Jawaban singkat
Kalau kita lewati judul-judul berita dan membaca penelitiannya langsung, ceritanya jauh lebih tenang.
Sebuah studi tahun 2026 meneliti 796 orang dewasa di Polandia. Studi itu memakai AQ, kuesioner tempat orang menilai sendiri "ciri-ciri mirip autisme" pada dirinya. Skornya dibandingkan dengan hal-hal yang dilakukan orang untuk mempertahankan pasangan, dan dengan gaya kelekatan mereka.
Pada angka yang paling sederhana, skor AQ yang lebih tinggi berjalan bersama sedikit lebih sedikit perilaku yang "memberi hal baik kepada pasangan" (korelasi −0,11) dan sedikit lebih banyak perilaku yang "membebani pasangan" (+0,17). Hubungan AQ dengan kecemasan kelekatan (+0,28) dan penghindaran kelekatan (+0,33) lebih besar.
Namun gambarannya berubah kalau model analisisnya diganti atau usia ikut dihitung. Para penulis sendiri mengakui bahwa AQ tidak hanya mengukur ciri autisme. AQ juga tumpang tindih dengan keterasingan sosial, kecemasan, sedikit menunjukkan perasaan, dan kesulitan berkomunikasi.
Jadi kesimpulannya bukan "orang autis itu egois dan tidak mendukung pasangan". AQ berisi pertanyaan tentang kesulitan bergaul, dan studi ini membandingkannya dengan perilaku sosial dalam cinta. Wajar kalau ada sedikit hubungan. Hasilnya harus dibaca dengan memahami hal itu.
Apa sebenarnya yang dilakukan peneliti?
Kelompoknya adalah 796 orang dewasa di Polandia yang sudah menjalin hubungan setidaknya tiga bulan. Usia rata-ratanya 36,4 tahun dan 52% adalah perempuan.
Mereka memakai empat jenis kuesioner:
- AQ: 50 pertanyaan tentang ciri mirip autisme.
- Versi singkat ECR-R: 18 pertanyaan tentang kecemasan dan penghindaran kelekatan.
- MRI-SF: 38 pertanyaan tentang apa yang dilakukan seseorang untuk mempertahankan pasangannya.
- Dua skala singkat tentang usaha untuk hubungan jangka pendek dan usaha untuk merawat anak.
Hal terpenting: ini bukan studi pada orang yang didiagnosis autisme.
Tidak ada dokter yang membagi peserta menjadi "autis" dan "tidak autis". Studi ini hanya melihat apakah skor AQ tinggi atau rendah pada orang biasa.
Sebenarnya "ciri autisme" itu mengukur apa?
AQ punya 50 pertanyaan dan mencakup lima bidang: keterampilan sosial, komunikasi, berpindah perhatian, imajinasi, dan perhatian pada detail.
Contohnya, AQ bertanya apakah Anda lebih suka melakukan sesuatu bersama orang lain daripada sendiri, apakah Anda suka melakukan hal dengan cara yang sama setiap kali, dan apakah mudah membayangkan tokoh dalam sebuah cerita.
Jadi skor AQ yang tinggi bukan pernyataan medis bahwa "orang ini autis".
Kalau diubah sembarangan, hasilnya jadi begini:
AQ tinggi
→ autisme
→ hanya memikirkan diri sendiri
→ tidak menghargai pasangan
Itu empat lompatan yang tidak dibuktikan oleh studi ini sama sekali.
Itu jenis lompatan yang tidak boleh dilakukan artikel ilmiah.
Ada dua jenis perilaku untuk "mempertahankan pasangan"
Para peneliti membagi perilaku menjaga hubungan menjadi dua kelompok.
Memberi manfaat berarti melakukan hal baik untuk pasangan: menunjukkan sayang, memberi hadiah, membuatnya senang, menambah kepuasannya pada hubungan.
Membebani berarti melakukan hal yang menekan atau merugikan pasangan: mengawasi, mengendalikan, memanipulasi perasaan, atau memakai rasa cemburu dan khawatir.
Yang disebut "menguji" pasangan lebih dekat ke kelompok kedua. Misalnya bersikap dingin untuk melihat apakah pasangan mengejar, memberi isyarat putus untuk melihat reaksinya, atau sengaja membuat pasangan cemburu.
Tetapi "membebani" tidak sama dengan "menguji pasangan". Kelompok pertama jauh lebih luas.
Angkanya tidak sedramatis judulnya
Ini korelasi sederhananya:
| Yang dibandingkan | Korelasi |
|---|---|
| AQ dan kecemasan kelekatan | +0,28 |
| AQ dan penghindaran kelekatan | +0,33 |
| AQ dan perilaku yang membebani | +0,17 |
| AQ dan perilaku yang memberi manfaat | −0,11 |
−0,11 itu cukup kecil.
Kalau korelasinya dikuadratkan, bagian yang sama hanya sekitar 1%. Korelasi peringkat seperti ini tidak boleh dibaca sebagai "seberapa besar yang satu menjelaskan yang lain". Meski begitu, angkanya jauh dari kesan bahwa AQ saja menentukan perilaku seseorang dalam cinta.
Hasilnya juga bergeser menurut metodenya. Pada model struktural, AQ punya efek langsung negatif pada memberi manfaat. Pada perilaku yang membebani, korelasi sederhananya positif, tetapi dalam model efek langsungnya diperlakukan berbeda. Saat usia dimasukkan, hubungan positif muncul lagi.
Singkatnya, tidak benar bahwa ciri autisme yang tinggi selalu menyebabkan perilaku buruk dalam cinta, dan tidak benar juga bahwa tidak pernah. Hasilnya berubah menurut modelnya, jadi lebih rumit dari itu.
Bagian paling menarik: "bukankah keduanya mengukur hal yang mirip?"
Inilah inti masalahnya.
AQ punya pertanyaan yang menangkap kesulitan dalam keterampilan sosial dan komunikasi.
Dari sisi cinta, studi ini mengukur hal seperti menunjukkan sayang, menyenangkan pasangan, dan aktif menjaga hubungan. Itu juga perilaku sosial.
Jadi sebagian studi ini membandingkan:
skala yang mudah menangkap orang yang merasa sulit bergaul
dengan
seberapa jauh seseorang mendekati pasangannya secara sosial.
Dalam versi yang dilebih-lebihkan, bunyinya begini:
"Kami memilih orang yang jarang bergaul lewat kuesioner."
↓
"Orang-orang ini ternyata jarang menunjukkan perilaku bergaul!"
Itu bukan penemuan. Itu "ya iyalah".
Studi ini tidak sepenuhnya berputar-putar. AQ juga memuat kesukaan pada rutinitas, perpindahan perhatian, dan perhatian pada detail, yang tidak sama dengan komunikasi dalam cinta.
Walau begitu, para penulis sendiri mengatakan AQ banyak tumpang tindih dengan keterasingan sosial, kecemasan, sedikit menunjukkan perasaan, dan kesulitan berkomunikasi. Mereka meminta agar hubungan dengan AQ dibaca dengan hati-hati.
Selain itu, studi-studi tidak sepakat tentang susunan AQ. Ada yang menemukan lima faktor, ada yang tiga, ada yang enam, dan ada yang dua faktor besar: interaksi sosial dan perhatian pada detail. AQ bukan satu blok yang rapi.
Kalau semuanya dimasukkan ke panci besar bernama "skor total AQ" lalu diberi label "ciri autisme", sulit melihat seberapa besar pengaruh pertanyaan sosialnya.
Ini bukan studi tentang "orang yang hanya memikirkan diri sendiri"
Ini juga penting.
Dalam kehidupan nyata, pola seperti ini bisa terjadi:
Orang itu berpikir sendiri
→ tidak memberi tahu pasangannya
→ tidak mencari tanggapan pasangannya
→ tidak memperbarui kebutuhan pasangannya
→ sampai pada kesimpulan sendiri
→ suatu hari menjauh diam-diam
Pertukaran informasi di antara keduanya lemah.
Bagi pasangannya, ini bisa terasa seperti "aku memberi begitu banyak tapi tidak menerima apa-apa".
Tetapi studi ini tidak mengukur mengapa seseorang bertindak begitu.
Apakah dia tidak peduli pada pasangan? Sulit menyadari sesuatu? Merasa kedekatan itu berat? Menyayangi tetapi tidak menunjukkannya? Merasa hubungan tidak perlu dirawat? Data ini tidak bisa menjawabnya.
Jadi membaca "ciri autisme = egois" dari hasil ini terlalu dipaksakan.
Kelekatan memberi cerita yang lebih jelas
Hubungan dengan AQ lebih kuat pada kecemasan kelekatan (+0,28) dan penghindaran kelekatan (+0,33) daripada pada memberi manfaat (−0,11).
Kecemasan dan penghindaran juga menarik perilaku ke arah yang berlawanan.
Orang dengan kecemasan tinggi takut ditinggalkan. Mereka bisa melakukan lebih banyak hal penuh kasih, dan juga lebih banyak hal yang menekan atau mengendalikan.
Orang dengan penghindaran tinggi menjaga jarak dari kedekatan, jadi cenderung memberi manfaat lebih sedikit.
Karena itu, lebih dekat dengan isi studinya kalau dibaca begini:
ciri yang ditangkap AQ → beberapa jalur, seperti gaya kelekatan → perilaku dalam cinta
dan bukan satu garis lurus dari "ciri autisme" ke "perilaku dalam cinta".
Untuk tahu apa yang khas pada ciri autisme, perlu studi lain
Studi yang lebih kuat tidak hanya memakai skor total AQ. Skor itu akan dipecah dan tiap bagian dilihat sendiri:
- keterampilan sosial dan komunikasi
- perhatian pada detail
- kesukaan pada rutinitas dan hal yang bisa diduga
- imajinasi dan memahami apa yang dipikirkan orang lain
Kalau hanya "komunikasi sosial" yang memprediksi perilaku dalam cinta, hasilnya hampir "ya iyalah".
Tetapi kalau setelah pertanyaan sosial dikendalikan, hal seperti fokus pada detail atau kesukaan pada rutinitas masih memprediksi perilaku dalam cinta, barulah ini menarik: itu hubungan yang khas pada ciri autisme, lebih dari sekadar kesulitan bergaul.
Kita juga memerlukan laporan dari pasangan, rekaman percakapan nyata, studi yang mengikuti orang dari waktu ke waktu, perbandingan dengan orang yang didiagnosis autisme, dan pengulangan di negara lain.
Kesimpulan: jangan bilang "autis jadi tidak punya kasih sayang"; lihat apa yang diukur
Yang bisa dikatakan: pada penduduk umum, skor AQ punya beberapa hubungan dengan perilaku menjaga hubungan, terutama dengan kelekatan.
Yang tidak bisa dikatakan:
"Orang autis hanya memikirkan dirinya sendiri."
"Orang autis tidak mendukung pasangannya."
"AQ tinggi berarti suka menguji pasangan."
"Autisme berarti tidak ada kasih sayang."
Ini lompatan ke watak dan sebab.
Ringkasan yang paling bersih adalah ini:
Orang yang skornya tinggi pada skala yang sebagian menangkap kesulitan berkomunikasi juga berperilaku sedikit berbeda dalam cinta. Tetapi bedanya kecil, dan ceritanya berubah menurut kelekatan, usia, tumpang tindih antarskala, dan cara menganalisis data.
... Begitulah.
Setelah mendaki gunung iklan, bos terakhirnya ternyata bukan "autisme".
Yaitu validitas konstruk: apakah skala itu benar-benar mengukur apa yang diklaimnya.
Daftar pustaka
- Łukasik A, Łaba-Hornecka A. Autistic-Like Traits in Members of the General Population and Mate Retention Tactics: The Mediation of Attachment Styles and Reproductive Strategies. Evolutionary Psychology. First published online September 3, 2026. https://doi.org/10.1177/14747049261473640
- Baron-Cohen S, Wheelwright S, Skinner R, Martin J, Clubley E. The Autism-Spectrum Quotient (AQ). Journal of Autism and Developmental Disorders. 2001. https://doi.org/10.1023/A:1005653411471
- English MCW, Gignac GE, Visser TAW, Whitehouse AJO, Maybery MT. A comprehensive psychometric analysis of Autism-Spectrum Quotient factor models. Autism Research. 2020. https://doi.org/10.1002/aur.2198
- Murray AL, Booth T, McKenzie K, Kuenssberg R. What range of trait levels can the Autism-Spectrum Quotient measure reliably? Psychological Assessment. 2016. https://doi.org/10.1037/pas0000215





