Hidup sebagai karyawan tidak ditentukan oleh nama perusahaan saja
Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang bapak yang dulu bekerja di perusahaan besar.
Sejak muda ia bekerja sebagai teknisi di anak perusahaan sebuah pabrikan besar. Sebagian besar kariernya dipakai untuk merawat dan memperbaiki mesin. Ia bekerja sampai pensiun. Sekarang ia berkebun sayur di rumah, dan perusahaan hanya memanggilnya saat butuh: beberapa hari seminggu, beberapa jam saja. Kedengarannya ia tidak bekerja karena "terpaksa demi bayar kebutuhan". Lebih seperti istrinya bilang, "Pergi saja, tidak apa-apa", jadi ia pergi.
Anak-anaknya sudah mandiri dan hubungan keluarganya baik. Ia punya hobi: berkebun, naik motor, main sepak bola, dan nonton pertandingan olahraga sampai larut malam. Kenalan lamanya dari dunia kerja masih ada. Meski sudah pensiun, orang-orang yang masih bekerja tetap datang minta saran. Ia membantu yang muda menyiapkan ujian kenaikan jabatan, dan sering diundang ke acara kumpul yang ramai.
Sambil ngobrol, saya berpikir:
Ini hidup kerja yang cukup bagus.
Tentu saja ia sudah melewati banyak hal. Katanya dulu lemburnya banyak. Ia pernah dinas ke luar negeri dan ditempatkan di luar negeri. Ujian kenaikan jabatannya juga berat. Ia menyerahkan dokumen ke atasan, disuruh perbaiki berkali-kali, sampai hampir sepuluh kali, lalu akhirnya kembali ke rancangan awal. Di perusahaannya, orang setengah bercanda menyebutnya "ujian kesabaran".
Meski begitu, ia bilang, "Saya tidak pernah ingin berhenti."
Lalu apa bedanya?
Menurut saya, di sini ada petunjuk yang sangat penting untuk memikirkan hidup kerja kita sendiri.
Lembur yang sama bisa jadi bekal atau malah menguras
Banyak lembur itu memang berat. Itu tidak bisa dibantah.
Tapi walaupun jam kerjanya sama, apa yang tertinggal sesudahnya bisa sangat berbeda.
Bagi bapak ini, lembur dan panggilan darurat bukan sekadar menguras tenaga.
Mesin rusak. Ia dipanggil. Ia mencari penyebabnya. Ia mengutak-atik mesinnya. Ia memperbaikinya. Pabrik terselamatkan. Keahliannya bertambah.
Lagi pula, ia memang suka sekali pekerjaan perawatan mesin. Kalau dikatakan terus terang, saat mesin rusak, ia berpikir, "Asyik, sekarang saya bisa mengutak-atiknya."
Itu keunggulan yang besar.
Bagi kebanyakan orang, mesin rusak hanya berarti kerjaan bertambah. Bagi dia, itu setengah kesempatan untuk unjuk kebolehan. Walau pekerjaan bertambah, ia bisa memakai keahlian andalannya. Makin banyak masalah, makin banyak pengalaman. Kalau berhasil memperbaiki, orang berterima kasih. Keahliannya pun tetap menjadi miliknya.
Kalau begitu, sibuk tidak selalu buruk.
Di tempat yang buruk, gambarannya begini:
Tugas yang tidak jelas dilempar ke Anda. Tidak ada yang menjelaskan tujuannya. Batas tanggung jawab tidak jelas. Syaratnya berubah di belakang. Walau sudah diajari, orang lain tetap defensif. Atasan menjaga gengsi, bukan menyelesaikan masalah. Pekerjaan menumpuk pada orang yang gampang dimintai tolong. Tapi gaji, riwayat kerja, dan kebebasan Anda tidak bertambah.
Kalau begitu, sesibuk apa pun, tidak ada yang tersisa.
Yang tersisa hanya lelah. Yang tersisa hanya sikap defensif. Malam dan akhir pekan hilang. Hobi, waktu luang untuk menulis, dan waktu untuk memikirkan masa depan juga hilang.
Jadi persoalannya bukan hanya ada atau tidaknya lembur.
Kerja keras itu akan kembali ke diri Anda di masa depan dalam bentuk apa?
Menurut saya, di situlah poin pentingnya.
Dikirim ke luar negeri dengan uang perusahaan juga imbalan nyata
Ia juga punya banyak pengalaman di luar negeri.
Ia pergi ke luar negeri untuk melihat mesin di lokasi, ikut memulai pengoperasian mesin baru, dan menangani masalah. Bahasa Inggrisnya tidak sempurna, tapi kalau paham pekerjaannya, tetap bisa lancar. Hotel dan transportasi dibayar perusahaan. Di sela pekerjaan, ia bisa mengunjungi tempat yang dulu hanya dilihat di film dan mengenal budaya setempat.
Yang menarik, ia bilang, "Di luar negeri saya tidak pernah mengalami hal yang tidak enak."
Bagi banyak orang, dinas atau penempatan di luar negeri sangat membuat stres. Bahasa, makanan, keamanan, rasa kesepian, serta terjepit antara pihak lokal dan pihak Jepang. Wajar kalau banyak kenangan buruk.
Tapi bagi dia, pergi ke luar negeri bukan hukuman. Itu petualangan.
Alasannya, di sana ia punya peran yang jelas.
Ia memeriksa mesin. Ia memperbaikinya. Ia berguna di lokasi. Setelah pekerjaan selesai, ia bisa melihat tempat yang tidak mungkin dikunjungi dengan cara lain, dibayari perusahaan. Dan setelah pulang, semuanya tetap ia simpan sebagai pengalaman.
Saya merasa ini salah satu kelebihan menjadi karyawan.
Dengan nama dan uang perusahaan, kita bisa mendapat pengalaman yang sulit didapat sendirian. Yang kembali bukan hanya gaji, tapi juga pengalaman hidup. Itu juga imbalan.
Setelah 60 tahun, lingkaran pertemanannya justru bertambah
Yang mengagumkan dari beliau bukan hanya masa kerjanya.
Setelah usia 60, ia mendapat tugas khusus: mengawasi lini produksi yang semrawut dan mendampingi karyawan muda. Dari situ muncul kenalan baru, dan setelah pensiun hubungan dengan orang-orang yang masih bekerja tetap berlanjut.
Dan "muda" di sini bukan hanya yang berusia dua puluhan. Karyawan usia tiga puluhan ke atas juga bertanya soal ujian kenaikan jabatan dan minta ia memeriksa dokumen mereka. Di hari libur, kadang satu kelompok besar berkumpul.
Ia bukan sekadar mantan karyawan.
Tanpa jabatan pun, orang-orangnya masih ada. Keahliannya masih ada. Kepercayaan di lapangan masih ada. Ia masih paham cara perusahaan menilai orang. Orang masih nyaman mengajaknya bicara.
Ini sangat penting.
Bagi sebagian orang, hidup kerja langsung jadi nol begitu pensiun. Tanpa kartu nama, hubungan ikut menipis. Tanpa jabatan, tidak ada lagi yang datang minta saran. Orang seperti itu ada.
Tapi dia berbeda.
Orang-orangnya masih ada. Hobinya masih ada. Keluarganya masih ada. Bahkan ia bisa memilih mau bekerja atau tidak.
Karena itu enak diajak bicara. Ia tidak defensif. Ia juga tidak tampak perlu membuat dirinya terlihat hebat.
Di tempat yang baik, kepercayaan berubah jadi kebebasan
Yang penting di sini adalah arti kepercayaan itu sendiri.
Di tempat yang baik, kepercayaan menjadi aset.
Anda dipercaya. Pekerjaan bagus datang. Keahlian meningkat. Anda punya lebih banyak keleluasaan. Jaringan terbentuk. Itu berubah jadi gaji dan riwayat kerja yang lebih kuat. Setelah pensiun pun orang masih minta saran. Anda bisa memilih mau bekerja atau tidak.
Itu kepercayaan sebagai aset.
Di tempat yang buruk, kepercayaan menjadi utang.
Anda dipercaya. Pekerjaan yang merepotkan datang ke Anda. Anda sulit menolak. Anda jadi serba bisa yang disuruh apa saja. Hanya tanggung jawab yang bertambah. Hidup Anda berantakan. Tapi gaji dan kebebasan tidak bertambah. Akhirnya Anda menjadi orang yang lelah dan selalu defensif.
Itu kepercayaan sebagai utang.
"Kepercayaan"-nya sama, tapi artinya berubah menurut tempatnya.
Karena itu, pikirkan baik-baik apakah layak berusaha mendapat kepercayaan di tempat kerja Anda sekarang. Kalau di sana kepercayaan berubah jadi kebebasan, silakan kejar. Kalau berubah jadi belenggu, lebih baik lindungi diri.
Di tempat yang baik, orang tidak perlu selalu waspada
Yang paling membekas dari obrolan itu adalah sikapnya yang santai dan setara.
Ia tidak berusaha membuktikan kehebatannya dalam percakapan. Ia tidak merendahkan yang lebih muda. Ceritanya ceria. Saat bicara tentang pengalamannya, kedengarannya bukan pamer, tapi kenangan dan pelajaran.
Sebagian memang karena wataknya.
Tapi saya rasa bukan hanya itu.
Dari hidup kerjanya, ia mendapat banyak imbalan.
Keahliannya tersisa. Penghasilannya tersisa. Keluarganya tersisa. Hobinya tersisa. Pengalaman luar negerinya tersisa. Hubungan dengan orang-orang tersisa. Pilihan setelah pensiun juga tersisa.
Jadi ia tidak perlu membuktikan "saya hebat" setiap kali bicara.
Sebaliknya, orang yang tidak mendapat imbalan itu cenderung defensif. Kalau kerja keras tidak berubah menjadi uang, kebebasan, atau rasa hormat, mereka hanya bisa mencari pengakuan lewat percakapan. Akibatnya, yang tampak seperti obrolan soal kerja sebenarnya permainan menentukan siapa yang lebih tinggi.
"Saya paham soal ini." "Saya lebih tinggi darimu." "Jangan remehkan saya." "Saya hebat."
Kalau pikiran seperti itu terus mengalir di balik ucapan seseorang, ngobrol dengannya saja sudah melelahkan.
Tentu saja ini bukan hanya kesalahan pribadi. Ada tempat kerja yang gampang membentuk orang seperti itu.
Hidup kerja yang baik berarti tidak ditelan perusahaan
Melihat bapak ini, saya sadar bahwa hidup kerja yang baik bukan berarti memberikan segalanya untuk perusahaan.
Justru sebaliknya.
Setelah bekerja di perusahaan, masih ada kehidupan di luar perusahaan. Keluarga masih ada. Hobi masih ada. Hubungan dengan orang-orang masih ada. Kebebasan masih ada. Keceriaan diri sendiri masih ada.
Itu kekuatan.
Yang membuat saya iri bukan hanya karena ia masuk perusahaan besar. Bukan juga karena ia dipanggil kembali setelah pensiun.
Yang membuat saya iri adalah ia ada di pihak yang bisa memilih mau bekerja atau tidak.
Hidupnya tidak berantakan. Keluarganya tidak berantakan. Hobinya tidak hilang. Perusahaan tidak menggenggam seluruh hidupnya. Namun apa yang ia bangun lewat pekerjaan benar-benar masih ada.
Itu mendekati yang saya idamkan.
Apakah di tempat kerja Anda ada orang dewasa yang ingin Anda tiru?
Tempat kerja bukan hanya soal pekerjaan. Ia juga etalase masa depan.
Lihat para kepala seksi, kepala bagian, direktur, orang yang sudah pensiun, dan yang dipekerjakan kembali setelah pensiun. Dari situ kita bisa kira-kira melihat seperti apa bekerja lama di perusahaan itu.
Apakah ada orang di sana yang membuat Anda berpikir, "Saya ingin seperti dia"?
Menurut saya ini sangat penting.
Saya ingin menua seperti orang itu. Saya ingin bekerja seperti orang itu. Saya ingin menjaga keluarga dan hobi seperti orang itu. Saya ingin tetap ceria seperti orang itu. Saya ingin tetap santai dan terbuka, tanpa defensif, seperti orang itu.
Tempat dengan orang seperti itu kuat.
Sebaliknya, kalau yang terlihat di puncak hanya sikap defensif, pamer, hidup yang hancur, tukang tambal segala urusan, dan politik kantor, itu gunung yang sebaiknya tidak didaki.
Bukan berarti saya tidak suka jadi karyawan. Yang tidak saya suka adalah masa depan yang terlihat dari tempat itu.
Kesimpulan: karier sebagai karyawan layak dijalani kalau kerja keras kita kembali
Yang penting dalam hidup kerja bukan ada atau tidaknya kesulitan.
Yang penting adalah apa yang ditinggalkan kesulitan itu untuk diri Anda di masa depan.
Kalau yang tersisa adalah uang, keahlian, kepercayaan, jaringan, keluarga, hobi, kebebasan, dan rasa percaya diri, kerja keras itu sudah kembali.
Kalau yang tersisa hanya lelah, sikap defensif, riwayat sebagai tukang tambal segala urusan, ritme hidup yang rusak, dan kemampuan membaca suasana yang hanya berguna di satu perusahaan, kerja keras itu belum kembali.
Lembur yang sama bisa menjadi bekal hidup di satu tempat, dan hanya menguras di tempat lain.
Kepercayaan yang sama bisa berubah jadi kebebasan di satu tempat, dan jadi belenggu di tempat lain.
Bahkan di antara sesama karyawan, ada yang pensiun dengan ceria dan menikmati hobinya, ada pula yang terus bekerja dengan sikap defensif demi bertahan hidup meski sudah tua.
Karena itu, saat memikirkan apakah akan terus jadi karyawan, ini pertanyaan yang ingin saya pegang:
- Kalau saya berusaha sebaik mungkin di sini, apakah ada orang dewasa yang ingin saya tiru?
Dan satu lagi.
- Apakah kerja keras ini akan membuat hidup saya di masa depan jadi surplus?


