Mengapa “Meninggalkan Segalanya” Terdengar Keren? Saat Kata-Kata Perkasa Mendadak Jadi Bahasa Kantor

“全てを置いていく” (subete o oite iku), kurang lebih berarti “meninggalkan segalanya”.

Cara memakai fitur membaca

Dengarkan membacakan artikel. Baca cepat menampilkan frasa berurutan dengan kecepatan pilihan Anda. Latihan bahasa membandingkan terjemahan yang tersedia. Simpan menambahkan penanda di browser ini; buka kembali dari daftar tersimpan di pemutar.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Iklan
Iklan

Tidak perlu kata sulit untuk terdengar perkasa

“全てを置いていく” (subete o oite iku), kurang lebih berarti “meninggalkan segalanya”. Tidak ada kata sulit dalam ungkapan Jepang ini, tetapi bunyinya seperti ucapan seseorang yang sudah sampai di penghujung cerita. Sebaliknya, begitu diubah menjadi “memeriksa segalanya”, mendadak pekerjaan dimulai. Sama-sama “segalanya”. Dari mana perbedaannya?

Saya menyukai ungkapan yang maknanya bisa dipahami, tetapi kejadiannya melampaui ukuran keseharian. “Bisa dibaca. Pemandangannya terbayang. Tetapi saya tidak tahu bagaimana orang bisa melakukan hal seperti itu.” Perpaduan antara dekat dan jauh ini memberi kesan adanya sosok yang berada di tingkat berbeda.

Di sini, saya ingin mengurai selera itu lewat pilihan kata. Penelitian psikologi juga menjadi petunjuk, tetapi bukan berarti sudah ada jawaban pasti tentang apa yang keren atau rumus penamaan yang berlaku untuk semua orang. Selain nama gim dan monster yang memang ada, dialog serta keanehan di kota-kota berikut adalah contoh rekaan untuk membandingkan ungkapan.

“Meletakkan” itu biasa. Yang ditinggalkan justru luar biasa besar

Meletakkan barang bawaan. Meletakkan ponsel. Meletakkan dokumen. Kata Jepang 置く (oku, “meletakkan”) menggambarkan tindakan yang sangat akrab. Namun, dalam “meninggalkan segalanya”, pembaca bebas memperluas sendiri apa yang ditinggalkan.

Masa lalu, kawan, musuh, ikatan lama, kemenangan dan kekalahan, keterikatan yang belum lepas, peran yang diberikan kepada seseorang. Jika dibaca lebih megah lagi, bahkan ceritanya sendiri. Karena isi “segalanya” tidak dijabarkan sampai tuntas, ada ruang untuk membayangkan apa saja yang sudah dilampaui orang itu.

置いていく (oite iku, “meninggalkan”) juga mengandung gerak: orangnya pergi dari tempat itu dan terus maju. Jadi, mari kita ubah sedikit tindakannya.

  • “Mengembalikan segalanya pada ketiadaan” mengingatkan pada bos terakhir yang menghancurkan dunia
  • “Memercayakan segalanya kepada orang lain” mengingatkan pada pendahulu yang menyerahkan tongkat estafet kepada generasi berikutnya
  • “Memikul segalanya” mengingatkan pada tokoh utama yang masih terus bertarung
  • “Meninggalkan segalanya” mengingatkan pada seseorang yang bahkan sudah menjadikan tempat pertarungan itu bagian dari masa lalu

Tentu kesannya berubah tergantung siapa yang mengatakannya dan dalam adegan apa. Kalau sedang berkemas, mungkin itu cuma orang yang sering lupa membawa barang. Meski begitu, dalam konteks cerita, saya merasakan kekuatan yang lebih dekat dengan “melewati” daripada “mengalahkan” atau “menang”.

“Aku tidak menang. Aku hanya lewat.”

Kekuatannya tidak diterangkan lewat angka. Yang ditunjukkan adalah perbedaan jarak terhadap pertarungan itu sendiri. Itulah salah satu alasan ungkapan ini menarik bagi saya.

Hubungkan tindakan yang dipahami dengan objek yang tidak biasa

Tidak perlu menambah kata benda yang sulit untuk mengubah pemandangan. Pasangan tindakan dan objek yang berbeda sudah bisa melakukannya.

  • Mengembalikan dunia kepada malam
  • Mengembalikan ingatan kepada laut
  • Menutup sebagian Shibuya di dalam malam
  • Hanya hari itu yang masih belum bisa kututup

“Mengembalikan” dan “menutup” bisa dipahami. Namun, saya tidak tahu bagaimana melakukannya terhadap dunia, ingatan, atau satu hari di masa lalu. Tindakannya menjadi pintu masuk imajinasi, sementara kejanggalan objeknya menyisakan misteri.

Sebaliknya, jika ditulis “entitas konseptual tingkat tinggi yang mengoklusi fase eksistensi secara ireversibel”, saya mulai memikirkan arti istilahnya sebelum sempat membayangkan apa yang terjadi. Ada pembaca yang menyukai bahasa semacam itu, dan ungkapan tersebut bisa berhasil jika maknanya sudah dibangun sepanjang cerita. Kata sulit tidak otomatis buruk. Pertanyaannya adalah siapa pembacanya dan seberapa banyak petunjuk yang diberikan.

Makalah Reber, Schwarz, dan Winkielman pada 2004 meninjau hubungan antara rasa mudah dalam memproses informasi dan penilaian estetis. Konsep ini disebut “kelancaran pemrosesan”. Namun, penelitian itu tidak membuktikan bahwa memasangkan kata kerja sederhana dengan objek yang megah menghasilkan ungkapan paling keren.

Ungkapan seperti “mengubah segalanya”, “menghubungkan ke masa depan”, atau “terus melindungi” terasa cocok untuk iklan, barangkali karena gambaran atau pesannya mudah saya tangkap. Di sisi lain, karena sudah akrab, ungkapan itu kadang kurang mengejutkan. Daya tarik kata-kata tidak ditentukan oleh kemudahan membacanya saja.

Tampilkan hasilnya saja, lalu biarkan kebesaran di baliknya terbayang

“Di satu sudut kota saja, pagi tak kunjung datang.”

Pemandangan tempat yang tidak didatangi pagi bisa terbayang. Namun, tidak dijelaskan siapa yang meninggalkan tempat itu dalam malam, atau bagaimana caranya. Bagi saya, cara ini memperlihatkan apa yang terjadi tanpa memperlihatkan seberapa besar penyebabnya.

Kalau diberi nama yang agak berlebihan, gagasan itu bisa disebut “transendensi yang dapat diamati”. Ini istilah yang diciptakan di sini untuk membicarakan penulisan kreatif, bukan istilah psikologi yang sudah mapan. Alih-alih menjelaskan seluruh kemampuan suatu sosok, tunjukkan jejak yang tertinggal setelah ia lewat.

Dalam makalah tahun 2003, Keltner dan Haidt menekankan kebesaran yang luar biasa serta perasaan bahwa suatu pengalaman tidak muat dalam kerangka pemahaman kita yang lama ketika membahas rasa takjub atau awe. Kebesaran itu tidak harus bersifat fisik, dan rasa takjub juga tidak sekadar berarti takut.

Gagasan ini bisa mengingatkan saya pada kesukaan terhadap kebesaran yang tak terpahami di balik pemandangan yang bisa dipahami. Namun, itu tidak membuktikan bahwa orang yang membaca kalimat tertentu pasti merasakan takjub. Jika terlalu banyak penjelasan disembunyikan, hasilnya bisa terasa seperti kekurangan informasi, bukan kemegahan.

“悉くを殲ぼす”: perpaduan kanji dan tindakan yang menarik

Nama yang terlintas ketika membahas hal ini adalah 悉くを殲ぼすネルギガンテ dari Monster Hunter World: Iceborne. Bacaannya “ことごとくをほろぼすネルギガンテ”, atau “Kotogotoku o Horobosu Nerugigante”. Sebagai penjelasan makna, kita bisa menyebutnya “Nergigante yang membinasakan segalanya”; ini bukan nama lokalisasi resmi. Bentuk tulisannya dalam bahasa Jepang cukup sulit sehingga orang yang baru pertama melihat mungkin perlu memulai dengan mempelajari bacaannya.

悉く (ことごとく, kotogotoku) berarti “semuanya, tanpa tersisa”. 殲ぼす (ほろぼす, horobosu) membangkitkan gambaran tindakan menghancurkan. Kotogotoku yang terdengar agak formal dipasangkan dengan kata kerja yang memperlihatkan apa yang dilakukan sosok tersebut. Bagi saya, itu membuat sesuatu seolah akan terjadi di balik nama tersebut, bukan hanya mengandalkan kepadatan kanji.

Sebagai perbandingan, mari membuat “万象悉皆を不可逆的滅尽へ導く終焉古龍”, kira-kira “naga tua akhir zaman yang menggiring seluruh wujud tanpa kecuali menuju pemusnahan total yang tak dapat dibalikkan”. Ini bukan nama resmi dalam gim, melainkan contoh rekaan yang ditumpuki segala kemegahan yang bisa ditambahkan. Memang terdengar hebat, tetapi di tengah jalan saya ingin bertanya, “Jadi, naga ini sebenarnya ngapain?”

“Melahap”, “merobek”, “mengaum”, “jatuh”, dan “menari” juga memperlihatkan tindakan. “Membakar habis” dan “membuat membeku” bahkan memudahkan kita membayangkan pemandangan yang tersisa sesudahnya. Namun, menumpuk kata-kata keras tidak otomatis membuat ungkapan semakin menarik. Ringannya kata seperti “menari” justru bisa berpengaruh ketika dipasangkan dengan sosok yang sangat besar.

Saat memikirkan nama, sebelum menambah aksara sulit, saya ingin bertanya dulu: “Pembaca bisa membayangkan sosok ini sedang melakukan apa?”

Kadang “sebagian” lebih menyeramkan daripada “segalanya”

Memperbesar skala tidak selalu memperkuat kesan. Mari bandingkan beberapa contoh rekaan berikut.

  • Membuat sebagian Shibuya membeku
  • Mengurung satu sudut Shinjuku di dalam malam
  • Waktu berhenti hanya di sebagian Ikebukuro
  • Tak seorang pun bisa mengingat sebagian Kyoto lagi

“Dunia menghilang” juga besar. Namun, ketika dibatasi menjadi “hanya sebagian”, batas dengan tempat yang masih tersisa justru menarik perhatian. Mengapa hanya di situ? Mulai dari titik mana keadaan tidak lagi normal? Nama kota membantu menempatkan keanehan itu dalam pemandangan yang terasa dekat.

Menurut selera saya, “menghancurkan semuanya” mendekati mitos, sedangkan “hanya satu sudut yang berubah” mendekati keanehan gaib. Ini kesan ketika kata-katanya diganti, bukan sistem penggolongan karya. Perubahan setempat pun bisa membangkitkan bayangan tentang ketepatan penggunaan kekuatan yang menakutkan, atau cara memilih sasaran yang tidak kita pahami.

Apalagi “sebagian” sangat administratif dalam keseharian. “Sebagian sudah saya revisi.” “Sebagian masih diperiksa.” Penentuan cakupan yang biasa saja itu mendadak terasa menyeramkan ketika disambungkan dengan “membuat membeku”. Perbedaan suasana itulah yang menarik.

Uji kesan bunyinya dengan mengucapkannya

Selera bukan hanya soal makna, melainkan juga bunyi. Ketika mengucapkan 凍てつかせる, yang dibaca いてつかせる (ite-tsuka-seru, “membuat membeku”), saya merasakan kekakuan seperti ada potongan-potongan kecil di tengahnya. Pengulangan dalam ことごとく (kotogotoku, “tanpa kecuali”) terasa seperti datang bertubi-tubi.

Yang didengarkan di sini adalah bunyi bahasa Jepang. Dalam nama ini, 殲ぼす dibaca ほろぼす (horobosu). Untuk menjelaskan kesan bunyinya, saya tidak mencampurkannya dengan bacaan Sino-Jepang aksara tersebut, せん (sen). Menerjemahkan maknanya ke bahasa lain juga tidak memindahkan bunyi yang sama secara utuh.

Penelitian tentang hubungan bunyi dan bentuk mencakup efek bouba/kiki: orang cenderung menghubungkan “bouba” dengan bentuk membulat dan “kiki” dengan bentuk bersudut. Eksperimen Ćwiek dan rekan-rekannya yang mencakup 25 bahasa juga menemukan hubungan itu secara keseluruhan. Namun, ini tidak berarti setiap bahasa atau setiap orang menunjukkan hasil yang sama.

Penelitian itu tidak menghasilkan daftar bunyi Jepang yang menyatakan “き・け・く (ki, ke, ku) pasti tajam”, “が・ぐ・ど (ga, gu, do) pasti berat”, atau “しん・りん (shin, rin) pasti dingin”. Saya ingin memisahkan kesan pribadi tentang bunyi dari apa yang benar-benar telah diuji oleh penelitian.

Untuk mencobanya saat menulis, ucapkan beberapa pilihan yang maknanya berdekatan: 凍らせる (kōraseru, “membekukan”) dan 凍てつかせる (ite-tsuka-seru, “membuat membeku”); 全て (subete, “semuanya”) dan ことごとく (kotogotoku, “semuanya tanpa kecuali”). Dengarkan panjangnya, pengulangannya, dan titik-titik tertahannya ucapan, lalu pilih yang cocok dengan adegan. Membandingkannya sekaligus dengan gaya bicara tokoh serta dialog sebelum dan sesudahnya lebih berguna daripada mencari aturan bunyi semata.

Di antara kemegahan dan urusan kantor, lahirlah lelucon

Dari “meninggalkan segalanya” menjadi “memeriksa segalanya”. Bentuk kalimat Jepangnya hampir tetap, tetapi kata kerja di akhirnya diganti, dan tokoh utama mendadak menjadi kepala seksi.

A: “Menurutku, kata-kata keren itu tinggal pakai pola ‘melakukan sesuatu terhadap segalanya’.”
B: “Coba.”
A: “Meninggalkan segalanya.”
B: “Bab terakhir sang tokoh utama.”
A: “Mengembalikan segalanya pada ketiadaan.”
B: “Bos terakhir.”
A: “Memercayakan segalanya kepada orang lain.”
B: “Tokoh utama generasi sebelumnya.”
A: “Memeriksa segalanya.”
B: “Mendadak kepala seksi.”
A: “Membagikan segalanya.”
B: “Rapat sudah dimulai.”
A: “Membuat segalanya terlihat.”
B: “Konsultannya datang.”
A: “Mengembalikan segalanya untuk direvisi.”
B: “Bos terakhir dengan proses persetujuan yang panjang.”
A: “Atasan yang mengembalikan semuanya tanpa kecuali.”
B: “Sepertinya lebih sulit dihadapi daripada Nergigante.”

Dalam percakapan kecil ini, pembuka megah 全てを (subete o, “segalanya” sebagai objek tindakan yang menyusul) membangun harapan, lalu istilah kantor di belakangnya menggeser harapan tersebut. Setelah pola yang sama diulang beberapa kali, kita mengira tokoh besar dalam cerita akan muncul lagi. Ternyata yang datang justru pemeriksaan atau berbagi informasi, dan adegannya berpindah ke ruang rapat.

Bisa juga dicoba dengan “merangkum dalam Excel”, “mengubah menjadi PDF”, atau “membawa pulang dulu untuk dibahas secara internal”. “Membawa segalanya pulang dulu untuk dibahas secara internal” terdengar seperti perlu koordinasi perusahaan sebelum menyelamatkan dunia. Bahasa kerja tidak buruk dengan sendirinya; perpaduannya dengan nada megah yang menciptakan lelucon.

Kata kerja administratif pun bisa terasa ilahi jika objeknya diganti

Lantas, apakah “menyetujui”, “mengembalikan”, dan “merapikan” tidak bisa dipakai untuk kalimat yang keren? Ganti objeknya, dan pemandangannya berubah lagi.

  • Menyetujui dokumen → Menyetujui kehancuran
  • Mengembalikan permohonan → Mengembalikan takdir
  • Merapikan bahan → Merapikan kontradiksi dunia

“Menyetujui kehancuran” memberi kesan bahwa akhir dunia pun memiliki prosedur, dan ada sosok yang bisa mengizinkannya. “Mengembalikan takdir” memberi kesan seseorang menolak menerima akhir yang seharusnya sudah diputuskan. “Merapikan kontradiksi dunia” membuat sang pencipta tampak sedikit administratif.

Kata kerja yang sama menjadi pekerjaan jika objeknya dokumen, surel, Excel, atau rapat. Jika objeknya ingatan, rasa sakit, janji, rasa bersalah, nama, atau kawan, ungkapan itu mendekati kisah manusia. Jika objeknya zaman, takdir, kematian, malam, batas, atau hukum dunia, ukuran hal yang ditangani pun berubah.

Pasangan seperti ini juga melahirkan ungkapan yang sulit dipastikan apakah khidmat atau administratif: “membuat nama dewa yang tak terlihat menjadi terlihat”, “membagikan sebagian mimpi”, atau “memeriksa spesifikasi kematian”. Apakah yang muncul kelucuan atau rasa ngeri juga bergantung pada seberapa lumrah prosedur semacam itu di dunia tersebut.

Makalah Trope dan Liberman pada 2010 meninjau hubungan antara jarak psikologis, misalnya dalam waktu atau tempat, dan cara memahami sesuatu secara abstrak atau konkret. Namun, itu berbeda dengan kiasan dalam tulisan ini yang menyebut kata sulit “jauh” dan istilah kantor “dekat”. Penelitian tersebut tidak bisa dipakai sebagai bukti adanya jarak ideal agar suatu ungkapan terdengar keren.

Yang ingin saya coba dalam memilih kata adalah mempertahankan pijakan yang dapat dibayangkan pembaca, lalu sedikit menggeser hal yang ditangani di atasnya. Ungkapan sesingkat “berjalan membawa malam” pun bisa membawa kita cukup jauh.

Enam pertanyaan untuk meninjau sebuah ungkapan

Mari mengubah selera yang dibahas tadi menjadi daftar pertanyaan saat menulis. Ini alat untuk membandingkan pilihan, bukan tabel nilai atau rumus ilmiah.

  1. Apakah tindakannya terlihat? Sisakan gerak yang bisa dibayangkan pembaca, seperti “mengembalikan”, “menutup”, atau “berjalan”.
  2. Apa yang dikenai tindakan itu? Coba ganti apakah yang diletakkan adalah barang bawaan, masa lalu, atau kemenangan dan kekalahan itu sendiri.
  3. Apakah perlu terasa tak dapat dipulihkan? “Mengubur”, “memutus”, dan “membakar habis” membawa bobot besar. Jika adegan tidak memerlukannya, kurangi kata kuat daripada menambahnya.
  4. Seberapa jauh skalanya diperlihatkan? Bandingkan “segalanya” dengan “satu sudut kota”, lalu pilih apakah luasnya atau batasnya yang ingin ditinggalkan dalam ingatan pembaca.
  5. Seberapa banyak yang dijelaskan? Tampilkan tindakan atau hasil sambil menyisakan sebagian penyebabnya. Periksa juga apakah hasilnya malah sekadar tidak bisa dipahami.
  6. Apakah cocok dengan suara dan konteksnya? Apakah tokoh itu mungkin mengatakannya? Apakah nyaman diucapkan? Apakah adegan tepat sebelumnya menopang kalimat tersebut?

Jika dikelompokkan menurut arahnya, beberapa pilihan bisa terlihat seperti ini.

  • Orang yang maju sambil memikul beban: “Terus maju, masih mendekap segalanya”; “Memikul segalanya, melangkah satu langkah saja”
  • Sosok yang melampaui semuanya: “Mengembalikan segalanya pada ketiadaan”; “Menelan segalanya”; “Melahap semuanya tanpa tersisa”
  • Orang yang sudah sampai lebih jauh: “Menjadikan segalanya masa lalu, dan tetap maju”; “Tempat yang akhirnya kami capai justru ia jadikan titik berangkat”
  • Keanehan yang hanya meninggalkan jejak: “Sebagian Stasiun Nagoya menjadi bisu”; “Hanya di stasiun itu, malam terus turun”; “Sebagian ruangan ini masih berada di hari kemarin”
  • Kata-kata yang mendarat di kantor: “Menginventarisasi segalanya”; “Menyebarkan segalanya kepada pihak terkait”; “Membawa segalanya pulang dulu untuk dibahas secara internal”

Untuk kalimat yang sedikit lebih panjang, bisa dicoba: “Ia tidak meninggalkan medan perang. Medan peranglah yang tak mampu menyusulnya”, “Dengan satu langkah itu, sebuah zaman menjadi masa lalu”, atau “Pertarungan sudah berakhir ketika kami mengira baru dimulai”. Alih-alih menjelaskan latar dunia yang besar, ungkapan itu memperlihatkan perbedaan waktu atau sudut pandang dengan orang-orang di sekitarnya.

Gerak yang melibatkan kehilangan sesuatu menghadirkan bobot berbeda, seperti “membuang nama dan melampaui batas” atau “menenggelamkan ingatan ke laut”. Tidak satu pun pasti menjadi dialog berkesan jika berdiri sendiri. Ada kata-kata yang baru bergema setelah ditopang cerita yang mendahuluinya.

Letakkan pemandangan yang sedikit tak terpahami di balik kata-kata yang dipahami

Menurut saya, “全てを置いていく”, “meninggalkan segalanya”, terdengar keren karena tindakan biasa berupa meninggalkan sesuatu akhirnya menangani masa lalu, kemenangan dan kekalahan, bahkan cerita itu sendiri. Ada pintu masuk yang bisa dicapai imajinasi pembaca, dan ada kedalaman yang tidak seluruhnya bisa diikuti.

Perpaduan itu dapat dipakai untuk nama yang terdengar perkasa maupun keanehan yang sunyi. Ganti satu kata kerja, dan perpaduan yang sama bisa menjadi rapat.

Kalau yang diucapkan “meninggalkan segalanya”, sepertinya bab terakhir akan dimulai.
Kalau yang diucapkan “membagikan segalanya”, sepertinya berbagi layar akan dimulai.

Keduanya pendek dan bisa dipahami. Yang membuat perbedaan bukan sekadar banyaknya kanji sulit. Apa yang ditangani, apa yang diperlihatkan, dan apa yang disisakan untuk imajinasi pembaca? Dengan mengubahnya satu per satu, kita lebih mudah menemukan jenis kekerenan yang kita sukai, sekaligus pergeseran yang membuat kita tertawa.

Referensi (6)

  • Reber, Schwarz, dan Winkielman (2004). Tinjauan teoretis tentang kemudahan pemrosesan informasi dan penilaian estetis. Bukan pengujian untuk menentukan ungkapan Jepang tertentu yang lebih unggul. Makalah
  • Keltner dan Haidt (2003). Makalah yang membahas rasa takjub dalam kaitannya dengan kebesaran dan kerangka pemahaman yang sudah ada. Makalah
  • Trope dan Liberman (2010). Tinjauan hubungan antara jarak psikologis dan pemahaman abstrak atau konkret. Makalah
  • Ćwiek dan rekan-rekan (terbit daring pada 2021; edisi jurnal 2022). Eksperimen efek bouba/kiki yang mencakup 25 bahasa. Makalah
  • CAPCOM. Informasi misi acara Monster Hunter World: Iceborne yang mengonfirmasi penulisan nama Jepang 悉くを殲ぼすネルギガンテ. Informasi resmi
  • Famitsu, “Kuis Kanji Monster Hunter ala Famitsu: Jawaban dan Penjelasan”. Artikel ini secara tegas menyatakan bahwa bacaan dan keterangan lainnya telah dikonfirmasi kepada Capcom. Penjelasan bacaan

Bagikan artikel ini

Jika artikel ini bermanfaat, Anda bisa mendukung situs ini. Dukung

Iklan
Iklan
Iklan

Satu lagi? Ada yang seru?

Mumpung sudah selesai membaca: beberapa cerita yang mirip dan beberapa yang beda sama sekali tapi seru.

  1. Topik serupaKenapa "Suami Harusnya", "Pacar Harusnya", dan "Namanya Keluarga" Sering Jadi Sumber Ribut
  2. Smash Ultimatekenapa menyerang duluan kalah melawan Kazuya dan K. Rool?
  3. Beda sama sekali, tapi seruMinecraftCreeper Meledakkan Segalanya, Lalu Fokus Menanam Kentang
  4. Review «Oni no Hanayome»Minggir! Akulah pengantinnya!
  5. Kaleng 500 mL kadar 9% itu benar-benar "satu"?Setara 2.6 bir
  6. Kenapa Akuarium Belut Moray di Pipa Beton Ini Seru Banget?

Baca ini hari ini

Masing-masing menjawab pertanyaan yang biasanya muncul setelah membaca artikel ini.

Lihat semua artikelLebih banyak tentang Pekerjaan

Cari artikel lain

Semua artikel

Mendoi-chan

Pengelola situs

Mendoi-chan

Mengubah kerepotan di tempat kerja dan kehidupan sehari-hari menjadi struktur yang jelas dan langkah berikutnya.