Wawancara jalanan: kenapa pewawancaranya kelihatan pintar banget padahal yang terlihat cuma tangan dan mikrofon

Cari anomalinya
Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar. Game pecah bata mengubah kata-kata artikel menjadi bata yang bisa Anda hancurkan.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Pernah nonton wawancara jalanan di TV, lalu malah lebih memperhatikan tangan yang pegang mikrofon daripada orang yang diwawancarai?

Wajahnya hampir nggak kelihatan. Dia nggak cerita soal dirinya. Pertanyaannya pendek-pendek.

Tapi setelah beberapa menit, kamu jadi yakin:

"Orang yang pegang mikrofon ini pasti pintar banget."

Kamu nggak tahu dari gelar atau jabatannya. Kamu sadar dari apa yang dia perhatikan, dari detail mana yang dia tanyakan, dari seberapa cepat dia mengenali nama, tempat, sejarah, dan tren lama, dan dari cara orang asing tiba-tiba cerita hal-hal yang sangat pribadi kepadanya.

Jawaban singkatnya: kekuatannya bukan karena dia banyak bicara. Kekuatannya ada di sini: orang lain jadi mengeluarkan cerita menarik dengan sendirinya.

Di artikel ini kita bahas kenapa kepintaran bisa kelihatan tanpa wajah, kenapa orang asing bisa ngobrol seperti dengan teman, seberapa besar peran editing, dan apa hubungannya semua itu dengan orang yang memang cocok banget dengan pekerjaannya.


1. Wajahnya nggak kelihatan, tapi cara berpikirnya kelihatan

Biasanya, untuk menilai seseorang pintar, kita pakai petunjuk: pekerjaan, pendidikan, pakaian, cara dia diperkenalkan, penampilan.

Pewawancara jalanan hampir nggak punya petunjuk itu.

Yang kita lihat adalah hasil dari cara dia berpikir.

Seseorang di jalan mengucapkan satu kalimat. Pewawancara menangkap satu kata yang aneh. Dia bertanya satu kali lagi. Lalu tiba-tiba, orang yang tadinya kelihatan biasa saja cerita soal hobi aneh, kisah keluarga, detail tentang daerahnya, atau keputusan hidup yang absurd.

Kemudian muncul nama yang jarang dikenal, dan mikrofonnya menjawab:

"Oh, yang itu."

Penonton pun tanpa sadar memberi nilai di kepalanya:

  • Kemampuan mengamati: tinggi
  • Pemahaman: cepat
  • Daya ingat: cepat
  • Pengetahuan umum: luas banget, mencurigakan
  • Pertanyaan lanjutan: tepat sasaran
  • Wajah: belum dimuat

Casing-nya belum kelihatan, tapi kita sudah tahu prosesornya kencang.


2. Senjatanya bukan banyak bicara, tapi tahu di mana harus menggali

Pewawancara yang bagus nggak menguasai obrolan.

Sering kali mereka bicara sangat sedikit:

"Itu apa?" "Kenapa?" "Sejak kapan?" "Terus?" "Oh, saya tahu itu."

Kuncinya ada di mana pertanyaan itu jatuh.

Tim produksi pernah cerita bahwa orang yang penampilannya mencolok kadang nggak menghasilkan apa-apa, sedangkan orang yang kelihatan biasa saja bisa sangat menarik saat diajak ngobrol. Mereka juga bilang kecocokan antara narasumber dan sutradara yang mewawancarainya ikut menentukan.

Jadi, wawancara jalanan bukan cuma undian mencari orang unik.

Ini juga soal menemukan detail kecil yang janggal, lalu bertanya tepat di situ.

Tim produksi menyebutnya "mencolek serpihan-serpihan kecil" di masyarakat.

Barang bawaan yang aneh. Kalimat yang terlalu spesifik. Rasa percaya diri yang tak terduga. Malu-malu yang tiba-tiba. Topik yang membuat orang itu mendadak tahu segalanya.

Kebanyakan orang membiarkan detail seperti itu lewat begitu saja.

Pewawancara yang bagus berhenti dan bertanya:

"Eh, tunggu, itu apa?"

Radar untuk hal-hal aneh ini adalah kekuatan super pertamanya.


3. "Oh, yang itu": indeks di kepala yang bikin merinding

Kekuatan super kedua muncul setelah topiknya ketemu.

Orang itu mulai cerita tentang dunia kecilnya. Biasanya, di titik ini pengetahuan si penanya sudah habis.

Tapi begitu muncul nama daerah, tokoh sejarah, tren zaman dulu, artis, toko, atau komunitas penggemar, pewawancara tetap bisa mengikuti dengan santai.

Dia nggak kelihatan seperti ahli satu bidang saja.

Dia kelihatan seperti punya indeks raksasa di kepalanya.

tempat → bangunan yang dulu ada di sana → sejarah lokal → tokoh terkenal → tren zaman itu

artis → acara TV → zaman → orang-orang terkait → meme yang viral lagi di internet

Yang penting bukan berapa banyak yang dia tahu, tapi seberapa cepat dia menemukan info yang tepat di tengah obrolan.

Tahu sepuluh ribu fakta unik nggak ada gunanya kalau nggak keluar saat ngobrol.

Tapi kalau:

kata dari lawan bicara → info terkait dalam setengah detik

di situlah pengetahuan berubah jadi kemampuan ngobrol.

Makanya "Oh, yang itu" yang singkat bisa berarti banyak hal sekaligus:

"Saya dengar." "Saya paham maksudnya." "Saya tahu topik itu." "Nggak usah jelasin dari awal." "Lanjut aja."

Kata-katanya sedikit, pesannya banyak. Dia nggak pamer, tapi kelihatan banget wawasannya.


4. Makin sedikit dia menjelaskan, makin pintar dia kelihatan

Ada alasan lain kenapa kepintarannya kelihatan: dia nggak menjelaskan berlebihan.

Lawan bicaranya cerita panjang.

Pewawancara paham semuanya, lalu membalas dengan satu pertanyaan yang langsung kena intinya.

Penonton pun berpikir:

"Lho, dia sudah paham semua itu?"

Dia nggak mulai ceramah untuk menunjukkan apa yang dia tahu. Dia nggak perlu membuktikan dengan penjelasan panjang bahwa dia paham. Dia cukup membalas seperlunya dan mengembalikan panggung ke lawan bicaranya.

Ini cocok untuk TV, tapi juga ampuh dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam, otaknya kerja keras. Di luar, bicaranya sedikit.

Seperti komputer yang bekerja 90 % tapi kipasnya 0 dB.


5. Dari orang asing jadi teman tanpa terasa

Dalam wawancara jalanan yang bagus, kadang narasumber berhenti terdengar seperti "orang yang sedang menjawab TV" dan mulai terdengar seperti orang yang cerita hal konyol ke kenalan baru yang asyik.

Itu mungkin nggak terjadi seketika.

Nippon TV pernah menjelaskan bahwa di acara hiburan, wajar untuk ngobrol cukup lama dengan seseorang lalu memotongnya jadi bagian pendek. Itu berbeda dengan editing yang mengubah makna ucapan seseorang.

Sebelum bagian yang ditayangkan, kemungkinan ada pertanyaan-pertanyaan biasa:

"Hari ini lagi ngapain?" "Dari mana?" "Itu apa?" "Sejak kapan?"

Lalu pelan-pelan orang itu merasa:

Dia mendengarkan saya. Dia paham cerita saya. Dia ketawa beneran. Dia nanya persis hal yang pengin saya ceritakan.

Penelitian tentang percakapan juga mendukung ini: orang yang lebih sering mengajukan pertanyaan lanjutan (pertanyaan yang menyambung dari apa yang baru saja diucapkan lawan bicara) cenderung lebih disukai. Salah satu alasannya, pertanyaan seperti itu menunjukkan bahwa kita benar-benar mendengarkan.

Maka terbentuklah lingkaran yang positif:

tertarik → bertanya dari ucapannya → dia merasa didengar → cerita lebih banyak → pertanyaan berikutnya makin bagus

Di rekaman, mereka masih orang asing.

Di kepala narasumber, setelah beberapa menit dia sudah jadi "mas-mas asyik yang baru saya temui hari ini".


6. Tapi ini bukan sulap: jumlah, waktu, dan editing sangat membantu

Ini penting.

Salah kalau mengira pewawancara itu manusia super yang bisa membuat siapa pun terbuka dalam 30 detik.

Tim produksi mengakui bahwa mereka menyapa banyak sekali orang. Mantan kru juga cerita bahwa mereka diajari untuk mengubah sudut pertanyaan kalau pertanyaan biasa nggak menghasilkan jawaban menarik. Dan obrolan panjang dipotong jadi beberapa menit saja.

Jadi, yang tayang di layar mendapat bantuan dari:

  • pemilihan orang-orang yang paling menarik,
  • editing yang memangkas waktu sampai ke bagian seru,
  • hilangnya pertanyaan yang gagal,
  • pertanyaan lanjutan yang berhasil lebih sering dipertahankan.

Kalau ini diabaikan, tekniknya jadi seperti mitos.

Tapi bilang "semuanya karena editing" juga nggak cocok dengan cerita tim produksi sendiri.

Mereka bilang orang yang sama bisa memberi jawaban berbeda tergantung siapa yang bertanya, dan wawancara jalanan adalah keahlian seorang ahli.

Yang paling masuk akal adalah:

banyak percobaan × obrolan panjang × editing × keahlian pewawancara

Bukan sulap.

Justru karena bukan sulap, ini keahlian yang hebat.


7. Mikrofonnya nggak bergerak, tapi orangnya bergerak

Kalau cuma melihat mikrofonnya, pewawancara kelihatan hampir seperti robot.

Tapi saat dia sekilas masuk kamera, semuanya berubah.

Dia tertawa. Badannya sedikit mundur. Tubuhnya bereaksi. Ekspresinya berubah.

Mikrofon: diam total
Orangnya: manusia banget

Bagi narasumber, ini berpengaruh besar.

Penonton cuma mendengar pertanyaan pendek, tapi orang yang diwawancarai menerima:

  • senyuman
  • anggukan
  • badan yang menghadap ke dia
  • tatapan mata
  • wajah kaget
  • badan yang terdorong ke belakang saat tertawa

Itulah kenapa dia merasa didengarkan walaupun kata-katanya sedikit.

Kalau kamu cuma meniru pertanyaannya, lalu menembakkan

"Itu apa?" "Kenapa?" "Oh."

dengan wajah datar, itu bukan ngobrol. Itu interogasi.

Pertanyaannya bisa ditiru, tapi yang ada di baliknya nggak.


8. Bakat atau latihan? Kemungkinan dua-duanya

Bertahun-tahun melakukan wawancara jalanan berarti latihan yang luar biasa banyak.

Mengamati. Bertanya. Gagal. Mengubah sudut pertanyaan. Belajar hal baru tentang suatu daerah. Melihat apa yang tersisa setelah editing. Mengulang.

Lama-lama, pelajaran itu jadi naluri:

"Pertanyaan ini nggak ke mana-mana." "Kalau kata ini diambil, bakal keluar cerita." "Orang ini langsung semangat kalau sampai ke topik ini."

Tapi sifat dasar juga berpengaruh.

Pekerjaan yang tiap hari harus menyapa orang asing, tertawa secara alami, dan penasaran dengan orang lain itu berat sekali untuk orang yang memang sudah tersiksa melakukannya.

Salah satu cara melihatnya:

gampang bergaul + rasa penasaran + reaksi yang alami
×
ratusan atau ribuan wawancara jalanan sungguhan
×
pengetahuan tentang orang, tempat, dan tren yang bertambah tiap minggu
×
belajar dari keberhasilan dan kegagalan yang terlihat saat editing

Ini bukan seperti orang yang berubah total, tapi lebih seperti:

orang yang memang berbakat, lalu naik level gila-gilaan di pekerjaan yang pas.


9. "Bereaksi seperti itu seharian pasti capek banget"

Buat penonton, meniru gaya itu kelihatan melelahkan.

Senyum terus. Mendengarkan. Mencari nama di ingatan. Menemukan bagian yang menarik. Memikirkan pertanyaan berikutnya. Bereaksi juga dengan tubuh.

Itu namanya fokus penuh ke orang lain.

Tapi bukan berarti dia merasakan capek yang sama.

Penelitian tentang kerja emosional (usaha mengatur perasaan saat melayani orang lain) membedakan antara pura-pura menunjukkan perasaan yang sebenarnya nggak dirasakan, yang disebut "akting permukaan", dengan berusaha benar-benar merasakannya atau mengekspresikannya secara alami. Pura-pura cukup kuat kaitannya dengan rasa lelah dan kesejahteraan yang buruk. Benar-benar merasakan atau berekspresi alami tidak menunjukkan dampak buruk sejelas itu.

Bandingkan orang yang berpikir:

"Aku harus senyum." "Aku harus bikin suasana rame." "Aku harus kelihatan tertarik."

dengan orang yang berpikir:

"Bapak ini lucu banget." → lalu ketawa sendiri

Dari luar kelihatan sama. Dari dalam, capeknya bisa beda jauh.

Tentu saja kerja di jalanan itu melelahkan: banyak jalan kaki, sering ditolak, dan harus dapat bahan yang bagus.

Tapi energi yang terkuras hanya untuk "ngobrol dengan orang" bisa sangat berbeda dari satu orang ke orang lain.


10. Memang lahir untuk pekerjaan ini

Di sinilah muncul ide tentang orang yang memang lahir untuk pekerjaannya.

Penelitian menunjukkan bahwa sekadar tertarik pada suatu pekerjaan saja belum cukup. Yang penting adalah minat dan sifat seseorang cocok dengan lingkungan kerjanya, dan itu berhubungan dengan kinerja serta hasil kerja lainnya. Sebuah analisis yang menggabungkan banyak penelitian tentang minat karier bahkan menemukan bahwa kecocokan antara minat dan lingkungan lebih kuat memprediksi kinerja dibanding minat itu sendiri.

Kalau diterapkan pada pewawancara jalanan:

Orangnya:

  • nggak keberatan ketemu orang baru
  • suka mengamati orang
  • kalau lihat sesuatu yang aneh, pengin nanya
  • nggak terbebani menambah pengetahuan umum
  • tertawa dan bereaksi secara alami
  • bisa mengolah informasi sambil ngobrol

Pekerjaannya:

  • ketemu orang asing setiap hari
  • mencari detail unik
  • membangun kepercayaan dalam waktu singkat
  • menggali cerita
  • pengetahuan umum langsung jadi senjata
  • keberhasilan dan kegagalan terekam dalam video

Cocoknya kebangetan.

Hal yang bagi orang lain butuh usaha, bagi orang ini terjadi begitu saja.

Dan kalau itu dijalani di pekerjaan selama lebih dari sepuluh tahun, wajar saja jadi sangat jago.

Versi gamenya:

bonus awal di kemampuan ngobrol
→ misi ngobrol tiap hari
→ pengetahuan umum terkumpul otomatis
→ semua pertanyaan terbuka
→ kepintaran bocor cuma dari tangan dan mikrofon

Ini agak bikin merinding, dalam arti yang baik.


11. Kalau mau meniru, nggak usah jadi orang paling heboh: tiru caranya

Kesimpulan yang salah adalah: "Mulai besok aku mau senyum seharian dan bereaksi heboh." Itu bakal capek banget.

Nggak perlu meniru semuanya.

Yang bisa ditiru adalah caranya.

1) Tangkap kata yang aneh, bukan cuma kalimatnya

Jangan berhenti di "aku habis liburan". Pikirkan: "kenapa ke sana?", "sama siapa?", "barang yang dia bawa itu apa?".

2) Tambahkan satu pertanyaan lagi

Di saat kamu biasanya bilang "oh, seru ya" lalu obrolan selesai, tambahkan satu: "terus, gimana awalnya kamu mulai?".

3) Tanggapi kalau kamu kenal namanya

Cukup bilang "oh, aku tahu itu". Nggak perlu kasih kuliah. Tunjukkan saja kalau kamu nyambung.

4) Kalau lucu, tunjukkan kalau kamu merasa lucu

Nggak harus senyum terus. Kalau ada yang lucu, ketawa beneran. Kalau kaget, tunjukkan.

5) Jangan anggap orang sebagai sumber informasi

Pewawancara yang hebat bukan penginterogasi yang hebat. Cerita bisa keluar karena kamu benar-benar menikmati mendengarnya.

Tujuannya bukan:

menjadi orang yang selalu senyum dan supel.

Tapi:

saat kamu tertarik, buat lawan bicaramu bisa melihat ketertarikan itu.


12. Kesimpulan: yang penting bukan apa yang kamu katakan, tapi apa yang keluar dari lawan bicaramu

Aneh rasanya menganggap seseorang pintar padahal wajahnya hampir nggak kelihatan.

Tapi itu karena dia nggak menunjukkan kepintarannya lewat perkenalan diri.

Dia menunjukkannya lewat di mana dia bertanya.

Lewat seberapa cepat dia paham.

Lewat "Oh, yang itu".

Lewat orang asing yang tiba-tiba bicara dengan sangat apa adanya.

Dan dia sendiri nggak pernah jadi pusat perhatian.

Jadi kesan yang tersisa bukan:

"Orang ini banyak banget ngomongnya."
Tapi: "Kalau ngobrol sama orang ini, lawan bicaranya jadi cerita jauh lebih banyak."

Mungkin kemampuan berkomunikasi memang nggak bisa diukur dari seberapa banyak kamu bicara.

Di layar, cuma ada tangan dan mikrofon.

Mikrofonnya nggak bergerak satu milimeter pun.

Tapi di baliknya, pengamatan, daya ingat, rasa penasaran, reaksi tubuh, pemilihan pertanyaan, dan kepercayaan yang terbangun semuanya bekerja bersamaan.

Wajahnya nggak kelihatan, tapi kemampuannya tetap bocor.

Dan kalau orang yang cocok menjalani pekerjaan yang cocok dalam waktu lama, dia bisa terlihat seperti ahli yang bekerja tanpa usaha.

Si orang yang lahir untuk pekerjaan ini, hari ini pun tetap semangat bekerja.


FAQ

Q1. Ujung-ujungnya, bukannya semua karena editing?

Editing dan pemilihan memang berpengaruh besar. Tapi tim produksi sendiri bilang, dengan orang yang sama pun hasilnya bisa berbeda tergantung kecocokan dengan sutradara dan alur obrolannya. Jadi bukan "cuma editing" atau "cuma pewawancara", tapi gabungan jumlah, waktu, editing, dan keahlian.

Q2. Kalau tahu banyak hal, otomatis jago ngobrol?

Nggak. Yang penting adalah cepat menemukan info yang dibutuhkan saat ngobrol, lalu memakainya supaya lawan bicara terus bercerita, bukan untuk cerita tentang diri sendiri.

Q3. Orang yang jarang senyum jadi rugi?

Nggak perlu senyum terus. Ada banyak cara untuk menunjukkan ketertarikan: pertanyaan lanjutan, anggukan, reaksi yang spesifik.

Q4. Cuma orang yang memang supel yang bisa?

Mungkin ada yang lebih berbakat, tapi bertanya, mengamati, menambah pengetahuan, dan bereaksi bisa dilatih. Kuncinya, jangan meniru sang ahli secara utuh, tapi mulai dari hal yang paling ringan buatmu.

Q5. Cocok dengan pekerjaan berarti nggak capek?

Nggak bisa dibilang begitu. Meski cocok, kerja tetap bikin capek. Tapi kalau hal yang bagi orang lain terlihat seperti usaha keluar secara alami darimu, perilaku yang kelihatan sama bisa terasa lebih ringan di dalam.


Ide artikel terkait

  • Bedanya orang yang berhenti di "oh, seru ya" dan orang yang bertanya "kenapa?"
  • Saat kemampuan ngobrol bukan soal banyak tahu, tapi cepat menemukan
  • Lahir untuk pekerjaan ini: usaha bagi orang lain, gerakan biasa bagimu
  • Apa yang dilakukan orang yang langsung enak diajak ngobrol sejak pertama ketemu?
  • Hal yang terlewat kalau wawancara jalanan dijelaskan cuma dengan "itu editing"

Draft media sosial

Wajahnya hampir nggak kelihatan: cuma tangan dan mikrofon. Tapi dalam beberapa menit kamu langsung mikir, "orang ini pintar banget".
Bukan karena dia banyak ngomong. Tapi karena dia menangkap detail aneh, ngasih satu pertanyaan yang pas, dan waktu muncul nama yang super jarang dikenal, dia cuma bilang "oh, yang itu" lalu lanjut.
Mikrofon: nggak bergerak sedikit pun.
Orang di baliknya: mengamati, mengingat, ketawa, dan bertanya dengan kecepatan penuh.
Inilah orang yang memang lahir untuk pekerjaannya.

Lebih dalam lagi: Kenapa Laporan Pelanggaran di Kantor Diabaikan? Saat Pelapor Justru Dicari

Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaKenapa Janji Baru Dikonfirmasi H-1?Bukan Berarti Bisa Baca Pikiran
  2. Orang Tua Menyita HP Anak DewasaBentuk Perhatian atau Kontrol?
  3. Beda sama sekali, tapi seruKurcaci yang Menari Itu dari Film Apa?Rumpelstiltskin AI dan Kaset VHS yang Tak Pernah Ada
  4. Kukira Waktunya Masih Banyak, Ternyata Tinggal 10 Menit untuk Mengejar Pesawat
  5. Minecraft Masuk Elden Ring?Gabungan Game Pakai AI Ini Benar-Benar Bisa Dimainkan?
  6. Al BuqqiKenapa Pom Bensin Amerika Jadi Tempat “Ziarah” dalam Meme?

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Pekerjaan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.

Iklan

Artikel terbaru

  1. 1Cara Menang Game Menjaga Es Krim Turki: Tangan Pembelinya Juga Bisa Memanjang
  2. 2Apa Itu PHP? Celah Kritis 2026, Pemeriksaan F12, Risiko WordPress dan Jaringan Kantor
  3. 3Panduan 7 ending Can I Walk You Home?: Tricked, Taken, dan pilihan timer
  4. 4Hisho Kentei Level 3 untuk Pencari Kerja Autisme dan ADHD di Jepang
  5. 5Apakah TRASDDO aman? Netflix dan siaran olahraga US$55 setahun
Iklan