Di rumah maupun di kantor, standar “selesai” yang baru disebut belakangan bisa memicu konflik

“Tolong bereskan.”

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Gambaran singkat

“Tolong bereskan.”

Orang yang diminta lalu mengangkat piring dari meja. Namun, yang meminta sebenarnya membayangkan piring itu dimasukkan ke mesin pencuci piring, ditambahkan detergen, lalu mesinnya dinyalakan.

“Aku maunya sampai tahap itu.” “Kok tidak paham, sih?” “Ujung-ujungnya aku juga yang mengerjakan.”

Kesalahpahaman bisa terjadi seperti ini. Percakapan tentang pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor di bawah merupakan contoh rekaan untuk membantu mengurai persoalan.

Hal pertama yang perlu diperiksa adalah: apakah keduanya sudah sepakat pekerjaan itu dianggap selesai sampai tahap mana?

Apakah ini keinginan yang baru pertama kali disampaikan? Apakah pembagian tugas yang telah disepakati tidak dijalankan? Atau apakah urusan mengatur pekerjaan dan membereskan sisanya sehari-hari terus dibebankan kepada satu orang? Keluhan “dia tidak mau mengerjakan” bisa sama, tetapi hal yang perlu dibicarakan berbeda.

Jika ukuran yang belum pernah disampaikan baru dimunculkan belakangan, lalu dipakai untuk menghakimi watak orang lain, kerja bersama akan semakin sulit bila pola ini terus berulang.

Baik pekerjaan rumah maupun pekerjaan kantor sebaiknya tidak menjadi lomba menebak lembar penilaian di kepala orang lain.

1. Bedakan apa yang dimaksud dengan “dia tidak mau mengerjakan”

Keluhan “dia tidak mau mengerjakan” setidaknya mencakup dua keadaan.

Pertama, tugas yang sudah diterima atau standar yang sudah disepakati memang tidak dijalankan.

  • Tidak membuang sampah pada hari yang sudah ditentukan
  • Sudah sepakat bertanggung jawab atas cucian, tetapi membiarkannya tanpa dijemur
  • Menyerahkan bahan kerja dengan melewatkan pemeriksaan yang telah disepakati

Dalam keadaan ini, periksa apa yang telah dijanjikan dan apa yang benar-benar sudah dikerjakan. Jika setiap kali alasannya cukup dengan “instruksinya kurang rinci”, beban akan kembali kepada orang yang harus menjelaskan. Bila ada perubahan keadaan yang membuat tugas sulit diselesaikan, pembagian tugas atau tenggatnya mungkin juga perlu ditinjau ulang.

Kedua, pekerjaan sudah dilakukan, tetapi dianggap kurang menurut standar yang belum pernah disampaikan.

  • Cucian sudah dijemur agar kering, tetapi urutannya tidak sesuai selera orang lain
  • Angka-angka yang dibutuhkan sudah dimasukkan ke bahan kerja, tetapi kemudian diminta juga tabel perbandingan yang sebelumnya tidak disebutkan
  • Lingkup tugas yang diminta sudah selesai, tetapi masih dikatakan, “Biasanya orang juga mengerjakan sampai situ”

Untuk keadaan ini, mulailah dengan menyamakan pemahaman tentang apa yang diperlukan.

Dalam praktiknya, kedua keadaan itu bisa bercampur. Kita dapat mengakui bahwa piring sudah diangkat dari meja, sekaligus menyampaikan bahwa menyalakan mesin pencuci piring, yang sebelumnya telah disepakati, masih belum dilakukan. Dengan memisahkan bagian yang sudah selesai dan yang masih tersisa, pembicaraan menjadi lebih konkret.

Merangkum semuanya sebagai “tidak ada yang dikerjakan” menghapus bagian yang sebenarnya sudah dilakukan. Sebaliknya, “sudah mengerjakan sedikit, jadi cukup” mengabaikan beban orang yang setiap kali harus menyelesaikan sisanya.

2. Kalau garis akhirnya terus bergeser, sulit tahu harus melakukan apa

Baik di rumah maupun di kantor, pekerjaan lebih mudah dijalankan jika hal-hal berikut sudah dipahami bersama.

  • Apa yang perlu dikerjakan, dan untuk tujuan apa
  • Sampai tahap mana pekerjaan dianggap selesai
  • Kapan hasilnya dibutuhkan
  • Bagian mana yang wajib dipenuhi, dan mana yang dapat dirapikan jika masih ada waktu
  • Bagaimana membicarakannya jika orang yang bertanggung jawab kesulitan menjalankan tugas

Kalimat “kerjakan yang benar” saja tidak menjelaskan hal-hal penting itu.

Standarnya tidak diketahui sejak awal, tetapi setelah selesai hasilnya dinyatakan gagal. Saat menanyakan alasannya, orang tersebut dimarahi; saat meminta penjelasan, sikapnya yang dipersoalkan. Jika ini berulang, sebagian orang mungkin merasa, “Apa pun yang kulakukan tidak akan pernah cukup,” lalu enggan ikut terlibat.

Menimpali dengan “Tuh, benar kan, kamu memang tidak mau mengerjakan” hanya akan memperlebar kesalahpahaman.

Dalam pedoman tentang peran dalam pengelolaan stres kerja, otoritas kesehatan dan keselamatan kerja Inggris, HSE, juga menganjurkan kejelasan tuntutan kerja, peran, dan tanggung jawab, serta adanya mekanisme untuk menyampaikan ketidakjelasan atau pertentangan peran. Ini adalah pedoman umum bagi tempat kerja di Inggris, bukan penelitian yang membuktikan dampaknya dalam rumah tangga atau standar hukum Jepang. Artikel ini menggunakan gagasan tersebut sebagai pijakan untuk menawarkan cara menyelaraskan pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor.

Tidak semua pekerjaan perlu dibuatkan petunjuk yang sangat rinci. Cukup mulai dari tugas yang berulang kali menimbulkan pertengkaran, lalu bersama-sama menentukan batas “sampai di sini”.

3. Memberi ruang untuk bertanya membantu menemukan perbedaan pemahaman

“Sampai tahap mana tugas ini dianggap selesai?” “Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mencegah masalah apa?” “Mana yang perlu didahulukan, tugas ini atau pekerjaan yang sudah ada?”

Pertanyaan seperti ini membantu pekerjaan berjalan.

Jika setiap kali jawabannya adalah “sikapmu buruk” atau “harusnya sudah tahu”, pemeriksaan yang memang diperlukan pun menjadi sulit dilakukan. Pilihan orang tersebut akhirnya hanya diam dan menurut, atau menebak lalu meleset.

Tentu, cara dan waktu bertanya juga perlu diperhatikan. Dalam situasi yang membutuhkan tindakan cepat untuk menghindari bahaya, keselamatan dapat diamankan lebih dahulu, lalu hal yang belum jelas dibicarakan setelah keadaan tenang. Meminta prosedur kebersihan atau keselamatan yang sudah disampaikan dijelaskan dari awal setiap kali juga menambah beban.

Jangan berhenti pada “aku tidak tahu”. Periksa sendiri informasi yang sudah dibagikan, lalu tanyakan bagian yang belum dipahami. Orang yang menjawab pun perlu membedakan syarat yang baru pertama kali disampaikan dari syarat yang sudah lama disepakati.

Baik pihak yang bertanya maupun yang menjelaskan sama-sama punya peran dalam membuat pekerjaan berjalan.

4. Boleh bertanya sendiri, tetapi melarang orang lain bertanya

Seseorang bertanya kepada orang lain:

“Kenapa?” “Apa tujuannya?” “Ini maksudnya bagaimana?”

Namun, ketika orang lain bertanya dengan cara yang sama, ia marah.

“Kenapa harus tanya begitu?” “Sudah, ikuti saja.”

Dalam keadaan ini, hanya satu pihak yang wajib memberi penjelasan, sementara pihak lain bebas dari kewajiban itu. Hak untuk bertanya dimonopoli.

Perbedaan peran dan tanggung jawab memang dapat berarti perbedaan wewenang mengambil keputusan. Meski begitu, orang yang menjalankan pekerjaan tetap perlu bisa memastikan tujuan dan prioritasnya.

Di rumah maupun di kantor, kedua pihak seharusnya dapat mengajukan pertanyaan. Keduanya dapat menjelaskan alasan yang diperlukan. Jika kesepakatan tidak lagi sesuai dengan keadaan nyata, keduanya dapat membicarakan penyesuaian.

Pertukaran dua arah seperti ini memudahkan perbedaan pemahaman diperbaiki.

5. Perasaan adalah masukan, bukan vonis

Tidak nyaman. Cemas. Tidak suka. Mengganjal. Lelah. Selalu aku.

Semua itu merupakan masukan yang penting.

Di balik rasa lelah dan kesal, mungkin ada riwayat satu pihak terus mengurus perencanaan dan pekerjaan yang tersisa. Jangan menyingkirkannya sebagai “cuma perasaan”; lihat juga beban apa yang telah menumpuk.

Setelah itu, ungkapkan apa yang diperlukan tanpa langsung melompat dari perasaan ke penilaian atas kepribadian orang lain.

  • Tugas atau kejadian mana yang terasa berat
  • Hal apa yang harus dipenuhi, seperti kebersihan, keselamatan, atau tenggat
  • Bagian mana yang merupakan selera atau harapan tentang hasil akhir
  • Siapa yang diharapkan menangani apa, dan sampai tahap mana
  • Apakah pembagian saat ini membuat perencanaan dan pemeriksaan bertumpu pada satu orang

Misalnya, keluhan “ujung-ujungnya selalu aku” bisa dilanjutkan seperti ini:

“Aku terbantu kalau kamu mengangkat piring dari meja. Tapi setelah itu, menyalakan mesin, menyimpan piring yang sudah bersih, dan mengisi ulang detergen selalu tersisa untukku, dan itu terasa berat. Aku ingin kita menentukan pembagian seluruh pekerjaan membereskan ini.”

Mengubah perasaan menjadi permintaan membantu orang lain memikirkan apa yang perlu diubah. Tidak perlu menuntut penjelasan sempurna saat seseorang sedang kelelahan. Boleh juga sepakat untuk beristirahat dahulu dan membicarakannya nanti.

Soal selera pun sebaiknya tidak dikunci pada aturan “yang merasa terganggu harus mengerjakan semuanya”. Sesuaikan beban dan keinginan bersama-sama, agar kenyamanan hidup bersama tidak menjadi pekerjaan satu orang saja.

6. Jika tugas bertambah, tentukan lagi pembagian dan prioritasnya

Untuk membereskan setelah makan, misalnya, kesepakatannya bisa seperti ini:

“Setelah makan, tugasnya sampai piring masuk ke mesin, detergen ditambahkan, dan mesin dinyalakan. Menyimpan piring yang sudah bersih kita jadikan tugas orang yang mendapat giliran besok pagi.”

Yang dibutuhkan bukan sistem yang mengharuskan seseorang memberi instruksi terperinci setiap kali. Yang dibutuhkan adalah pembagian tugas yang memungkinkan penanggung jawab memahami keseluruhan pekerjaan, dari awal sampai membereskan sisanya, lalu bertindak sendiri.

Jika seseorang bertanggung jawab atas mesin pencuci piring, periksa bersama pada awalnya cara mengisi mesin dan peralatan makan apa yang tidak boleh dimasukkan. Tugas pendukung, seperti memperhatikan sisa detergen, mengisinya kembali, dan memastikan piring tersimpan paling lambat keesokan pagi, juga perlu dibagi. Jangan mengandalkan seseorang untuk menyadarinya sendiri lalu menutup semua kekurangan. Setelah disepakati, penanggung jawab pun perlu memeriksa keadaan atas inisiatif sendiri.

Untuk menyiapkan bahan kerja, permintaannya dapat berbunyi seperti ini:

“Bahan ini akan dipakai dalam rapat hari Jumat. Tolong rangkum penjualan tiga bulan terakhir dan alasan kenaikan atau penurunan dibanding bulan sebelumnya dalam satu halaman, paling lambat Kamis sore. Angka dan sumbernya wajib diperiksa. Penyempurnaan detail grafik cukup dilakukan kalau masih ada waktu.”

Jika di tengah jalan ternyata diperlukan perbandingan dengan perusahaan lain, nyatakan dengan jelas bahwa itu adalah tambahan.

“Kita ternyata juga perlu perbandingan dengan perusahaan lain. Kalau tambahan ini memakan waktu setengah hari, mari tentukan apakah rekap yang lain dipindahkan ke minggu depan atau penyerahan bahan ini diubah menjadi Jumat pagi.”

Jangan mengubah permintaan tambahan menjadi pekerjaan yang seolah-olah sudah sewajarnya ada sejak awal. Jika pekerjaan bertambah, tinjau juga waktunya, penanggung jawabnya, dan prioritasnya.

Hal yang sama berlaku di rumah. Jika keinginannya adalah “hari ini ada tamu, jadi aku ingin bersih-bersih lebih teliti daripada biasanya”, jelaskan pekerjaan tambahannya dan bicarakan pembagiannya dengan tugas memasak atau berbelanja.

Standar yang sudah disepakati boleh diperbarui ketika kehidupan atau pekerjaan berubah. Jika ditemukan bahaya baru, utamakan keselamatan, jelaskan perubahan prosedur atau pembagian tugas, lalu buat kesepakatan kembali. Perlakukan itu sebagai kesepakatan baru, bukan alasan untuk menyatakan pekerjaan hingga kemarin gagal secara surut.

7. Jangan mengubah kerja bersama menjadi pengadilan perasaan

Sebelum mengatakan “dia tidak mau mengerjakan”, ada beberapa hal yang perlu diperiksa.

  • Apakah batas kapan pekerjaan dianggap selesai sudah dipahami bersama
  • Apakah kesepakatan lama tidak dijalankan, atau ini keinginan yang baru
  • Apakah kebutuhan keselamatan dan mutu sudah dibedakan dari selera
  • Apakah bagian yang sudah dilakukan dan yang masih tersisa sama-sama diperhatikan
  • Apakah tugas sudah dibagi secara adil, termasuk perencanaan, pemeriksaan, dan membereskan sisanya
  • Apakah waktu dan prioritas untuk pekerjaan tambahan sudah ditentukan
  • Apakah kedua pihak sama-sama bisa bertanya

Pemeriksaan ini bertujuan membantu memperbaiki hubungan. Namun, jika ada makian atau intimidasi dan pembicaraan justru meningkatkan bahaya, keselamatan boleh didahulukan daripada meneruskan dialog. Carilah orang tepercaya yang dapat dihubungi dengan aman, atau layanan konsultasi terkait persoalan rumah tangga maupun tempat kerja.

Dalam hidup bersama maupun kerja bersama, menyatakan orang lain bersalah tidak akan mengurangi sisa pekerjaan rumah atau pekerjaan kantor.

Tentukan bersama sampai tahap mana pekerjaan dianggap selesai, lalu bicarakan tambahan sebagai tambahan. Itu lebih membantu menentukan langkah berikutnya daripada membuka pengadilan perasaan.

Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaOrang Tua Menyita HP Anak DewasaBentuk Perhatian atau Kontrol?
  2. Balas Dendam Tak MenyelamatkanmuHanzawa Naoki dan Status di Kantor
  3. Beda sama sekali, tapi seruTubuh manusia ribet bangetkenapa tidak ada satu stat “stamina +1”?
  4. Kenapa Genji di "Harem King's Isekai Press Tour" Bisa Melakukan Apa Saja?
  5. Kenapa Chiikawa selalu makan?Makanan, rumput liar, monster, kerja, dan rating 10+
  6. MinecraftCreeper Meledakkan Segalanya, Lalu Fokus Menanam Kentang

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Pekerjaan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.