sel saja ada banyak sekali reaksi kimia yang berjalan. Sel-sel berkumpul jadi satu tubuh, tubuh masuk ke ekosistem, dan semuanya saling berinteraksi dengan cuaca, bentuk lahan, dan spesies lain.

Bayangkan “delapan juta dewa” dalam kepercayaan tradisional Jepang harus menyetujui semuanya satu per satu:

“Sel ini sekarang ke sana.” “Sambungan ini diperkuat 0,3.” “Tetes hujan ini geser 2 mm ke kanan.” “Cabang ini membelah di ruas berikutnya.”

Rapat untuk mengelola alam semesta nggak akan pernah selesai.

Tentu saja ini bukan argumen bahwa dewa tidak ada. Dalam teologi, sosok yang mahatahu dan mahakuasa bisa didefinisikan sebagai sesuatu yang benar-benar berbeda dari kemampuan otak manusia yang terbatas.

Yang kita tertawakan di sini adalah gambaran manajer pusat ala manusia yang dibesarkan sampai ukuran raksasa.

Kekuatan alam yang sebenarnya adalah ia tetap berjalan tanpa semua hal harus disetujui di pusat. Aturan lokal berjalan bersamaan di mana-mana, dan hasilnya membentuk keseluruhan. Sebuah sistem raksasa tanpa kantor pusat.

9. Pada akhirnya ingatan manusia yang menyerah duluan

Kalau manusia mencoba memasukkan alam apa adanya ke dalam kepala, jelas nggak muat.

Makanya kita meringkasnya.

Kita memberi nama. Kita mengelompokkan. Kita menggambar diagram. Kita menulis rumus. Kita membuat model. Kenyataan yang ruwet kita ubah jadi konsep seperti “sel saraf”, “gen”, “ekosistem”, “sungai”, dan “front cuaca”, sambil memangkas detail yang tak terhitung banyaknya sampai cukup kecil untuk dibawa-bawa.

Dalam arti tertentu, sains adalah alat yang sangat bagus untuk meringkas kenyataan.

Tentu, meringkas berarti ada informasi yang hilang. Model bukan kenyataan. Peta kabel bukan otak. Peta cuaca bukan atmosfer. Model evolusi tidak memutar ulang setiap makhluk yang pernah hidup.

Tapi kalau nggak diringkas, ingatan jangka pendek kita yang tumbang duluan.

Saat kita bilang “sudah paham”, itu biasanya bukan berarti kita menyimpan seluruh detail dunia di kepala, melainkan kita punya gambaran yang cukup akurat untuk kebutuhan kita.

10. Kesimpulan: tidak ada yang memimpin, tapi semuanya tetap berjalan

Semua ini berawal dari titik yang aneh banget: model sistem saraf lalat buah yang dijalankan di dalam avatar 3D yang imut.

Tapi kalau digali, ceritanya sampai ke susahnya membuat ulang otak, lalu ke evolusi, pengorganisasian diri, bentuk lahan, dan akhirnya ke kenyataan bahwa “kepala manusia nggak sanggup menampung data mentah alam”.

Yang paling bikin geleng-geleng, alam sepertinya nggak punya mandor yang mengawasi semuanya dan memberi perintah.

Satu sel nggak tahu bahwa dirinya sedang membangun manusia. Satu hewan nggak sedang berusaha membuat spesiesnya berevolusi. Satu tetes air nggak berniat menggali ngarai.

Tapi reaksi-reaksi kecil itu terus menumpuk dan jadilah otak, hutan, sungai, dan ekosistem. Lalu manusia dengan otak itu membuat mikroskop elektron, membaca sambungan saraf lalat, dan mencoba membuat avatar imut berjalan dengannya.

Otak manusia, buatan alam, sedang menganalisis sistem saraf yang dibangun alam selama miliaran tahun, lalu mencoba membangunnya lagi di dalam komputer buatan manusia.

Lapisannya kebanyakan.

Dan untuk sekarang, kesimpulan paling kuatnya adalah ini:

Alam menjalankan semuanya tanpa ada yang memimpin. Ini pasti bug.


Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Kenapa Janji Baru Dikonfirmasi H-1?Bukan Berarti Bisa Baca Pikiran
  2. Mengapa Hutan Akita Tak Tampak Seperti Jepang?Hutan Cedar Pascaperang
  3. Kenapa Klinik Kesehatan Mental Wajibkan Masker, dan Boleh Nggak Pasien Ditolak Kalau Nggak Beli?
  4. Jangan Salah Baca Sinyal Sebelum Menyatakan PerasaanPerbarui Keyakinan dan Uji Hipotesis

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikel

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.