Kalau dengar kata "pemimpin", banyak orang membayangkan sosok yang paling tahu, paling rajin kerja, dan ujung-ujungnya mengambil alih semua masalah sulit.
Tapi kalau benar-benar begitu terus, timnya nggak akan berkembang.
Ibaratnya kiper yang bilang, "Gawang itu tanggung jawab saya, jadi bolanya saya pegang terus dan saya bawa lari sendiri sampai ke gawang lawan." Tanggung jawabnya luar biasa. Sepak bolanya yang rusak.
Penelitian tentang pemimpin yang rendah hati dan pemimpin yang memberi kepercayaan menunjukkan bahwa mengakui keterbatasan diri, menghargai kelebihan orang lain, dan memberi mereka ruang nyata untuk berperan berkaitan dengan proses belajar dan hasil kerja tim yang lebih baik.[R1][R2][R3]
Intinya bukan pura-pura lemah. Intinya adalah menentukan siapa pegang apa supaya kerjaan jalan paling lancar.
1. "Yang ini kamu lebih jago" bukan tanda menyerah
"Slide buatan kamu jauh lebih jelas daripada punyaku. Bagian visualnya kamu yang pegang, ya?"
"Kamu cepat sadar kalau orang mulai bingung waktu dijelaskan. Bagian ini boleh aku serahkan ke kamu?"
Itu bukan melepas peran pemimpin. Itu menaruh pekerjaan di tangan orang yang paling cocok.
Sebaliknya juga bisa jadi masalah. Pemimpin yang sangat mampu sering mengambil lagi semua tugas karena "kalau aku yang kerjakan lebih cepat". Kalau tugas yang cukup dapat nilai 80 selalu direbut lalu dipoles sampai 120, tim jadi punya bos terakhir yang baik hati, yang menyelesaikan kerjaan semua orang secepat kilat.
2. Memuji jangan diam-diam berarti "mulai sekarang semua ini urusanmu"
Pujian yang spesifik membantu karena orang jadi tahu apa yang perlu diulang.
"Bagus" kurang membantu dibanding "waktu kamu lihat orang itu bingung, kamu ganti contohnya. Itu berhasil banget."
Tapi ada jebakannya.
Atasan: "Kamu jago banget soal ini!"
Anggota tim: "Makasih!"
Atasan: "Sip. Mulai sekarang semuanya kamu yang urus, ya."
Anggota tim: "Tadi aku dipuji atau barusan dapat misi sampingan seumur hidup?"
Memuji dan menumpuk kerjaan tanpa batas itu dua hal yang beda. Kalau mau mengandalkan seseorang, sepakati juga cakupan tugas, tenggat, prioritas, dan apa saja yang boleh dia putuskan sendiri.
3. Delegasi atau lempar tugas? Bedanya kelihatan dari 5 hal ini
Kalau cukup bilang "serahkan ke kamu ya!", dokumen serah terima pasti sudah punah dari dulu.
Saat mendelegasikan, minimal jelaskan:
- Tujuan: buat apa ini dikerjakan
- Kapan dianggap selesai: hasil seperti apa yang diharapkan
- Ruang keputusan: apa saja yang boleh diputuskan sendiri
- Tenggat dan prioritas: kapan harus selesai dan mana yang didahulukan
- Tempat bertanya: harus tanya siapa kalau mentok
Tanpa itu semua, delegasi gampang berubah jadi sekadar lempar tugas.
Sebaliknya, kalau setiap langkah diatur dan orangnya nggak boleh memutuskan apa pun, itu namanya mengatur sampai ke hal terkecil.
Patokan yang pas: kasih tujuan dan pagar pengamannya, tapi jangan rebut setirnya setiap lima detik.[R2][R4]
4. Makin jago kamu, makin bahaya kebiasaan "udah, aku aja yang kerjain"
Orang yang kerjanya cepat sering merasa menunggu orang lain lebih lama daripada mengerjakan sendiri.
Untuk jangka pendek, itu memang benar.
Tapi kalau selalu begitu, kerjaan menumpuk di orang tercepat, yang lain nggak dapat kesempatan latihan, jarak kemampuannya makin jauh, lalu makin banyak kerjaan balik lagi ke orang yang sama.
Ujung-ujungnya muncul kalimat, "Kenapa yang lain nggak ada yang bisa?"
Ya iyalah, kalau bolanya selalu direbut di tengah permainan, nggak ada yang bisa belajar menggiring bola.
Solusinya bukan menyerahkan semuanya, juga bukan memegang semuanya. Mulai dari tugas kecil, bagikan cara kamu mengambil keputusan, cek hasilnya, lalu perluas tanggung jawab sedikit demi sedikit.
5. Kalau atasan di atasnya bermasalah, delegasi berubah jadi "salahnya dilempar ke bawah"
Sebagus apa pun pembagian tugas di tim, semuanya bisa berantakan kalau pihak di atas mengubah aturan belakangan.
- Hak memutuskan tetap dipegang di atas
- Kriteria diganti di tengah jalan
- Kalau berhasil, yang di atas yang dapat nama
- Kalau gagal, yang mengerjakan yang disalahkan
Buat orang yang mengerjakan, itu bukan rasa dipercaya. Rasanya seperti dititipi barang berbahaya.
Wewenangnya di lantai atas, tanggung jawabnya jatuh ke lantai bawah. Perusahaan yang cuma gravitasinya saja yang kerja keras.
Kalau ini terus terulang, wajar kalau orang berhenti mengusulkan perbaikan. Bisa bertanya atau menyampaikan pendapat yang berbeda tanpa takut dihukum secara tidak adil berkaitan dengan rasa aman psikologis.[R5]
Karena itu, melatih pemimpin supaya bisa mendelegasikan saja belum cukup. Perlu juga aturan yang jelas soal kapan atasan boleh membatalkan keputusan, batas tanggung jawab, dan cara penilaian.
6. Percaya bukan berarti menghilang
"Aku percaya kamu, jadi aku nggak bakal cek apa-apa" belum tentu namanya percaya. Kadang itu cuma menghilang.
Setelah mendelegasikan, tetap sepakati kapan mengecek, kondisi seperti apa yang harus segera dilaporkan, siapa yang membantu kalau mulai ada masalah, dan siapa yang memegang tanggung jawab akhir.
Untuk pekerjaan yang menyangkut keselamatan, hukum, atau kualitas, tentukan dua-duanya: seberapa besar kebebasannya dan prosedur apa yang wajib diikuti.
7. Saat cari kerja atau pindah divisi, minta contoh nyata, jangan cuma percaya "di sini kamu bebas berkreasi"
"Di sini kamu punya banyak kebebasan untuk mengambil keputusan" kedengarannya bagus, tapi kalimat itu saja nggak banyak menjelaskan.
Coba tanyakan contoh nyatanya:
- Siapa yang menentukan prioritas?
- Apa yang boleh diputuskan penanggung jawab tanpa persetujuan?
- Gimana kalau beda pendapat dengan atasan?
- Usulan perbaikan harus disetujui siapa?
- Kalau ada yang gagal, apa yang dievaluasi?
- Apakah kerjaan tetap jalan waktu atasan sedang tidak ada?
Contoh nyata jauh lebih jujur daripada slogan.
Kesimpulannya
Pemimpin yang kuat bukan orang yang memegang semua bola.
Ia memutuskan bola dioper ke siapa, memberi informasi yang dibutuhkan, membantu saat ada yang mentok, mengembalikan pujian ke orang yang benar-benar mengerjakan, dan memastikan tanggung jawab akhir tetap jelas.
"Yang ini kamu lebih jago, boleh aku andalkan kamu?" bukan tanda lemah.
Pahlawan yang mengerjakan semuanya sendiri memang kelihatan keren.
Tapi di kantor, biasanya pahlawan itu juga satu-satunya yang masih lembur sampai malam.



