Kalau Sukuna Masuk Sekolah (Jujutsu Kaisen): Pelajaran Apa yang Dia Jagoi dan Apa yang Gagal? (Ujian Moral 5, Praktik 0, Paduan Suara Berantakan)

Karya: Jujutsu Kaisen

Kalau Ryomen Sukuna dimasukkan ke sekolah biasa, masalahnya bukan di matematika, bahasa Inggris, atau IPA.

Cari anomalinya
Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar. Game pecah bata mengubah kata-kata artikel menjadi bata yang bisa Anda hancurkan.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

0. Jawaban singkat: kelemahan Sukuna bukan nilai, tapi “kenapa aku harus ikut-ikutan kalian?”

Kalau Ryomen Sukuna dimasukkan ke sekolah biasa, masalahnya bukan di matematika, bahasa Inggris, atau IPA. Masalahnya, dia hampir tidak merasa perlu menyesuaikan diri demi kenyamanan kelompok.

Di situs resmi anime Jujutsu Kaisen, Sukuna disebut Raja Kutukan. Dia hidup lebih dari 1.000 tahun lalu, dan para penyihir di masa keemasan jujutsu yang mengerahkan segalanya pun kalah darinya.[1] Menjelang akhir manga, dia terus bertarung melawan penyihir terkuat zaman sekarang, satu per satu.[2][3] Semua itu tidak membuktikan dia bakal dapat 100 di ujian matematika. Tapi membayangkan Sukuna tertinggal pelajaran karena “materinya terlalu susah” tetap terasa janggal, bahkan untuk AU sekolah.

Rapor yang kubayangkan kira-kira begini:

Pelajaran Tebakan Singkatnya
Akademik Mendekati 5 Cepat paham. Masalahnya mau atau tidak
Kemampuan fisik 5+ Guru olahraga menyerah soal menilai
Pelajaran moral Ujian tulis 5 / praktik 0 Tahu jawaban benarnya, tapi tidak dipakai
Paduan suara Teknik tidak diketahui / kerja sama 1 Bukan tidak bisa nyanyi, tapi tidak mau membaur
Tugas kelompok 0–1 Selesai sendirian dan bikin “kelompok” jadi tidak ada artinya
Kehadiran 2 Cuma muncul kalau ada tantangan seru

Jadi “pelajaran” terburuk Sukuna tidak ada di buku mana pun. Itu adalah kerja bareng.

1. Bukan tidak bisa belajar, tapi tidak punya alasan untuk menurut

Sekolah memang tempat belajar, tapi juga mesin besar untuk menyamakan langkah semua orang. Datang di jam yang ditentukan. Duduk di bangku sendiri. Mulai saat guru bilang mulai. Bagi tugas. Walau sudah selesai duluan, tetap harus menunggu yang lain.

Di situlah Sukuna dan sekolah bentrok.

Pertanyaannya bukan “dia bisa atau tidak?”, tapi setiap kali muncul “kenapa aturan ini harus berlaku buat aku?”

Bilang “ini aturan sekolah” tidak mempan, karena bukan dia yang bikin. Bilang “semua orang juga ikut” malah lebih lemah lagi. Jadi mayoritas tidak terlihat seperti alasan yang bisa meyakinkan dia.

Makanya dia gagal dengan cara yang kebalikan dari murid biasa.

Bukan: tidak bisa, jadi tidak ikut. Tapi: bisa, namun tidak lihat gunanya ikut.

Buat guru, ini jauh lebih susah dihadapi.

2. Dia pasti jago di banyak pelajaran, tapi rapornya tetap kacau

Matematika dan IPA kelihatannya cocok buat dia. Ini tebakanku, bukan kanon, tapi saat bertarung dia membaca situasi, menganalisis kemampuan lawan, dan menggabungkan beberapa cara sekaligus, jadi soal abstrak yang penuh aturan tampaknya cocok dengan cara berpikirnya.

Bahasa juga tidak kelihatan jadi titik lemah, soalnya kata-katanya setajam serangannya. Sastra klasik yang paling lucu: orang dari lebih dari 1.000 tahun lalu duduk di kelas, seperti sumber sejarahnya sendiri yang ikut sekolah. Tapi hidup di zaman itu tidak berarti dia otomatis dapat nilai penuh di ujian tata bahasa klasik zaman sekarang. Leluconnya urusan lain, nilainya urusan lain.

Olahraga, soal tubuh tidak masalah. Yang jadi masalah adalah aturan dan koordinasi. Lari 50 meter? Gampang. Baris-berbaris, ikut aba-aba, latihan berpasangan? Nah, di situ mulai aneh.

Praktik masak dan keterampilan polanya sama: jago praktik, kerja kelompoknya hancur. Kalau empat murid harus bagi tugas masak dan Sukuna mengerjakan keempatnya sendirian, masakannya jadi tapi tujuan pelajarannya mati.

Sejarah bakal seru banget karena ada saksi hidup dari seribu tahun lalu, dan gurunya pasti mau nanya macam-macam. Tapi begitu masuk pelajaran kewarganegaraan, dengan voting suara terbanyak, keputusan bersama, hak dan kewajiban, kelasnya langsung jadi acara debat.

Dan dua pelajaran yang benar-benar bahaya adalah moral dan musik.

3. Pelajaran moral: bukan “tidak tahu jawaban benar”, tapi “tahu dan tidak mau pakai”

Rasanya ingin kasih Sukuna nilai 0 di pelajaran moral. Lucunya, kalau cuma ujian tulis, dia mungkin dapat nilai tinggi.

Psikologi membedakan antara memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain, dengan ikut bereaksi secara emosional terhadap perasaan itu. Itulah beda empati kognitif dan empati afektif.[7] Aku tidak sedang mendiagnosis Sukuna dengan penelitian ini. Penelitian ini cuma membantu menjelaskan hal sederhana: memahami seseorang dan ingin menolongnya itu bukan hal yang sama.

Di ceritanya, Sukuna sering banget membaca niat, titik lemah, keinginan, dan ketakutan orang lain. Dia bukan karakter sederhana yang berbuat jahat karena tidak mengerti orang lain.

Bayangkan kelasnya:

Guru: “Ada teman yang sedang sedih. Apa yang bisa bikin dia tenang?” Sukuna: “Dengarkan dia, dan bantu kalau dia mau.” Guru: “Benar. Jadi kamu mau melakukannya?” Sukuna: “Kenapa aku harus?”

Paham: 100. Dilakukan: 0.

Buat guru moral, ini mimpi buruk. Kalau murid tidak paham jawabannya, tinggal diajari. Tapi kalau dia paham betul lalu nanya “kenapa itu harus jadi tujuanku?”, kelasnya mendadak jadi kelas filsafat.

4. Paduan suara: masalahnya bukan menyanyi, tapi menyamakan irama

Tidak ada informasi resmi soal seberapa bagus suara Sukuna. Yang lucu adalah cara kerja paduan suara.

Paduan suara bukan lomba siapa penyanyi terbaik yang menang dengan suara paling keras. Kita harus mendengarkan orang lain dan menyesuaikan volume, waktu masuk, tempo, vokal, dan napas.

Guru: “Dengarkan yang lain, kecilkan sedikit volumenya.” Sukuna: “Kenapa harus aku yang menyesuaikan?”

Dan tamat.

Katakanlah Sukuna di AU sekolah bisa hafal melodi dan harmoninya cuma dengan sekali dengar. Itu tetap cuma bayangan kita. Meski begitu, teknik 100 dengan kemauan bekerja sama 0 tetap tidak jadi paduan suara.

Begitu dia menyanyi sekuat tenaga, itu bukan lagi paduan suara kelas, melainkan

“Ryomen Sukuna feat. Kelas 2-3”

Saat dirigen minta dia mengecilkan suara, itu bukan lagi masalah musik, tapi masalah siapa yang berkuasa.

5. Kegiatan kelompok: semuanya bisa dia lakukan, dan semuanya dia rusak

Baris-berbaris: Sukuna tidak lihat alasan untuk menjaga jarak dengan orang di depannya.

Lompat tali panjang: soal melompat, dia jelas bisa, tapi dia kesal harus menyesuaikan diri dengan irama 30 orang. Ujungnya mungkin “talinya yang harus ikut aku”.

Lomba lari tiga kaki: kalau pasangannya lambat, bisa saja pasangannya dia angkat lalu dibawa lari. Waktu tercepat, langsung didiskualifikasi. Menang lomba, kalah pelajaran.

Praktik masak: mengerjakan tugas empat orang sendirian. Masakan jadi, kerja sama mati.

Acara sekolah: “Ayo kita bicarakan dan putuskan bersama” adalah ranjau paling berbahaya. Bagi Sukuna, ujungnya “pakai rencanaku saja”.

Jadi kecocokannya dengan sekolah bisa ditulis jadi rumus sederhana:

Kerja sama setara ×, kerja sama sementara saat kepentingannya sama ○, kerja sama di bawah komandonya ◎

Bukan berarti dia tidak bisa melakukan apa pun bersama orang lain. Yang paling tidak dia suka adalah merendahkan diri ke level kelompok sebagai anggota yang setara.

6. Kenapa semua jurus ceramah guru biasanya 0 damage buat dia

Dalam psikologi ada konsep reaktansi: kalau orang merasa kebebasannya diambil, dia cenderung melawan. Sebuah meta-analisis tahun 2025 menyimpulkan bahwa kalimat yang sangat membatasi kebebasan, seperti “kamu harus” atau “wajib”, lebih mudah memicu reaktansi dibanding kalimat lebih lembut yang memberi pilihan.[4]

Tentu belum ada yang mengukur Sukuna dengan skala reaktansi. Tapi untuk menjelaskan AU sekolah ini, konsepnya cocok banget.

“Ini aturan sekolah.” “Semua orang melakukannya.” “Turuti kata guru.”

Ketiga kartu itu semuanya 0 damage.

Sementara itu, teori determinasi diri bilang motivasi bergantung pada otonomi (memilih sendiri), kompetensi (merasa mampu), dan keterhubungan (merasa terhubung dengan orang lain). Tinjauan sistematis dan meta-analisis tahun 2024 di bidang pendidikan mencakup 36 studi dengan 11.792 orang, dan melaporkan bahwa cara yang mendukung otonomi dan kompetensi memang efektif.[5]

Buat Sukuna, umpannya bukan keterhubungan. Tapi otonomi plus kompetensi.

“Lakukan demi kelas” tidak akan menggerakkan dia. “Ini tantangan sulit yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kekuatan sendiri” mungkin bikin dia menoleh.

7. Jurus memancing lobster air tawar: jangan minta, lempar saja “emang kamu bisa?”

Dari sinilah muncul jurus memancing lobster air tawar.

Sukuna tidak ditarik paksa. Kita gantungkan tantangan yang sulit dan seru di depannya seperti umpan, lalu biarkan dia menyambar sendiri.

Guru: “Kamu nggak harus ikut paduan suara. Tapi menyamakan napas dan volume 30 orang tanpa meleset sedikit pun itu lebih susah daripada menyanyi sendirian.” Sukuna: “...”

🎣 Kena.

Guru: “Lompat tali panjang juga nggak usah. Cepat sendirian nggak cukup buat yang satu ini.” Sukuna: “Siapa yang kamu bilang nggak bisa?”

🎣 Lobster kedua.

Kalau ditambah “Guru Gojo bisa, lho”, dia mungkin bawa umpan sekalian jorannya.

Sebuah eksperimen juga menemukan bahwa motivasi dari dalam diri cenderung naik saat tingkat tantangan pas dengan kemampuan seseorang.[6] Ini tidak membuktikan bahwa memanas-manasi Sukuna pasti berhasil. Ini cuma mendukung gagasan bahwa tantangan yang bagus bisa lebih memotivasi daripada kewajiban yang membosankan.

Intinya, jurus lobster ini bukan soal menghina.

Beri pilihan, bukan perintah; tampilkan tugas sebagai keterampilan yang ingin dikuasai, bukan kewajiban membosankan; dan beri ruang agar dia masuk sendiri.

Aku tidak bilang kita harus mengejek atau mempermalukan murid sungguhan. Yang didukung penelitian pendidikan adalah penjelasan dan pilihan yang menghargai otonomi murid, bukan guru yang memanas-manasi anak.

8. Pergi setelah 5 menit di hari pertama, tapi muncul di hari ujian dan dapat nilai sempurna

Bayangkan pagi pertamanya.

8:30, Guru: “Silakan duduk.” Sukuna: “Kenapa?”

8:31, Guru: “Ini aturan sekolah.” Sukuna: “Aku tidak pernah setuju.”

8:32, Guru: “Semua orang menaatinya.” Sukuna: “Terus?”

8:33, Guru: “Ini akan berpengaruh ke catatan sekolahmu.” Sukuna: “Lalu?”

8:35, pulang.

Masalah sebenarnya, dia tidak kelihatan bakal tertinggal pelajaran juga. Kalau dia baca buku di rumah, cuma muncul di hari ujian, dan nilainya hampir sempurna, sekolah makin bingung.

Sen ○ Sel × Rab × Kam ○ (hari ini ada praktikum sulit) Jum ×

Murid yang hanya muncul saat ada event.

Bukan “sekolah bikin dia tidak bisa apa-apa”, tapi lebih ke “dia tidak login kalau tidak ada event seru”.

Dalam seminggu, wali kelas belajar bahwa “datang tiap hari” saja tidak cukup. Sekolah harus terlihat seperti tempat yang setiap hari ada sesuatu yang layak dilihat.

Tingkat kesulitan mengurus: grade spesial.

9. Rapor akhir: akademik 5, kerja sama 0, stres wali kelas “grade spesial”

Ini rapor akhirnya:

Akademik: 5 Kemampuan fisik: 5 Memahami instruksi: 5 Memahami jawaban teladan pelajaran moral: 5 Moral dalam praktik: 0 Kerja sama: 0 Kehadiran: 2 Ikut tugas yang dia anggap menarik: SSS Kelelahan wali kelas: Grade Spesial

Agak keliru kalau semuanya disederhanakan jadi “dia payah di moral”, “payah di musik”, atau “payah di olahraga”.

Moral: dia paham nilainya, hanya saja tidak mau mengadopsinya. Paduan suara: dia bisa menyanyi, hanya saja tidak punya alasan untuk menyamakan irama. Kegiatan kelompok: dia bisa melakukannya, hanya saja tidak mau merendahkan diri ke level kelompok.

Jadi kelemahan terbesarnya bukan pelajaran apa pun. Tapi hal-hal yang dianggap sudah jelas oleh sekolah.

10. Kesimpulan: musuh terkuat Sukuna mungkin bukan Gojo, tapi kegiatan kelas

Yang diminta sekolah sederhana:

“Datang di jam yang sama tiap hari dan kerjakan tugas yang sama, dengan aba-aba yang sama, bareng semua orang.”

Yang diminta Sukuna juga sederhana:

“Kasih aku sesuatu yang layak dikerjakan.”

Dua permintaan itu sama sekali tidak nyambung.

Kalau memang mau Sukuna terus sekolah, menyiapkan boss rush tiap hari mungkin lebih berhasil daripada menambah aturan. Paduan suara, lompat tali, dan tugas kelompok tidak akan menjebaknya kalau dibilang “ayo kerja sama”. Sajikan sebagai “tantangan sulit yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kekuatan sendiri”, dan mungkin dia akan mengulurkan capitnya seperti lobster.

Dan bos terakhir kehidupan sekolah bukan ujian atau tes masuk.

Tapi kalimat ini:

“Hari ini kita tidak pilih ketua. Ayo diskusi bareng dan putuskan bersama.”

Musuh terkuat Sukuna mungkin adalah kegiatan kelas.

  1. Situs resmi anime Jujutsu Kaisen — Ryomen Sukuna: https://jujutsukaisen.jp/character/index_1st.php
  2. Shueisha, Jujutsu Kaisen vol. 27: https://www.shueisha.co.jp/books/items/contents.html?jdcn=08X10000000048680300
  3. Shueisha, Jujutsu Kaisen vol. 30: https://www.shueisha.co.jp/books/items/contents.html?isbn=978-4-08-884378-0&mode=1
  4. Human Communication Research, meta-analisis reaktansi psikologis: https://academic.oup.com/hcr/article/52/1/38/8178818
  5. Wang et al. (2024), meta-analisis pendidikan teori determinasi diri: https://selfdeterminationtheory.org/wp-content/uploads/2024/06/2024_WangWangEtAl_MetaEdu.pdf
  6. Meng et al. (2017), tantangan optimal dan motivasi intrinsik: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5368271/
  7. Campos et al. (2023), empati kognitif dan afektif: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10345207/

Berikutnya dari cerita yang sama: Jangan Salah Baca Sinyal Sebelum Menyatakan Perasaan: Perbarui Keyakinan dan Uji Hipotesis

Dalam seri ini Baca semua artikel tentang Jujutsu Kaisen (10 artikel)

IklanBuku tentang topik ini

Artikel ini berisi tautan afiliasi (iklan). Tentang iklan As an Amazon Associate I earn from qualifying purchases.

Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaDemon Slayer di JoyfullKenapa Jurus Air Giyu Malah Jadi Daging?
  2. Kenapa Chiikawa selalu makan?Makanan, rumput liar, monster, kerja, dan rating 10+
  3. Beda sama sekali, tapi seruKenapa Makhluk Laut Dalam Begitu Memikat?
  4. Kenapa Janji Baru Dikonfirmasi H-1?Bukan Berarti Bisa Baca Pikiran
  5. Balas Dendam Tak MenyelamatkanmuHanzawa Naoki dan Status di Kantor
  6. Mengapa Hutan Akita Tak Tampak Seperti Jepang?Hutan Cedar Pascaperang

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikel tentang Jujutsu Kaisen (10 artikel)Lihat semua artikelLebih banyak tentang Manga

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.