Tes Bakat saat Melamar Kerja: Nilai Tinggi Berarti Jago Kerja?

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar. Game pecah bata mengubah kata-kata artikel menjadi bata yang bisa Anda hancurkan.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Banyak perusahaan memakai tes bakat untuk menyeleksi pelamar. Isinya biasanya soal membaca, berhitung, logika, dan kepribadian.

Tes ini praktis karena bisa membandingkan banyak pelamar dalam waktu singkat. Penelitian juga tidak membantah bahwa kemampuan membaca dan berhitung dasar membantu seseorang belajar pekerjaan lebih cepat dan menghasilkan kinerja yang cukup baik.

Namun ada lompatan yang tidak boleh dilakukan.

Nilai tinggi di tes bakat tidak sama dengan jago bekerja di tempat kerja sungguhan.

Di dunia kerja, tidak ada yang memberi Anda soal dengan pilihan A sampai D. Kadang informasinya kurang. Kadang dua orang bercerita dengan versi yang berbeda. Kadang ada beberapa jawaban yang masuk akal, dan pekerjaan macet kalau tidak ada yang memutuskan.

Selain itu, kecerdasan buatan (AI) sekarang bisa memahami teks dan menghitung soal sederhana dalam hitungan detik. Ujian yang hanya mengukur apa yang bisa diselesaikan seseorang sendirian dan dikejar waktu jadi makin jauh dari kenyataan kerja.

Yang penting bukan hanya pengetahuan atau kecepatan. Perhatikan juga hal-hal ini:

  • Bisakah ia menyebutkan masalah yang sebenarnya?
  • Berani membuat dugaan saat informasi kurang?
  • Bisa menentukan mana yang didahulukan?
  • Bisa menyamakan langkah dengan pihak-pihak terkait?
  • Menjelaskan dengan jelas siapa bertanggung jawab atas apa?
  • Menyelesaikan apa yang dimulai?
  • Mau belajar hal-hal yang hanya bisa dipelajari di tempat kerja itu?
  • Memeriksa hasil dari AI dan alat bantu lainnya?
  • Menghormati hak orang lain untuk memutuskan sendiri?

Hasil kerja datang dari gabungan banyak kemampuan seperti ini.

Dan ada jebakannya: orang yang sangat mampu belum tentu menjadi atasan yang baik.

Bagian 1. Apa yang diukur tes bakat dan apa yang tidak

1. Kemampuan kognitif umum tetap ada gunanya

Kemampuan kognitif umum (dalam bahasa Inggris disebut GMA) mencakup kemampuan dasar: memahami bacaan, bernalar, berhitung, dan cepat belajar.

Banyak penelitian menunjukkan kemampuan ini punya hubungan tertentu dengan kinerja kerja dan nilai pelatihan. Pada pekerjaan yang rumit, yang menuntut kita memahami hal baru dan menggabungkan pengetahuan, kemampuan ini sangat membantu.

Karena itu, kesimpulan bahwa "tes bakat sama sekali tidak ada gunanya" juga tidak tepat.

Kalau seseorang sangat kesulitan membaca, tidak bisa mengolah hubungan angka dasar, atau tidak bisa memahami maksud instruksi dalam waktu singkat, tergantung jenis pekerjaannya, kesulitan nyata bisa muncul. Untuk memeriksa batas minimal kemampuan dasar, tes ini masuk akal.

2. Tetapi nilai tinggi tidak sama dengan jago kerja

Masalahnya adalah ketika nilai tes bakat diperlakukan seolah-olah itulah kemampuan kerja itu sendiri.

Tahu apa masalah yang sebenarnya

Ini kemampuan untuk merumuskan masalah sebenarnya apa.

Dalam ujian, soalnya sudah diberikan. Di pekerjaan nyata, kamu sendiri yang harus menilai siapa yang kesulitan, kondisi apa yang perlu diperbaiki, apakah penyebab dan gejala tertukar, dan apakah hal itu benar-benar layak ditangani.

Tahu mana yang didahulukan

Semua hal tidak bisa dikerjakan sekaligus.

Perlu membandingkan tenggat, luas dampak, risiko hukum, dampak ke pelanggan, jumlah tenaga yang dibutuhkan, dan kemungkinan terulang, lalu memutuskan apa yang dikerjakan lebih dulu.

Tes bakat bisa mengukur kemampuan menyelesaikan soal yang diberikan, tetapi sulit mengukur apakah soal itu perlu diselesaikan sekarang.

Mengambil keputusan walau informasi belum lengkap

Dalam pekerjaan nyata, kalau menunggu informasi lengkap, sering kali sudah terlambat.

Karena itu perlu merapikan fakta yang ada saat ini, memisahkan hal yang belum jelas, menaruh hipotesis, bergerak dalam batas yang masih bisa dikoreksi, lalu memperbaiki begitu informasi baru masuk.

Ini bukan sekadar menebak jawaban benar, melainkan kemampuan membuat keputusan sementara dan merevisinya.

Menyamakan langkah dengan orang lain

Meski tahu jawaban yang benar, kalau pihak-pihak terkait tidak bergerak, pekerjaan tidak jalan.

Namun di sini pun ada perbedaan penting.

  • Koordinasi untuk menyampaikan persoalan ke atasan atau departemen lain
  • Koordinasi untuk menata informasi, wewenang, dan peran agar bawahan mudah bergerak

Ada atasan yang kuat di yang pertama tetapi lemah di yang kedua.

Menyelesaikan sampai tuntas

Memulai dan menyelesaikan itu berbeda.

Banyak orang bisa sampai tahap mengeluarkan ide, memberi instruksi, dan memutuskan dalam rapat, tetapi tidak sampai memeriksa perkembangan di tengah jalan, menyingkirkan hambatan, dan memverifikasi hasil di akhir.

Paham cara kerja di lapangan

Hanya pintar secara umum tidak cukup untuk mengetahui kendala khas di lapangan.

Peralatan, kontrak, peraturan, kebiasaan transaksi, sistem, riwayat kejadian, komposisi personel, dan sebagainya perlu dipelajari dan dimasukkan dalam pertimbangan.

Memeriksa hasil kerja AI

Di era AI, yang lebih penting daripada "bisa menyelesaikan semuanya sendiri" adalah apakah kondisi masukan sudah benar, apakah ada salah baca, apakah kesimpulan sesuai dengan premisnya, apakah ada pengecualian penting yang terlewat, dan apakah manusia sanggup menanggung keputusan akhir.

Yang dibutuhkan bukan sekadar memakai AI, melainkan kemampuan menilai bagian mana yang harus diperiksa agar terhindar dari kesalahan fatal.

3. Penelitian terbaru mengurangi bobot tes kemampuan kognitif

Tes kemampuan kognitif umum sudah lama dijelaskan sebagai "prediktor tunggal terkuat".

Namun belakangan ada yang menunjukkan bahwa angka-angka lama bisa jadi terlalu tinggi karena koreksi statistik. Sebuah meta-analisis (penelitian yang menggabungkan banyak penelitian) yang diperbarui pada 2024 melaporkan hal ini: jika riwayat pekerjaan, wawancara terstruktur, sifat teliti, tes integritas, dan tes penilaian situasi digabung, daya prediksi seluruh seleksi hampir tidak turun dalam banyak kombinasi meski tes kemampuan kognitif umum dibuang.

Ini bukan berarti kemampuan kognitif tidak diperlukan.

Lebih tepatnya: kemampuan kognitif hanyalah salah satu petunjuk untuk memperkirakan hasil kerja, dan tidak perlu diletakkan di pusat sekuat yang dulu dikira.

Tes bakat sebaiknya hanya jadi pendukung. Yang lebih masuk akal: pusat seleksi adalah tugas yang mirip pekerjaan sebenarnya, wawancara terstruktur, contoh nyata dari pengalaman sebelumnya, dan pengecekan cara kerja orangnya.

4. AI mengubah arti sebuah tes

AI generatif cukup mampu menangani tugas yang mirip tes bakat konvensional, seperti menyusun urutan kalimat, merangkum, menghitung persentase, dan merapikan syarat-syarat.

Maka, pada tes yang dikerjakan di rumah tanpa pengawasan, hasil pengukurannya bercampur antara kemampuan orangnya, apakah memakai AI atau tidak, kualitas gambar atau teks yang dimasukkan, cara memberi perintah ke AI, kemampuan memeriksa jawaban, serta kecepatan koneksi dan pengoperasian.

Dalam keadaan ini, sulit menafsirkan "nilai = kemampuan kognitif orang itu".

Pada seleksi ke depan, daripada hanya melarang AI, lebih dekat dengan kenyataan kerja jika kita menganggap AI akan dipakai. Lalu lihat bagaimana pelamar merumuskan masalah, apa yang ia serahkan ke AI, bagian mana dari hasilnya yang ia ragukan, bagaimana ia memeriksanya, dan bagaimana ia menjelaskan keputusan akhirnya.

Bagian 2. Karyawan yang hebat belum tentu jadi atasan yang baik

1. Atasan yang cepat berpikir dan pandai meyakinkan pimpinan

Di tempat kerja ada orang yang dengan informasi tidak lengkap cepat menyusun hipotesis, menelusuri lapangan, dan bisa menyampaikan urusan ke atasan maupun departemen lain.

Tipe seperti ini terlihat sangat cakap dari luar.

  • Cepat mengumpulkan informasi
  • Pengetahuan lapangannya kaya
  • Bisa memutuskan di tempat
  • Pandai menjelaskan kepada pimpinan
  • Kuat bernegosiasi dengan departemen lain yang sejajar
  • Kalau ia sendiri yang bergerak, urusan bisa maju

Memang, sebagai pemain di lapangan mereka kuat.

Masalahnya, kemampuan itu belum tentu langsung menjadi kemampuan mengelola.

2. Jadi atasan bukan berarti mengerjakan semuanya sendiri

Seorang pemain bisa menghasilkan kinerja kalau ia sendiri yang menyelesaikan masalah.

Atasan, selain itu, perlu memperjelas tujuan, menunjukkan kriteria penilaian, menentukan prioritas, menetapkan penanggung jawab dan wewenang, mendukung di tengah jalan, memastikan pekerjaan tuntas, dan membuat orangnya bisa mengulanginya sendiri lain kali.

Hasil kerja atasan sebaiknya diukur bukan dari seberapa banyak ia memproses sendiri, melainkan dari apakah ia berhasil menciptakan keadaan di mana tim bisa memutuskan dan bergerak meski ia tidak ada.

Atasan yang meneliti sendiri, memutuskan sendiri, dan membereskan sendiri sekilas tampak bekerja cepat. Namun kriteria keputusan tidak tertinggal pada bawahan, sehingga masalah yang sama berkali-kali kembali ke atasan.

Akibatnya, atasan selalu sibuk, bawahan tidak mandiri, pekerjaan bergantung pada satu orang, semuanya berhenti saat atasan tidak ada, perintah susulan bertambah, dan kriteria penilaian hanya ada di kepala atasan.

3. Berhubungan dengan pimpinan dan memimpin tim sendiri adalah dua keahlian berbeda

Kemampuan koordinasi juga punya arah.

Ke pimpinan dan ke bagian lain

  • Meyakinkan atasan
  • Mendapat kerja sama dari departemen lain
  • Memenangkan pendapat di rapat
  • Membaca politik kantor
  • Melindungi urusannya sendiri

Ke tim sendiri

  • Memberi bawahan informasi yang dibutuhkan
  • Memperjelas siapa yang memutuskan
  • Menunjukkan prioritas
  • Membuat hak untuk menolak dan jalur konsultasi
  • Menyamakan tanggung jawab dengan wewenang
  • Menyisakan ruang agar bawahan bisa berpikir sendiri

Ada orang yang sangat kuat dalam koordinasi ke atas dan ke samping, tetapi lemah dalam koordinasi ke bawah.

Orang seperti itu terlihat bagi pimpinan sebagai "atasan yang bisa diandalkan", tetapi bagi bawahannya ia tampak sebagai orang yang "tidak jelas standarnya", "tidak tahu kapan omongannya berubah", dan "apa pun yang dikerjakan, selalu ditambah".

4. Saat "pembinaan" hanya menguntungkan atasan

Membina orang juga punya dua bentuk yang mirip tetapi berbeda.

Pembinaan yang bertujuan membuat orang lain mandiri melihat posisi orang itu sekarang, menjelaskan kriteria keputusan dengan kata-kata, menyerahkan pekerjaan dalam batas yang boleh gagal, memanfaatkan kelebihan orangnya, dan akhirnya mengarah ke keadaan di mana atasan tidak perlu turun tangan lagi.

Sebaliknya, pembinaan yang bertujuan demi kenyamanan atasan membuat orang menghafal cara kerja atasan, supaya atasan tidak perlu menjelaskan, supaya orang itu menebak harapan atasan lebih dulu, menganggap yang tidak menurut sebagai kurang paham, dan pada akhirnya atasan sendiri yang membereskan.

Yang kedua ini pun dari luar tampak seperti pembinaan yang penuh semangat.

Tetapi bila orangnya tidak memegang hak memutuskan, itu bukan dukungan untuk mandiri, melainkan latihan untuk menanamkan cara berpikir atasan ke dalam dirinya.

Bagian 3. Saat niat baik berubah menjadi pengendalian

1. Berniat baik belum tentu menghormati batas

Menaruh perhatian pada orang lain itu tidak buruk. Memberi saran dan membagi pengalaman juga perlu.

Masalahnya, di mana berhenti.

Saran yang sehat berbentuk seperti ini: "Menurut saya begini. Pakai sebagai bahan pertimbangan kalau perlu. Yang memutuskan akhirnya tetap kamu."

Saran yang melewati batas berbentuk seperti ini: "Saya melihat lebih jauh daripada dia. Kalau dia memilih yang lain, itu karena dia belum paham."

Niat baik yang kuat tidak berarti lebih aman. Sebaliknya, karena merasa berniat baik, orang jadi sulit mencurigai campur tangannya sendiri.

Bertanya sampai ke dalam disebut "peduli", memastikan masa depan orang lain disebut "pandangan jangka panjang", tidak membolehkan menolak disebut "serius menghadapi", dan penolakan orang lain ditafsirkan sebagai "belum paham".

Begitulah hak seseorang untuk menentukan pilihannya sendiri perlahan hilang.

2. Memikirkan kebaikan orang lain bukan berarti menentukan hidupnya

Hal yang perlu dipastikan oleh atasan atau petugas rekrutmen adalah sebatas yang dibutuhkan pekerjaan.

  • Apakah ia bisa menjalankan isi pekerjaan
  • Apakah ia bisa menyetujui kondisi kerja
  • Apakah ada penyesuaian yang diperlukan
  • Bagaimana ia ingin bekerja
  • Bagaimana pengalamannya bisa dimanfaatkan

Perencanaan hidup setelah itu adalah wilayah orang yang bersangkutan.

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang (instansi pemerintah Jepang yang menangani ketenagakerjaan dan jaminan sosial) juga meminta agar dalam seleksi yang adil, informasi kehidupan pribadi yang tidak berkaitan dengan kecocokan dan kemampuan orang itu tidak dicari tahu, dan agar butir pertanyaan serta kriteria penilaian ditetapkan lebih dahulu.

Yang penting bukan apakah ada niat menjadikannya kriteria penerimaan. Begitu suatu informasi diketahui, ia akan tercampur ke dalam penilaian orang tanpa disadari. Karena itu yang diperlukan bukan "bertanya lalu memperlakukan dengan adil", melainkan rancangan untuk tidak mengumpulkan informasi yang tidak perlu bagi pekerjaan sejak awal.

3. Makin pandai bernalar, makin meyakinkan cerita yang keliru

Kalau informasi kurang, orang mengisi kekosongan dengan cerita.

Orang yang penalarannya tinggi bisa menghubungkan banyak informasi dan membuat penjelasan yang runtut. Tetapi runtut tidak sama dengan benar.

Gambaran masa depan yang tidak pernah diucapkan orangnya, nilai-nilai yang tidak ia pilih, kehidupan yang diandaikan ia inginkan, jalur karier yang dinilai "demi kebaikannya". Kalau semua ini ditumpuk, terbentuklah gambaran orang yang presisi tetapi mustahil diverifikasi.

Yang dibutuhkan orang berpenalaran tinggi bukanlah bernalar lebih banyak lagi.

  • Ini fakta?
  • Ini hipotesis?
  • Sudah dikonfirmasi ke orangnya?
  • Bukankah ini wilayah yang ia sendiri putuskan?
  • Kalau saya salah, bisakah diperbaiki?

Yang perlu dilakukan adalah membedakan hal-hal ini.

4. Memberi pendapat itu satu hal, tidak mau melepas pembicaraan itu hal lain

Penasihat yang matang, setelah menyampaikan pendapat, bisa mengembalikan keputusan kepada orangnya.

"Saya berpikir begini. Kalau kamu berpikir begitu, saya hormati pilihanmu."

Hanya dengan satu kalimat ini, konsultasi dan penguasaan sudah terpisah.

Orang yang melewati batas tidak bisa menutup pembicaraan ketika lawan bicaranya sampai pada kesimpulan yang berbeda dari dirinya.

Ia merasa penjelasannya belum cukup, lawannya belum benar-benar paham, kalau dijelaskan lagi pasti mengerti, dan terus berlanjut sampai kebenarannya sendiri diterima.

Makin logis penerima menjelaskan, makin dianggap "masih bisa dibicarakan", dan waktu yang tersita bahkan bisa makin panjang.

Masalah ini bukan karena penerima kurang pandai menjelaskan. Masalahnya adalah tidak bisa mengakui hak orang lain untuk mengambil keputusan yang berbeda.

Bagian 4. Yang menuntut kesempurnaan harus ikut bertanggung jawab melaksanakannya

1. Benar secara teori belum tentu bisa dijalankan

Di organisasi, mengatakan hal yang benar tidaklah sulit.

Harus dicek semuanya, kesalahan harus dihilangkan, mutu harus dinaikkan, harus dijelaskan dengan teliti, harus ditangani cepat, harus dibagikan ke semua orang. Semuanya pada prinsipnya benar.

Tetapi tenaga, waktu, anggaran, dan wewenang ada batasnya.

Dalam kenyataan, sama pentingnya dengan "apa yang dikerjakan", kita harus menentukan "apa yang tidak dikerjakan", "apa yang ditunda", dan "siapa yang bertanggung jawab".

2. Satu orang menuntut yang ideal, orang lain yang mewujudkannya

Dalam pembagian peran yang tidak sehat, pihak yang memberi perintah menyampaikan idealisme, menambah syarat, ngotot soal mutu, dan menunjuk kekurangan, sementara pihak yang melaksanakan menelusuri kondisi lapangan, mengoordinasikan pihak terkait, mewujudkannya dalam tenggat, mengatur prioritas dengan pekerjaan lain, dan menjelaskan kalau gagal.

Dalam struktur ini, pihak yang memberi perintah selalu bisa berada di posisi benar.

Sebab kalau pelaksana bilang "tidak bisa", dianggap kurang usaha, dan kalau dipaksakan lalu gagal, dianggap salah pelaksanaan.

3. Cara mengembalikan tanggung jawab dengan sopan

Yang dibutuhkan bukan bantahan, melainkan penjelasan syarat secara eksplisit.

Saya mengerti arahannya. Dengan jumlah personel dan tenggat saat ini, tidak mungkin dijalankan bersama pekerjaan yang sudah ada. Jika pelaksanaan diwajibkan, mohon tentukan pekerjaan mana yang ditunda, siapa penanggung jawabnya, kapan tenggatnya, dan siapa yang menyetujui.

Selanjutnya, jika keinginan pribadinya sangat kuat, jawablah seperti berikut.

Jika standar dan cara itu diwajibkan, mohon ditangani oleh pihak yang memegang wewenang keputusan dan tanggung jawab pelaksanaan.

Ini bukan meninggalkan pekerjaan. Ini hanya mengembalikan keputusan dan tanggung jawab sebagai satu paket kepada orang yang mengajukan keinginan itu.

4. "Tidak semua beres hanya dengan benar" berlaku juga untuk atasan

Kata-kata "organisasi tidak bergerak hanya dengan ucapan yang benar" memang betul.

Namun ucapan itu tidak hanya berlaku bagi bawahan. Ucapan benar dari atasan pun terikat batasan kenyataan.

Kalau ngotot dengan usulannya sendiri, ia juga harus menanggung biaya koordinasi dan tanggung jawab pelaksanaan.

Bagian 5. Mengapa pelatihan saja tidak mengubah orang

1. Tahu dan melakukan adalah dua hal berbeda

Ada orang yang perilakunya tidak berubah walau sudah mengikuti pelatihan tentang hak asasi manusia, pelecehan, seleksi yang adil, atau rasa aman psikologis.

Salah satu sebabnya, orang itu tidak menggolongkan dirinya ke pihak yang berperilaku bermasalah.

Di dalam dirinya, pelecehan itu membentak, sedangkan ia sedang membimbing; pelecehan itu serangan yang berniat jahat, sedangkan ia bertindak demi kebaikan orang itu. Begitulah ia merapikannya.

Maka, meski paham isi pelatihan, isinya tidak diterapkan pada perilakunya sendiri.

2. Yang diberi penghargaan setiap hari lebih kuat daripada pelatihan

Kalau di dalam organisasi, orang yang melewati batas dan ikut campur dinilai rajin bekerja, disebut perhatian pada orang, dipercaya pimpinan, tidak ada yang menghentikan, dan tidak dimintai tanggung jawab atas hasilnya, maka ia tidak perlu berubah.

Pengalaman sukses setiap hari lebih kuat daripada menonton video pelatihan satu jam.

Laporan Komisi Kesempatan Kerja yang Setara Amerika Serikat (EEOC, lembaga pemerintah AS yang menangani diskriminasi di tempat kerja) juga menyebutkan bahwa pelatihan saja tidak cukup, melainkan diperlukan sistem menyeluruh yang mencakup perilaku pimpinan, kebijakan yang jelas, mekanisme pelaporan, penyelidikan, tindakan perbaikan, serta penilaian dan pertanggungjawaban manajer.

Pelatihan memberi pengetahuan. Yang mengubah perilaku adalah sistem penilaian, wewenang, tanggung jawab, dan perbaikan.

3. Sedikit orang berkuasa pun bisa membentuk budaya kantor

Meski orang yang melewati batas hanya minoritas dalam seluruh organisasi, kalau jabatan atau pengaruhnya besar, kerugiannya tidak terbatas.

Sebab mereka bisa ikut campur dalam rekrutmen, penilaian, penempatan, pembinaan, rapat, prioritas, dan pembagian informasi.

Masalahnya bukan jumlah orang, tetapi seberapa jauh ia bisa menguasai waktu dan keputusan orang lain di dalam organisasi.

Bagian 6. Berjalan sambil bicara keras-keras: merapikan pikiran dan menjaga kesehatan

1. Berjalan lebih dari sekadar menenangkan diri

Saat pikiran tidak mau berhenti, terus memikirkannya sambil duduk di rumah membuat kita mudah mengulang poin yang sama.

Sebaliknya, kalau berpikir sambil berjalan dan mengucapkannya, gumpalan di kepala berubah jadi kata-kata, karena menjadi kalimat maka mulai berurutan, AI atau lawan bicara memberi sudut pandang lain, pemandangan dan sensasi tubuh berubah, panas emosi turun, fakta dan tafsiran terpisah, dan kita bisa menutupnya dengan menentukan langkah berikutnya.

Ini bukan jalan-jalan biasa. Ini kebiasaan berpikir yang menyatukan olahraga, mengeluarkan isi pikiran, dialog, pengaturan emosi, dan pengambilan keputusan.

(Di sini, "curhat ke tembok" seperti latihan tenis dengan memukul bola ke tembok lalu menerima pantulannya: mengeluarkan pikiran dalam kata-kata dan merapikannya lewat tanggapan AI atau orang lain.)

2. Berjalan membantu munculnya ide baru

Tinjauan sistematis dan meta-analisis tentang berjalan dan pemikiran kreatif yang dipublikasikan pada 2026 menganalisis 23 penelitian dengan total 1.036 orang, dan menunjukkan bahwa berjalan memberi peningkatan besar pada pemikiran divergen (cara berpikir yang melebarkan banyak ide). Di sisi lain, pengaruhnya terhadap pemikiran konvergen yang menyempit ke satu jawaban benar tidak jelas.

Ini sesuai dengan yang kita rasakan.

Saat berpikir sambil berjalan, mencari penjelasan lain, menemukan struktur yang sama, mengingat contoh, mengganti sudut pandang, dan menyusun ulang kata terasa lebih lancar.

Meski begitu, saat menetapkan keputusan akhir diterima atau tidak, kontrak, nominal, tenggat, dan sejenisnya, sebaiknya duduk dan memeriksanya setelah berjalan.

Yang cocok dilakukan saat berjalan

  • Mengeluarkan emosi
  • Memecah poin persoalan
  • Menambah hipotesis
  • Mencari struktur yang sama
  • Membuat kerangka tulisan

Yang sebaiknya dilakukan setelah berjalan

  • Memeriksa angka
  • Memeriksa bukti
  • Keputusan akhir
  • Mengirim email
  • Memastikan kontrak atau jadwal

3. Bicara sendiri keras-keras mengubah overthinking menjadi berpikir yang berguna

Memikirkan hal yang sama berulang-ulang, atau overthinking, tidak selalu maju ke kesimpulan walau banyak yang dipikirkan.

Dalam curhat ke tembok, kita mengeluarkan pikiran, menerima tanggapan, dan memadatkan kata-kata.

Peristiwa-peristiwa terpisah yang tadinya tersisa sebagai serpihan seperti "gigih sekali", "bicaranya panjang", "instruksinya berubah-ubah", "katanya demi kebaikanku", "kalau menolak dianggap belum paham", bisa dirangkum menjadi satu penjelasan: struktur yang menerobos hak keputusan dan tanggung jawab pelaksanaan orang lain.

Begitu penjelasan dipadatkan, cara menyikapinya pun berubah dari "membujuk lawan" menjadi "memisahkan fakta, hipotesis, tanggung jawab, wewenang, dan pilihan orang yang bersangkutan".

4. Tubuh pun ikut untung

Berjalan secara teratur baik untuk jantung dan pembuluh darah, gula darah, tidur, suasana hati, dan menjaga kebugaran.

Meski berat badan tidak langsung turun, kalau waktu berpikir sambil duduk diganti dengan berjalan, aktivitas fisik bertambah.

Terutama kebiasaan berjalan dengan tujuan merapikan pikiran mudah dipertahankan tanpa harus menyediakan waktu olahraga tersendiri.

5. Lima pertanyaan untuk menutup sesi jalan kaki

Saat berpikir sambil berjalan, lebih mudah menutupnya kalau di akhir dibagi ke lima hal berikut.

Fakta

Apa yang benar-benar bisa dipastikan.

Tafsiran

Apa artinya menurut saya.

Dugaan

Dugaan apa yang belum bisa dipastikan.

Yang bisa saya kendalikan

Apa yang bisa saya ubah.

Langkah berikutnya

Satu hal apa yang akan saya lakukan hari ini atau lain kali.

Di akhir, tentukan satu saja. Yang penting bukan hanya menambah pikiran, melainkan menyambungkannya ke tindakan.

Bagian 7. Cara mengetahui siapa yang benar-benar jago kerja

1. Jangan memutuskan dari satu ujian saja

Dalam rekrutmen dan penilaian, sebaiknya tidak bergantung pada satu indikator saja.

Susunan yang lebih dekat dengan praktik kira-kira seperti berikut:

  • Memeriksa lewat tes kemampuan dasar batas minimal kemampuan membaca, pemahaman angka, dan dasar belajar
  • Dalam wawancara terstruktur, menanyakan pertanyaan inti yang sama kepada semua orang dan menetapkan kriteria penilaian sebelumnya
  • Memeriksa contoh perilaku masa lalu secara konkret
  • Menangani contoh kerja (tugas nyata) yang dekat dengan pekerjaan sebenarnya
  • Dalam kondisi AI boleh dipakai, melihat masukan, pemeriksaan, perbaikan, dan penjelasannya
  • Melihat bagaimana ia menata tanggung jawab, wewenang, prioritas, dan cara berkonsultasi

2. Apa yang perlu dinilai pada calon atasan

Atasan perlu dinilai bukan hanya dari kemampuan memprosesnya sendiri, tetapi juga dari hal-hal berikut.

  • Apakah ia menciptakan keadaan di mana bawahan bisa memutuskan
  • Apakah ia menunjukkan tujuan dan kriteria sejak awal
  • Apakah ia menyamakan tanggung jawab dengan wewenang
  • Apakah ia tidak menyita waktu bawahan lebih dari perlu
  • Apakah ia tidak menganggap perbedaan pendapat sebagai kurang paham
  • Apakah setelah memberi saran ia mengembalikan pilihan kepada orangnya
  • Apakah ia menjelaskan saat mengubah syarat di tengah jalan
  • Apakah ia menanggung tanggung jawab pelaksanaan atas keinginannya sendiri
  • Apakah pekerjaan tetap berjalan meski ia tidak ada
  • Apakah setelah dibina, kemandirian orangnya meningkat

Hal-hal ini hampir tidak bisa diukur dengan tes kemampuan kognitif yang singkat.

3. Jangan cari orang sempurna, cari orang yang bisa dilengkapi tim

Hampir tidak ada orang yang memiliki semua kemampuan pada tingkat tinggi.

Masalahnya bukan pada adanya kelemahan.

  • Apakah ia tahu kelemahannya sendiri
  • Apakah ia bisa memanfaatkan kelebihan orang lain
  • Apakah bisa ditutup dengan sistem
  • Apakah ia bisa memperbaiki kesalahan
  • Apakah ia tidak melimpahkan biaya kelemahannya kepada bawahan

Itulah yang penting.

Kesimpulan

Tes bakat punya makna tertentu sebagai alat untuk memeriksa kemampuan dasar.

Namun, mampu atau tidaknya seseorang bekerja tidak ditentukan oleh tes itu saja.

Dalam pekerjaan nyata, kita perlu merumuskan masalah, menyusun hipotesis dengan informasi tidak lengkap, menentukan prioritas, menggerakkan pihak terkait, membagi tanggung jawab dan wewenang, menyelesaikan sampai tuntas, mempelajari lapangan, memeriksa AI, dan menjaga hak orang lain untuk menentukan pilihannya sendiri.

Lagi pula, cakap sebagai pemain belum tentu cakap sebagai atasan.

Kalau orang yang penalaran dan koordinasinya tinggi tidak bisa memisahkan hipotesis dari fakta, saran dari keputusan, wilayahnya dari wilayah orang lain, kemampuan itu berubah dari dukungan menjadi penguasaan.

Inti penyikapannya bukanlah mengalahkan lawan dalam debat.

  • Pisahkan fakta dan hipotesis
  • Pisahkan saran dan keputusan
  • Pasangkan keinginan pribadi dengan tanggung jawab pelaksanaannya
  • Kembalikan wilayah yang menjadi hak orangnya untuk memutuskan

Itulah intinya.

Dan ketika pikiran buntu, ucapkan dengan kata-kata sambil berjalan.

Menggerakkan tubuh, mengeluarkan pikiran, dan memadatkannya menjadi struktur adalah kebiasaan yang bisa membuat kerapian kerja dan kesehatan sama-sama menjadi untung.

Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaOrang Tua Menyita HP Anak DewasaBentuk Perhatian atau Kontrol?
  2. Tidur sampai Jam 1 Siang, Apakah Terlalu Lama?Cemas Sebelum Perubahan Besar, Mimpi Panjang Setelah Tidur Lagi, dan AC
  3. Beda sama sekali, tapi seruApa Itu Tren 1,000 Little Things di TikTok?Haruskah Membuat Seribu Daftar?
  4. Apa Bedanya Unaju dan Unadon?Di Hasebe Okazaki, Jawabannya 1,5 Kali Lebih Banyak Unagi—Ditambah Oshibori yang Panasnya Keterlaluan
  5. Kurcaci Menari Jinjit Itu dari Film Tahun 1980-an?Asal Meme “Tip Toein’ in My Jordans”
  6. Saya Tidur 18 Jam dalam SehariTidur Pemulihan atau Tanda yang Perlu Diwaspadai?

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Pekerjaan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.

Iklan

Artikel terbaru

  1. 1Sulit Tidur karena Fantasi Erotis Terlalu Seru? Lima Film Baru Tayang di Kepala
  2. 2Cemas Menjelang Hari Pertama Kerja? Datang Dulu dan Lihat Keadaannya
  3. 3Panduan 4 ending Hazard Crew: mengapa Luca gagal meski Affection 12?
  4. 4Dari 30 Ribu ke 100 Ribu Tayangan Halaman per Bulan: Mengapa Artikel Otomatis Belum Menjamin Trafik dan Pendapatan Stabil?
  5. 5Apakah Protein Bubuk Mempercepat Hilangnya Nyeri Otot dan Membuat Berat Badan Lebih Mudah Turun?
Iklan