Calon Mertua Mau "Menilai" Kamu, Pasangan Cuma Bilang "Orang Tuaku Cuma Khawatir"? Siapa yang Berhak Memutuskan, dan Kenapa "Harus Proaktif" Malah Bikin Karyawan Resign

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar. Game pecah bata mengubah kata-kata artikel menjadi bata yang bisa Anda hancurkan.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Ada satu unggahan yang viral: seseorang datang menemui orang tua pasangannya sebelum menikah, lalu malah dimarahi habis-habisan soal perceraian dan rencana pernikahan kedua si pasangan. Beberapa waktu kemudian, orang tua itu menghubunginya langsung dan mulai "menilai": kira-kira "Apa begitu sikap orang dewasa yang sudah kerja?" dan "Kami akan lihat sikapmu ke depannya, baru kami putuskan mau merestui atau tidak."

Kesan pertamanya jelas: sidang Komite Penilai Calon Mertua resmi dibuka.

Tapi kalau diikuti, kolom komentar tidak cuma menyerang si ibu. Banyak sekali yang justru mengarah ke si pria.

"Lho, dia sendiri ngapain?"

Di situlah inti masalahnya.

Sekeras apa pun orang tuanya, kalau pasangan berani bilang "Ini urusan keluargaku, biar aku yang jelaskan" atau "Jangan serang dia langsung", kerusakannya bisa banyak tertahan. Sebaliknya, kalau tembok penahan itu tidak ada, semua kecemasan, kemarahan, "standar normal", dan penilaian orang tua langsung dikirim ke kamu.

Niatnya pacaran, eh tahu-tahu jadi kontrak dengan pasangan plus komite penilai keluarga. Kamu tidak ingat pernah klik "setuju perubahan".

1. "Putus saja" dan "Kami yang akan memutuskan merestui atau tidak" itu dua layar dari sistem penilaian yang sama

Orang tua khawatir soal hubungan anaknya itu hal biasa. Masalahnya, kekhawatiran itu sekadar "pendapat" atau sudah jadi "hak memutuskan".

"Ibu agak khawatir sama orang itu" itu pendapat.
"Putus saja sama dia" sudah jadi perintah atas pilihan orang lain.
"Kami yang akan memutuskan merestui pertunangan kalian atau tidak" artinya sistem penilaian sudah resmi berlaku.

Ketiganya cuma beda kadar, tapi pertanyaan dasarnya satu:

Siapa yang punya keputusan akhir?

Di Jepang, usia dewasa adalah 18 tahun, dan menurut aturan yang berlaku sekarang, pernikahan antara dua orang dewasa tidak mensyaratkan izin orang tua sebagai pintu masuk hukumnya.[1] Tentu keluarga boleh punya pendapat. Tapi tidak punya hak memutuskan secara hukum itu satu hal, dan punya hak veto di dalam keluarga secara praktik itu hal lain.

Rapat keluarga sebagai "tempat minta nasihat", masih masuk akal.
Rapat keluarga sebagai "lembaga persetujuan akhir", tiba-tiba jadi kayak kantor.

2. "Suaminya mana?!" Kenapa orang-orang tidak cuma kesal ke si ibu, tapi juga ke dia

Dalam kasus yang viral itu, perceraiannya adalah masa lalu si pria. Tapi justru si perempuan yang disalahkan habis-habisan oleh orang tuanya, kira-kira "Jangan-jangan kamu yang bikin hidup anak kami berantakan."

Wajar kalau netizen langsung bereaksi:

Mas, maju dong.

Bercerai, memutuskan menikah lagi, menjelaskannya ke orang tua, semua itu tanggung jawab dia sendiri sebagai orang dewasa. Kalau ceritanya rumit, justru dia yang harus lebih dulu menjelaskan ke orang tuanya, pakai kata-katanya sendiri.

Kalau pasangannya diam saja, jadilah pembagian tugas yang aneh:

  • Orang tua: menilai
  • Pacar: dinilai
  • Si anak: entah kenapa malah berdiri di belakang
  • Pacar: masih harus menjelaskan, minta maaf, dan menjaga suasana hati semua orang

Selamat datang di PT Kapibara, Divisi Penilaian Pernikahan.

Wewenang tidak ada. Tanggung jawab penuh. Penempatan kerja terburuk.

3. "Ya, orang tuaku kan cuma khawatir": saat tembok penahan berubah jadi penerjemah

Dalam situasi begini, kalimat paling mematikan adalah:

"Ya, orang tuaku kan cuma khawatir."

Sekilas kedengarannya netral, lembut, seperti cuma menjelaskan keadaan. Tapi bagi yang sedang diserang, pesan "orang tuanya khawatir" itu sudah sampai, dan sudah sangat jelas.

Yang dibutuhkan bukan penjelasan tambahan.

Yang dibutuhkan adalah menentukan batas: sejauh mana kekhawatiran itu boleh dialirkan ke kamu.

Orang tua: "Kami tidak merestui."
Kamu: "Aku capek banget."
Pasangan: "Ya, orang tuaku kan cuma khawatir."

Itu bukan tembok penahan. Itu stasiun relay yang meneruskan perasaan orang tua dengan rapi ke hilir.

Kalau di kantor, mirip atasan yang kasih tuntutan tidak masuk akal ke tim, timnya kewalahan, lalu manajer menengah cuma bilang "Ya, atasan juga lagi dikejar target" dan selesai di situ.

Bukan begitu. Kamu berdiri di situ bukan untuk menerjemahkan tekanan ke bawah. Kamu berdiri di situ untuk menahannya.

4. Kasus "ngaca dulu": sikap orang lain dinilai, bad mood sendiri dibebaskan

Tanda bahaya makin naik kalau seseorang menilai orang lain dengan keras ("sikapnya jelek", "kurang manis", "apa begitu sikap orang dewasa?"), tapi dia sendiri langsung cemberut, diam, atau nadanya jadi kasar begitu ada yang tidak setuju.

Satu kali "Hah?" tidak bisa dipakai untuk menghakimi seseorang. Ada juga orang yang memang ngomongnya ceplas-ceplos di rumah.

Tapi kalau ada pola yang berulang:

pendapat berbeda → bad mood → didiamkan → semua orang jaga perasaannya → akhirnya kemauannya yang menang

maka ini sudah bukan sekadar "mulutnya agak pedas".

Kantor Kabinet Jepang mencontohkan kekerasan psikis seperti "mendiamkan dan tidak mau bicara apa pun yang kamu katakan" atau "bicara dengan nada memerintah", tapi juga menegaskan bahwa tidak semua contoh itu otomatis termasuk kekerasan dalam rumah tangga menurut hukum.[2]

Jadi yang penting bukan memasang label.

Yang penting adalah melihat apakah perilaku itu berulang kali dipakai sebagai alat supaya orang lain menurut.

Kalau orang yang bilang "Kami akan lihat sikapmu" justru yang sikapnya paling kasar, kesimpulan sementaranya sederhana:

Standar penilaian itu, tolong dicoba dulu di depan cermin.

5. Kantor dan keluarga itu beda. Tapi kalau otoritasnya kaku, bentuk masalahnya mirip

Kantor dan keluarga tidak sama. Tapi dalam kelompok yang otoritasnya kaku, sering terjadi hal-hal yang mirip:

  • Yang di atas yang menilai
  • Yang di bawah harus bayar mahal kalau membantah
  • Aturannya tidak jelas pun, kamu tetap dinilai pakai ukuran "normal"
  • Kalau protes, kamu dinilai ulang karena "sikapmu itu"
  • Semua orang menjaga suasana hati yang berkuasa sebelum dia marah

Di kantor: "Ya, atasan juga lagi susah."
Di rumah: "Ya, orang tuaku kan cuma khawatir."

Kalimat yang praktis. Saking praktisnya, gampang jadi resi pengiriman tekanan.

Penelitian yang mengikuti orang yang sama selama bertahun-tahun menemukan bahwa kontrol psikologis dari orang tua berkaitan dengan kemandirian dan kualitas hubungan asmara di kemudian hari.[3][4] Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa hubungan dengan keluarga mertua bisa jadi sumber dukungan sekaligus sumber stres, dan bahwa perbedaan pandangan suami-istri soal seberapa dekat dengan keluarga mertua berkaitan dengan stabilitas pernikahan.[5]

Artinya, masalahnya bukan "dekat dengan orang tua".

Masalahnya adalah sejauh mana otoritas orang tua menembus keputusan asmara dan pernikahan anak yang sudah dewasa.

6. Yang berat bukan keluarga kecilnya, tapi saat tidak bisa memasang batas untuk rumah tangga baru

Wajar kalau ada yang merasa "keluarga kecil juga berat, kan?". Kalau keluarganya kecil dan tertutup, otoritas satu orang bisa jadi sangat kuat.

Tapi menurutku, intinya bukan keluarga kecilnya, melainkan bagaimana batas itu dijalankan.

Kedekatan yang sehat itu kedengarannya begini:

"Orang tuaku khawatir. Tapi yang memutuskan kita."
"Aku dengar pendapat orang tuaku. Tapi aku tidak akan biarkan mereka menilai kamu langsung."
"Urusan dengan orang tuaku, biar aku yang pegang."

Masalahnya muncul kalau kalimat-kalimat ini terus menumpuk:

"Kata orang tuaku begitu."
"Kita kan keluarga."
"Dari dulu memang begitu."
"Mereka nggak ada maksud jahat."
"Ngalah dikit aja, ya?"

Sampai akhirnya, di meja tempat kalian berdua mengambil keputusan, selalu ada orang ketiga dan keempat yang ikut duduk.

Menyayangi keluarga itu satu hal. Menjadikan keluarga juri tetap hubungan kalian itu hal lain.[5][6]

7. Jadi, ini kekerasan emosional? Lihat polanya, bukan istilahnya

Ada kalanya kamu berpikir, "Ini kekerasan emosional nggak sih?"

Tapi menyimpulkan seseorang sebagai "pelaku" hanya dari potongan unggahan itu gegabah. Sekali bad mood, sekali ngomong kasar, itu saja belum cukup untuk tahu.

Yang perlu dilihat adalah apakah hal-hal ini berulang:

  • Apakah kamu bisa menyampaikan pendapat berbeda dengan aman?
  • Kalau kamu tidak setuju, apakah yang kembali adalah didiamkan, diintimidasi, atau dibuat merasa bersalah?
  • Apakah orang-orang di sekitar mengubah perilakunya demi menjaga suasana hati satu orang?
  • Apakah "khawatir", "normalnya", atau "keluarga" dipakai untuk merampas hak memilih orang lain?
  • Kalau kamu pasang batas, apakah batas itu malah diubah jadi masalah kepribadianmu?

Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa didiamkan dan dikucilkan dalam hubungan dekat bisa menimbulkan penderitaan psikologis yang berat.[7]

Jadi daripada sibuk bertanya "Bisa nggak ini disebut kekerasan emosional?", lebih berguna bertanya:

Dalam hubungan ini, aman nggak untuk tidak setuju?

8. Orang yang dulu hampir terjebak dalam situasi begini jadi peka, karena radarnya ingat medannya

Orang yang dulu hampir masuk ke situasi seperti:

"Kenapa aku yang harus menjelaskan ke keluarganya?"
"Kenapa aku yang dinilai?"
"Ini urusan kita berdua, kok keputusannya baru keluar setelah direview keluarga besar?"

biasanya jadi peka terhadap kalimat-kalimat yang mirip.

Tidak perlu semuanya dianggap "kamu kebanyakan mikir".

Tentu menyamakan masa lalu dan masa sekarang lalu langsung memutuskan juga berbahaya. Tapi sebagai cara mengenali pola, bereaksi dengan

"Eh, pintu masuk ini kayaknya pernah kulihat"

itu sendiri berguna.

Yang penting adalah mengecek setelah alarm berbunyi.

Apakah orang tuanya benar-benar punya hak memutuskan?
Apakah pasanganmu bisa bicara dengan kata-katanya sendiri?
Apakah dia akan meneruskan kecemasan orang tuanya begitu saja ke kamu?
Saat kamu bilang "Itu keputusan kita berdua", apakah dia membelamu?

Alarm itu bukan untuk dimatikan. Alarm itu dipakai untuk mengecek lagi, ini alarm palsu atau beneran.

9. "Kalau di Chiikawa, kayaknya bakal jadi chimera": kekuasaan membentuk sifat, atau cuma memperbesarnya?

Mulai dari sini, murni bercanda.

Di dunia Chiikawa, penyebab karakter berubah jadi chimera belum dijelaskan sepenuhnya di cerita aslinya. Jadi ini bukan berarti "yang sifatnya jelek bakal jadi chimera".

Tapi kalau disandingkan dengan topik kali ini, jadi lucu juga.

Bayangkan ada karakter yang mode bawaannya:

"Aku yang benar."
"Aku mau menilai orang lain."
"Kalau dibantah, aku bete."
"Wajar dong semua orang menyesuaikan diri denganku."

Apa jadinya kalau dia tiba-tiba dapat kekuatan yang luar biasa?

Bukan sifatnya yang berubah, tapi kontrol yang selama ini dia lakukan lewat suasana hati jadi bisa dijalankan secara fisik.

Itu sudah bukan evolusi.

Itu proyek penambahan wewenang untuk ketua komite penilai.

Ini tidak bisa dipastikan sebagai teori tentang ceritanya, tapi membacanya sebagai "apa yang keluar saat seseorang dapat kekuasaan" terasa anehnya pas sebagai perumpamaan soal hubungan antarmanusia.

Di kantor maupun di keluarga, kekuasaan sering bukan menciptakan kepribadian baru, tapi membuat kebiasaan lama seseorang jadi lebih kelihatan.

10. Sebelum menikah, yang perlu dilihat bukan cuma "orang tuanya normal atau tidak"

Walaupun orang tuanya agak "unik", hubungan masih bisa jalan kalau pasanganmu bisa memasang batas.

Sebaliknya, walaupun orang tuanya kelihatan kalem, akan berat kalau pasanganmu membawa pulang setiap pendapat mereka sebagai perintah akhir.

Yang perlu dilihat:

  1. Bisakah dia memisahkan pendapat orang tua dari keputusannya sendiri?
  2. Bisakah dia sendiri yang mengurus komunikasi dengan orang tuanya?
  3. Apakah dia tidak menjadikan kamu juru bicara untuk keluarganya?
  4. Apakah dia tidak meneruskan tekanan dengan "mereka cuma khawatir"?
  5. Bisakah dia menghentikan orang tuanya saat mereka menyerangmu langsung?
  6. Bisakah dia tetap berpegang pada keputusan kalian berdua walaupun orang tuanya kesal?
  7. Apakah dasarnya "kita berdua yang memutuskan", bukan "kita harus dapat restu dulu"?

Kalau dia bisa melakukan ini, dia akan jadi tembok penahanmu.

Kalau tidak, pasanganmu jadi trafo, bukan tembok penahan. Bukannya menurunkan tekanan orang tua ke tegangan rumahan yang aman, dia malah mengubahnya jadi tegangan yang paling pas untuk menyakitimu, lalu mengirimkannya ke kamu.

11. Kesimpulan: yang bikin muak bukan "calon mertua" itu sendiri, tapi otoritas keluarga lain yang langsung tersambung ke hidupmu

Pada akhirnya, masalahnya bukan sesederhana "mertuanya galak" atau "keluarganya terlalu dekat".

Yang bikin muak adalah

kekuasaan internal keluarga orang lain masuk ke urusan asmara, pernikahan, tempat tinggal, uang, waktu, dan perasaanmu, lengkap dengan hak memutuskan.

Dan begitu pasanganmu mulai jadi penerjemah dengan

"Ya, orang tuaku kan cuma khawatir."
"Mereka nggak ada maksud jahat."
"Dari dulu mereka memang begitu."
"Kita kan keluarga."

kamu gampang berubah dari pasangan menjadi petugas penjelasan, petugas layanan, dan petugas pengolah perasaan keluarga besar.

Orang tua bebas untuk khawatir.
Orang tua bebas untuk berpendapat.

Tapi mereka tidak perlu duduk, seolah-olah itu hal yang wajar, di meja tempat dua orang dewasa menentukan hidup mereka.

Dan saat mereka mencoba duduk di situ, yang seharusnya dikatakan pasanganmu bukan

"Ya, orang tuaku kan cuma khawatir."

tapi

"Aku paham kalian khawatir. Tapi mulai dari sini, kami yang memutuskan."

Kalau kalimat itu tidak bisa dia ucapkan, komite penilai itu bukan rapat dadakan.

Itu permanen.


12. Biang keroknya: "Ngaca dulu, deh" dan "Itu kan cuma menguntungkan kamu"

Kalau sudah diurai sampai sini, yang bikin kesal bukan "ada orang yang ngomong sesuatu ke aku". Yang bikin reaksi paling kuat adalah kontrol tanpa dasar yang sah.

Menyuruh orang lain "perbaiki sikapmu", tapi dia sendiri ngambek begitu dibantah. Itu kasus "ngaca dulu, deh".

Bilang "kita kan keluarga", "normalnya begitu", "kami cuma khawatir", padahal kenyataannya yang tenang pihak sana, yang terhindar dari repot pihak sana, dan yang bayar dengan penjelasan, mengalah, waktu, dan tenaga perasaan cuma kamu. Itu kasus "itu kan cuma menguntungkan kamu".

Di saat seperti ini, empat tes ini ampuh:

  1. Tes cermin: apakah orang yang bikin aturan itu juga mematuhinya?
  2. Tes pembagian untung: siapa yang untung, siapa yang menanggung biaya?
  3. Tes wewenang: memangnya kamu pernah memberi orang itu hak untuk memutuskan?
  4. Tes hukuman kalau menolak: kalau kamu menolak, apakah selesai dengan "oke"? Atau malah kembali dengan bad mood, didiamkan, rasa bersalah, dan penilaian soal kepribadianmu?

"Khawatir", "sayang", dan "normalnya" bukan kata-kata yang buruk. Tapi kata-kata itu juga bisa jadi kertas kado yang membungkus tuntutan sepihak supaya kelihatan seperti aturan untuk semua orang.

Secantik apa pun kertas kadonya, kalau isinya "Kamu harus nurut supaya aku tenang", wajar banget kalau kamu bereaksi "Hah?".

13. Kenapa alarm yang sama berbunyi di rumah dan di kantor: otoritas rusak dengan cara yang mirip

Rumah dan kantor itu beda dunia. Tapi rasa tidak nyaman yang sama tetap muncul, karena di mana ada otoritas, bentuk kerusakannya mirip.

Yang di atas menetapkan standar. Yang di bawah harus bayar mahal kalau protes. Aturannya kabur pun, tetap dinilai pakai "normal", "akal sehat", atau "rasa krisis". Kalau membantah, yang dinilai berikutnya bukan argumennya, tapi "sikapmu itu".

Di rumah: "Ya, orang tuaku kan cuma khawatir."

Di kantor: "Ya, atasan juga lagi dikejar target."

Keduanya kedengarannya menjelaskan situasi pihak atas, tapi kenyataannya bisa jadi resi pengiriman tekanan.

Masalahnya bukan otoritas itu sendiri. Kantor butuh jabatan, dan pengalaman orang tua bisa jadi nasihat yang bagus. Masalahnya adalah ketimpangan ini jadi permanen: wewenang di atas, tanggung jawab menjelaskan dan bebannya di bawah, tapi sikap pihak atas tidak pernah ikut dinilai.

Di situlah "ngaca dulu" dan "itu kan cuma menguntungkan kamu" berbunyi bersamaan.

14. "Punya rasa krisis, berbenah, pikirkan matang-matang, harus proaktif": lho, semua itu sudah saya kerjakan

Di sebuah tempat kerja, pimpinan tertinggi bertahun-tahun terus meminta seluruh karyawan punya "rasa krisis", melakukan "pembenahan", "berpikir matang", dan "proaktif".

Arahnya tidak salah. Di lingkungan yang cepat berubah, organisasi yang cuma menunggu perintah itu lemah.

Tapi bayangkan karyawan senior yang mendengar itu sambil sudah benar-benar menjalankan otomatisasi kerja, memangkas alur kerja, merancang ulang pelatihan, memperbaiki promosi rekrutmen, dan membuat pengadaan serta operasional lebih efisien. Dalam hati dia pasti bilang:

"Lho, semua itu sudah saya kerjakan, kok."

Dalam ilmu perilaku organisasi ada konsep yang disebut "taking charge" (mengambil alih kendali). Morrison dan Phelps memandangnya sebagai perilaku sukarela yang bertujuan membawa perubahan yang berguna bagi organisasi. Mereka juga menemukan bahwa perilaku itu tidak hanya berkaitan dengan rasa tanggung jawab dan keyakinan pada kemampuan diri, tapi juga dengan persepsi bahwa pimpinan puncak terbuka terhadap masukan.[12]

Jadi, "harus proaktif" itu bukan "tebak duluan isi kepala atasan".

Kalau memang serius menginginkannya, perusahaan juga harus siap menerima munculnya orang yang mengubah cara kerja yang sudah ada.

15. Pembelajaran dua putaran: lagi memperbaiki kerjaan, eh asumsi "tetap di perusahaan ini" ikut masuk daftar perbaikan

Pembelajaran dua putaran (double-loop learning) yang dirumuskan Chris Argyris bukan sekadar memperbaiki tindakan, tapi mempertanyakan ulang kebijakan, tujuan, dan asumsi yang menimbulkan masalah itu sendiri.[10]

"Pekerjaan ini lambat" → perbaiki langkah-langkahnya. Itu putaran pertama.

Kalau sampai ke "Kenapa kita berasumsi pekerjaan ini harus terus dikerjakan di divisi ini dengan aturan ini?", berarti kamu sudah menyentuh asumsinya.

Kalau diterapkan ke hidup, pertanyaannya naik seperti ini:

"Bagaimana memperbaiki pekerjaanku sekarang?" → "Kalau pindah divisi, apakah membaik?" → "Memangnya ini harus diselesaikan di dalam perusahaan ini?" → "Kalau dibandingkan dengan pasar kerja di luar, bagaimana?" → "Kalau dilihat dari seluruh hidupku, apakah terus menginvestasikan waktu di perusahaan ini masih sepadan?"

Mungkin yang diinginkan perusahaan adalah proaktif yang model "pikirkan cara supaya kapal ini lebih cepat".

Tapi orang yang kuat di pola pikir dua putaran, sambil mengepel geladak, tiba-tiba nyeletuk:

"Ngomong-ngomong, aku memang harus tetap di kapal ini?"

Pindah divisi tetap disimpan sebagai cadangan, sambil pilihan di luar perusahaan juga dijalankan bersamaan. Kalau setelah dibandingkan ternyata kondisi dan masa depan di luar lebih cocok, dia pindah papan permainan sekalian.

Pimpinan bilang "Berbenahlah!", hasilnya karyawan membenahi hidupnya sendiri dan menghilang dari perusahaan. Penutup yang cukup indah.

16. Paradoks "harus proaktif": proaktif yang sejati tidak berhenti di gerbang kantor

Grant dan Ashford menjelaskan perilaku proaktif di tempat kerja sebagai tindakan yang mengantisipasi masa depan untuk memengaruhi diri sendiri atau lingkungannya. Di dalamnya ada antisipasi, perencanaan, menyiapkan alternatif, dan eksekusi.[11]

Ini poin pentingnya.

Proaktif bukan kemampuan milik perusahaan.

Tidak mungkin orang cuma mempertanyakan asumsi di jam kerja, lalu begitu pulang, satu asumsi "aku akan tetap di perusahaan ini" dikunci selamanya.

Kalau perusahaan serius bilang:

"Punya rasa krisis." "Pikirkan masa depan." "Harus proaktif." "Berbenahlah."

maka dari sisi karyawan, jawaban seperti ini juga sah:

"Karena punya rasa krisis, saya riset pasar kerja." "Karena memikirkan masa depan, saya bandingkan dengan perusahaan lain." "Saya proaktif melamar ke tempat lain." "Saya akan membenahi karier saya."

Perusahaan: "Maksud kami bukan proaktif sampai segitunya."

Ya, itu bukan urusan saya.

Sebuah penelitian tahun 2024 juga menemukan jalur tidak langsung: orang yang proaktif, karena punya ambisi karier tinggi, mencari peluang di luar dan keinginan untuk resign pun meningkat; tapi hubungan itu melemah kalau mereka jelas merasakan adanya peluang mengatur dan mengembangkan karier di dalam organisasi.[13]

Tugas perusahaan bukan cuma "merekrut orang yang proaktif".

Tapi membangun lingkungan di mana orang-orang itu, bahkan setelah membandingkan dari sudut pandang seluruh hidupnya, tetap merasa bertahan di sini lebih menguntungkan.

17. Rasa terburu-buru itu mesin, resign-nya karyawan berpengalaman itu data organisasi, dan yang tersisa di akhir: "Tetap utamakan keselamatan"

Rasa gelisah "Apa begini terus nggak apa-apa? Aku harus bergerak lebih cepat" bisa jadi mesin untuk pintar membawa diri. Tapi gelisah itu sendiri bukan kemampuan.

Kalau cuma gelisah, bisa jadi:

cemas → kepikiran terus → makin cemas

Kalau berjalan dengan baik, dia diubah jadi:

alarm → riset → menyusun struktur → membuat pilihan → menjalankan beberapa sekaligus → mengecek hasil → memperbarui asumsi

Karena ada perubahan ini, rasa gelisah bukan cuma bikin lelah, tapi jadi energi untuk menjelajah. Dan bukan cuma di pekerjaan: dalam asmara, pertanyaannya naik dari "Bagaimana memperbaiki masalah ini?" ke "Bisakah aku bertahan lama dengan struktur keluarga seperti ini?"; di pekerjaan, dari "Bagaimana memperbaiki tugas ini?" ke "Masih masuk akal nggak berasumsi aku tetap di organisasi ini?".

Praktis memang. Tapi kalau semua urusan hidup dijadikan rapat perbaikan tanpa henti, otak tidak pernah bisa istirahat. Rasa gelisah lebih pas jadi alarm, bukan jadi bos.

Dan dari sisi perusahaan, kalau karyawan berpengalaman yang masuk di tengah karier terus-terusan resign dalam waktu singkat, jangan berhenti di "karyawan pindahan zaman sekarang memang nggak betahan". Perlu dilihat terpisah berdasarkan tahun masuk, jenis pekerjaan, divisi, peran, wewenang, kriteria penilaian, dan peluang karier.

Ada penelitian klasik yang menyebut bahwa kalau perusahaan menginginkan sikap proaktif, penting sekali karyawan di lapangan merasa pimpinan puncak terbuka terhadap masukan.[12] Ada juga temuan bahwa kalau karyawan proaktif merasa bisa mencapai target kariernya di dalam perusahaan, dorongan untuk keluar bisa melemah.[13]

Kalau yang diperkuat cuma rekrutmen, jadilah mesin abadi:

Rekrutmen: "Kita berhasil dapat karyawan berpengalaman!" Tim: "Dia sudah bisa diandalkan!" Karyawan: "Saya sudah paham cara kerja tempat ini!" Karyawan: "Di luar lebih menguntungkan, saya pindah!" Rekrutmen: "Kita rekrut lagi!"

Tentu satu orang resign tidak membuktikan perusahaannya jelek. Tapi kalau orang-orang yang mirip terus keluar di waktu yang mirip, itu bukan cuma cerita pribadi, tapi juga data tentang organisasi.

Pertanyaan yang mengalir di seluruh tulisan ini sama, baik di rumah maupun di kantor:

Siapa yang memutuskan? Siapa yang untung? Siapa yang menanggung biaya? Amankah untuk menolak? Apakah orang yang bikin aturan itu juga mematuhinya?

Kalau di rumah dibilang "Pikir sendiri, dong", maka kemandirian itu termasuk kebebasan memilih kesimpulan yang berbeda dari orang tua.

Kalau di kantor dibilang "Harus proaktif", maka proaktif itu termasuk kebebasan memasukkan perusahaan itu sendiri ke daftar pembanding.

Diminta proaktif, ya saya proaktif resign.

Buat perusahaan, mungkin agak sayang.

Dari pihak yang sudah keluar, cuma satu hal yang bisa dikatakan:

Semoga sukses mempertahankan karyawan berpengalaman. Tetap utamakan keselamatan, ya.


Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. September di pedalaman Jepang belum benar-benar musim gugurperjalanan satu malam dari Matsumoto dan Suwa ke Tajimi dan Mizunami, dengan museum ber-AC dan makanan porsi “rusak skala”
  2. Demon Slayer di JoyfullKenapa Jurus Air Giyu Malah Jadi Daging?
  3. Kenapa Chiikawa selalu makan?Makanan, rumput liar, monster, kerja, dan rating 10+
  4. Kenapa Janji Baru Dikonfirmasi H-1?Bukan Berarti Bisa Baca Pikiran

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikel

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.

Iklan

Artikel terbaru

  1. 1The Last of Us Part III Sudah Dikonfirmasi? Arti Dua Proyek Baru Naughty Dog
  2. 2Panduan The Wolf Wears Red: 6 Ending dan 8 Poin Affection Hunter–Lamb
  3. 3Baru Dua Kunjungan, Kok Ada 41 Tayangan? Perangkat Luar Menamatkan Game Kejanggalan Dua Kali
  4. 4Kapan 2.000 kredit gratis Synthesia Syren kedaluwarsa? Batas 9 November dan Basic
  5. 5Kenapa Ajakan Lejat di Manga Hyperinflation Begitu Kocak?
Iklan