Buku resmi Chiikawa tentang cara bergaul dengan teman: isinya apa, dan kenapa militer Jepang ikut membelinya
1. “Belajar bergaul dari Chiikawa” ternyata bukan sekadar bercanda
Ada satu hal di Chiikawa yang dari dulu bikin saya penasaran.
Karakter-karakter kecil ini ternyata jago banget bergaul.
Chiikawa jarang bicara. Hachiware banyak omong. Usagi hidup di dunianya sendiri. Tapi tidak ada yang memaksa mereka bertiga berkomunikasi dengan cara yang sama. Mereka tetap berbeda, dan persahabatan mereka tetap jalan.
Dari situ saya bikin satu aturan yang saya sebut setengah bercanda “metode Hachiware”: jangan mengarang balon dialog yang tidak pernah diucapkan. Kalau seseorang menangis, “dia menangis” itu fakta. “Dia menangis gara-gara saya” itu tebakan. “Sebenarnya dia ingin saya melakukan ini” juga tebakan. Kalau perlu tahu, tanya. Kalau dijawab, perbarui pendapatmu. Kalau tidak dijawab, biarkan tetap “belum tahu”.
Lalu saya tahu bahwa ada buku resmi yang membahas hal ini.
KADOKAWA menerbitkan 『ちいかわ お友だちとのつき合いかた』 (“Chiikawa: Cara Bergaul dengan Teman”) pada 13 Maret 2024. Bukunya berukuran A5, tebalnya 112 halaman, harganya 1.210 yen. Ilustrasinya oleh Nagano dan isinya disupervisi oleh Yumiko Kato. Perpustakaan Nasional Jepang (National Diet Library) memasukkannya ke subjek “hubungan antarmanusia”, dalam kelas sosiologi 361.454.
Kita buka buku karakter yang kelihatannya lucu, eh yang keluar malah panduan hubungan antarmanusia.
2. Isi buku resminya: bukan cuma “ayo berteman baik”
Menurut KADOKAWA, buku ini untuk anak SD dan membahas masalah yang sering muncul dalam pertemanan lewat tanya jawab.
Topiknya cukup konkret:
- cara mencari teman
- cara menceritakan diri sendiri
- apa yang dilakukan kalau pendapat berbeda
- apa yang dilakukan kalau tidak bisa menepati janji
- cara menghadapi gosip
- cara minta maaf dengan baik
- cara menghadapi perasaan negatif
- kenapa tidak apa-apa berbeda dari yang lain
- cara menjadi diri sendiri yang kamu sukai
Bab-babnya berurutan dari “Teman itu apa?” ke “Aturan antarteman” ke “Kenali dirimu lebih jauh”.
Bagian terakhir itulah yang menarik. Buku tentang teman ternyata tidak berakhir di “belajarlah menyesuaikan diri dengan orang lain”. Ia kembali ke mengenal diri sendiri.
Artinya: hargai orang lain, tapi jangan hapus dirimu sendiri. KADOKAWA juga bilang bahwa cara menyampaikan isi hati dan merapikan perasaan tetap berguna sampai dewasa.
Tampangnya buku anak, tapi saya ingin menaruh beberapa eksemplar di ruang rapat kantor.
3. Kenapa Chiikawa? Apakah editornya juga berpikir “mereka jago bergaul”?
Inilah pertanyaan yang paling saya ingin jawab.
Apakah pihak penerbit juga menonton serialnya dan berpikir, “Wah, Chiikawa pintar sekali mengurus hubungan”?
Saya memeriksa halaman produk KADOKAWA, pengumuman peluncuran, pratinjau di Yomeruba, dan bahan publik lainnya. Saya tidak menemukan wawancara yang menyebut tim penerbit membuat buku ini karena karya aslinya menggambarkan hubungan antartokoh dengan sangat baik.
Jadi hal itu tidak bisa ditulis sebagai fakta resmi.
Yang bisa dipastikan adalah isi bukunya: berbeda pendapat, mendengarkan, minta maaf, merapikan perasaan, serta menghargai diri sendiri dan orang lain. Halaman karakter resmi berbahasa Inggris juga menggambarkan Hachiware sebagai sosok yang berhati besar, positif, dan sahabat sejati yang membantu Chiikawa melewati rasa takut dan merasa aman.
KADOKAWA juga menerbitkan beberapa buku anak Chiikawa lainnya, seperti teka-teki, puzzle, dan ramalan. Jadi ada alasan bisnisnya juga: memakai karakter yang sangat populer untuk membuat buku belajar anak.
Kesimpulan saya jujur saja.
“Mereka punya pemikiran yang persis sama dengan kita”: belum terkonfirmasi.
Tapi buku yang jadi ternyata sangat dekat dengan yang selama ini saya rasakan: cerita tentang tiga teman yang sangat berbeda dipakai untuk mengajarkan hubungan, perasaan, dan harga diri.
Rasanya seperti mendaki gunung yang sama lewat jalur berbeda, lalu bertemu KADOKAWA di puncak.
4. Chiikawa tidak banyak bicara, tapi pertemanannya tetap jalan
Inilah poin yang paling penting buat saya.
Jago bergaul itu tidak ditentukan oleh banyaknya kata yang diucapkan.
Chiikawa jauh lebih sedikit bicara dibanding Hachiware. Tapi Chiikawa memperhatikan reaksi orang lain, menunjukkan senang, takut, dan tidak nyaman, serta menerima kebaikan orang. Chiikawa juga tidak mencoba mengubah teman-temannya jadi sama seperti dirinya.
Itu kemampuan sosial yang berbeda dari sekadar menjaga obrolan tetap jalan.
Hachiware, di sisi lain, jago memakai kata-kata: menjelaskan keadaan, mengajak, memastikan, dan mendengarkan jawaban.
Dan Usagi ya… Usagi.
Kalau dipaksa dibuat tabel kemampuan, jadinya begini:
- Chiikawa: membaca reaksi dan menunjukkan perasaan tanpa kata
- Hachiware: mengobrol dan menyambungkan orang
- Usagi: bukti hidup bahwa orang boleh berbeda
Cerita pendidikan biasa mungkin akan mendorong semuanya ke arah “pakai kata-kata dengan benar”. Di Chiikawa, Usagi tetap jadi Usagi dan mereka tetap berteman.
Bukan menghilangkan perbedaan, tapi tetap terhubung walau berbeda.
Ini lebih kuat daripada kelihatannya.
5. Metode Hachiware: jangan mengarang balon dialog yang tidak ada
Kalau diringkas sesederhana mungkin untuk buku ini, urutannya begini:
Amati, tanya kalau perlu, terima jawaban, perbarui, bertindak, selesai.
Misalnya ada orang yang belum membalas pesanmu.
Faktanya hanya “belum ada balasan”.
“Dia membenciku”, “dia marah”, dan “dia sedang mengujiku” itu tebakan.
Menebak itu tidak dilarang. Kita manusia, wajar berpikir. Hanya saja jangan beri tebakan kartu pegawai lalu memindahkannya ke Departemen Fakta.
Kalau perlu, tanya hal sederhana seperti “Minggu depan kita bagaimana?”. Kalau jawaban datang, perlakukan sebagai informasi baru.
Mengajak orang juga sama.
Mengukur diam-diam apakah dia suka padamu hanya memberi sedikit informasi, tapi “Mau pergi bareng?” memberi informasi yang nyata.
Dia datang. Dia menolak. Dia usul hari lain. Dia bilang nanti dulu.
Yang kamu tahu hanya pilihan apa yang dia ambil saat itu. “Dia datang, berarti dia suka padaku” itu melompati 5 langkah sekaligus.
Ini bukan sikap dingin. Ini cara supaya apa yang benar-benar dikatakan dan dipilih orang lain tidak tertimpa cerita karangan kita tentang isi kepalanya.
6. Kalau dibawa ke kantor, jadi aturan “dilarang menyuruh orang menebak”
Jujur, ini mungkin lebih berguna di tempat kerja daripada di antara teman.
Kebiasaan paling menyebalkan di kantor adalah permintaan yang tidak diucapkan, lalu disalahkan belakangan karena tidak terpenuhi.
“Harusnya kamu sudah tahu.”
“Saya kira kamu akan sampai sejauh itu.”
“Kok tidak sadar sendiri tanpa dikasih tahu?”
Itu bukan instruksi kerja. Itu level rahasia di dalam game.
Dengan gaya Hachiware, jadinya begini:
- sebutkan tujuannya
- sebutkan tenggatnya
- sebutkan seperti apa “selesai” itu
- kabari kalau prioritas berubah
- kalau orang bilang tidak paham, beri informasi tambahan
- jangan pura-pura dia sudah tahu syarat yang baru kamu sebut belakangan
Kalau kamu kasih tahu, saya bisa mengerjakannya. Kalau tidak, saya tidak bisa baca pikiran.
Itu bukan lari dari tanggung jawab. Itu hanya mengembalikan pekerjaan dari ujian kekuatan supranatural menjadi berbagi informasi.
Lagi pula, membuka pintu supaya orang bisa menyampaikan keluhan itu berbeda dari bertanggung jawab menebak 100% keluhan yang tidak pernah diucapkan.
Buka pintunya. Tangani apa yang masuk lewat pintu itu. Jangan menggali ruang bawah tanah untuk mencari perasaan tersembunyi.
Dengan begini pelatihan komunikasi di perusahaan bisa jauh lebih singkat.
7. Buku khayalan kita, “Chiikawa: Cara Bergaul dengan Rekan Kerja”. Ayo berburu!
Kalau suatu hari terbit edisi untuk orang dewasa, ini daftar isi yang saya inginkan.
Bab 1: Atasan itu apa?
- Atasan kelihatan kesal. Apa salah saya? → Periksa faktanya dulu.
- Instruksinya samar. Terus bagaimana? → Tanyakan tujuan, tenggat, dan apa arti “selesai”.
- “Semua orang juga tahu.” → “Semua orang tahu” bukan spesifikasi.
Bab 2: Aturan di antara rekan kerja
- Syarat baru muncul belakangan → Anggap sebagai syarat baru dan perbarui rencana.
- Kamu membuat kesalahan → Perbaiki, jangan bikin lomba menyalahkan diri.
- Ada yang bilang tidak → Jangan jadikan TIDAK sebagai teka-teki.
- Semua tugas prioritas nomor 1 → Itu bukan urutan prioritas.
Bab 3: Kenali dirimu lebih jauh
- Apa yang paling menguras tenaga?
- Apa yang benar-benar bisa kamu lakukan?
- Di mana batas tanggung jawabmu?
- Di lingkungan seperti apa kamu bisa bertahan?
Dan di halaman terakhir:
“Ayo berburu!”
Yang diburu bukan rekan kerjamu.
Yang diburu adalah syarat tersembunyi, permainan tebak pikiran, “sebenarnya saya sudah tahu jawabannya” setelah semuanya terjadi, dan daftar tugas yang semuanya prioritas nomor 1.
Tiba-tiba buku karakter yang lucu ini berubah jadi panduan kerja yang lebih baik.
8. Dan ternyata benar tercantum di daftar pengadaan militer Jepang: di antara manajemen amarah dan DSM-5
Di sini cerita mendadak jadi urusan dokumen resmi.
Saya memeriksa dokumen publik Kementerian Pertahanan Jepang dan Pasukan Bela Diri Darat Jepang (JGSDF). Dokumen lelang tertanggal 18 Juni 2024 dari Unit Akuntansi ke-349 di markas Fukuchiyama memang mencantumkan buku ini.
Di bawah nomor permintaan pengadaan yang sama, urutan barangnya begini:
- No. 91: Anger Management Training Book 2023
- No. 92: Chiikawa: Cara Bergaul dengan Teman, 1 eksemplar
- No. 93: The Mindful Self-Compassion Workbook
- No. 94: panduan sistem kesehatan jiwa dan kesejahteraan
- No. 95: panduan kesehatan jiwa yang memuat materi DSM-5
- No. 96: buku manajemen mental
Itulah urutan sebenarnya di PDF.
Manajemen amarah → Chiikawa → welas asih pada diri sendiri → kesehatan jiwa → DSM-5.
Chiikawa dengan santai ikut berbaris di antara buku-buku psikologi dan kesehatan jiwa.
Satu batasan penting: dokumen itu hanya membuktikan bahwa satu eksemplar termasuk dalam barang yang dibeli untuk markas Fukuchiyama. Dokumen itu tidak membuktikan bahwa buku ini jadi materi pelatihan resmi JGSDF, dipakai dalam kursus, atau direkomendasikan seluruh pasukan. Bisa saja dibeli hanya untuk perpustakaan atau bahan rujukan.
Meski begitu, ini bukan algoritma toko online yang menaruh dua buku bersebelahan.
Keduanya bersebelahan dalam kelompok pengadaan yang sama di PDF resmi Kementerian Pertahanan.
Itu saja sudah cukup lucu.
9. Kesimpulan: jago bergaul itu bukan soal banyak bicara, tapi soal tidak menghapus diri sendiri maupun orang lain
Yang paling saya suka, semua ini membawa saya kembali ke pertanyaan awal.
Orang yang pendiam pun bisa mengurus hubungan dengan baik.
Orang bisa bicara tanpa henti tapi tetap merusak hubungan kalau tidak mendengarkan, menentukan sendiri maksud orang lain, mengabaikan penolakan, dan menambah syarat rahasia belakangan.
Orang yang lebih sedikit bicara bisa tetap hebat bergaul kalau dia:
- memperhatikan reaksi orang lain
- menunjukkan reaksinya sendiri
- tidak pura-pura tahu hal yang tidak dia tahu
- bertanya kalau perlu
- menganggap TIDAK dari orang lain sebagai TIDAK
- mengatakan TIDAK miliknya sendiri
- tidak berusaha menghapus perbedaan
- memperbaiki masalah saat muncul
Aturan satu baris yang saya ambil dari Chiikawa adalah:
Jangan memutuskan sendiri isi kepala orang lain. Tapi tanggapi dengan serius perasaan dan fakta yang benar-benar mereka sampaikan.
Baca Adler tentang “pemisahan tugas”. Lalu mampir ke rak buku anak dan baca Chiikawa: Cara Bergaul dengan Teman. Setelah itu latihan langsung lewat manganya.
Berikutnya adalah edisi untuk dunia kerja.
Ayo berburu!
Sasaran: permainan tebak pikiran.
Referensi (6)
- Halaman produk KADOKAWA 『ちいかわ お友だちとのつき合いかた』
https://www.kadokawa.co.jp/product/322304001395/ - Pengumuman peluncuran KADOKAWA
https://www.kadokawa.co.jp/topics/11469/ - Pratinjau KADOKAWA Yomeruba
https://yomeruba.com/hiroba/learn/chiikawa-otomodachi/entry-35213.html - Halaman karakter resmi Chiikawa berbahasa Inggris
https://www.chiikawaofficial.com/characters/ - National Diet Library Search Jepang
https://ndlsearch.ndl.go.jp/books/R100000002-I033354860 - Dokumen pengadaan Kementerian Pertahanan / JGSDF, Fukuchiyama, Unit Akuntansi ke-349
https://www.mod.go.jp/gsdf/mae/mafin/k/ko060880.pdf
